Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersama holding BUMN PT Pupuk Indonesia (Persero) secara resmi meresmikan pengoperasian Kawasan Industri Pupuk Terpadu Fakfak yang berlokasi di Distrik Arguni, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.
Proyek strategis hilirisasi gas alam senilai lebih dari Rp30 triliun ini menjadi tonggak sejarah industrialisasi pertama di tanah Papua yang berfokus langsung pada penguatan fondasi kedaulatan pangan nasional.
“Pembangunan pabrik pupuk di Fakfak mendekatkan titik produksi dengan sentra-sentra lumbung pertanian baru di Merauke, Maluku, dan Sulawesi. Ongkos logistik pupuk bagi petani timur kini terpangkas signifikan,” ungkap Menteri Perindustrian saat peresmian.
Pemanfaatan Gas Teluk Bintuni dan Teknologi Prilling Modern
Kompleks manufaktur ini dirancang mampu memproduksi 1,15 juta ton pupuk urea dan 825.000 ton amonia cair per tahun, menyerap pasokan gas bumi hulu sebesar 150 MMSCFD dari sumur gas alam Tangguh di Teluk Bintuni.
Dilengkapi menara pendingin butiran (*prilling tower*) berstandar emisi ramah lingkungan dan unit penangkapan karbon dioksida terintegrasi, pabrik ini mencatatkan rasio konsumsi gas bumi paling efisien di antara seluruh fasilitas pupuk di Asia Tenggara.
Menjamin ketersediaan pupuk di pelosok tanah air adalah ikhtiar nyata melindungi kesejahteraan para petani yang menghidupi bangsa.
Kawasan industri ini juga dilengkapi dermaga pelabuhan khusus berkedalaman 16 meter yang memungkinkan kapal curah pengangkut pupuk berkapasitas 40.000 ton berlabuh langsung mengantarkan pupuk ke penjuru kepulauan nusantara.
Artikel ini diverifikasi dan disetujui oleh redaktur bersertifikat sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber. Ringkasan poin kunci dibantu sistem komputasi terstruktur di bawah pengawasan manusia seutuhnya.



Tulis tanggapan dengan sopan dan patuhi pedoman etika komunitas.
Masuk dengan Akun Google untuk menulis komentar Anda
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama menulis tanggapan atau opini terverifikasi mengenai berita ini.