Lonjakan penerimaan Dana Bagi Hasil (DBH) minerba yang dinikmati sejumlah kabupaten dan provinsi sentra hilirisasi nikel serta bauksit dalam beberapa tahun terakhir ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, pundi-pundi kas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) mengalami surplus historis; namun di sisi lain, bayang-bayang fenomena klasik Dutch Disease mulai memperlihatkan tanda-tanda awalnya.
Ketergantungan struktural pendapatan asli daerah terhadap royalti industri ekstraktif menciptakan kerentanan anggaran yang parah ketika siklus harga komoditas global memasuki fase koreksi. Sejarah fiskal telah berulang kali mengingatkan: daerah yang paling kaya sumber daya alam sering kali menjadi wilayah yang paling terlambat membangun fondasi ekonomi berbasis pengetahuan.
Bahaya Ilusi Anggaran dan Urgensi Dana Abadi Daerah
Kelemahan paling mencolok dari pola serapan APBD di daerah penghasil tambang saat ini adalah kecenderungan alokasi belanja yang terlalu dominan pada proyek infrastruktur fisik berbiaya operasional tinggi dan belanja aparatur, sementara alokasi untuk riset agrobisnis lokal, vokasi sains, dan teknologi pangan terabaikan.
Untuk memutus siklus boom-and-bust ini, sudah saatnya pemerintah pusat melalui revisi Undang-Undang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (UU HKPD) mewajibkan pembentukan Dana Abadi Daerah (Subnational Sovereign Wealth Fund). Sebagian persentase tertentu dari surplus penerimaan tambang wajib dikunci dalam instrumen investasi syariah atau obligasi hijau jangka panjang yang imbal hasilnya hanya boleh digunakan untuk beasiswa pendidikan tinggi sains dan layanan kesehatan masyarakat miskin.
Kemakmuran sejati dari perut bumi bukanlah seberapa banyak uang yang kita belanjakan hari ini, melainkan seberapa kokoh generasi masa depan mampu berdiri mandiri ketika tambang terakhir telah ditutup.
Transisi energi hijau global adalah keniscayaan yang dinamis. Jika pemerintah daerah tidak segera mendiversifikasi struktur ekonominya ke sektor agrikultur presisi dan manufaktur bernilai tambah tinggi sejak sekarang, kemegahan hilirisasi hari ini hanya akan meninggalkan kawah galian kosong dan beban sosial yang teramat mahal bagi anak cucu kita.
Artikel ini diverifikasi dan disetujui oleh redaktur bersertifikat sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber. Ringkasan poin kunci dibantu sistem komputasi terstruktur di bawah pengawasan manusia seutuhnya.



Tulis tanggapan dengan sopan dan patuhi pedoman etika komunitas.
Masuk dengan Akun Google untuk menulis komentar Anda
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan atau opini mengenai berita ini.