Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia Pertahankan BI-Rate 5,75 Persen Demi Jangkar Stabilitas Rupiah

Keputusan bank sentral mempertegas sikap pro-stability di tengah fluktuasi imbal hasil obligasi global dan dinamika arah kebijakan suku bunga The Fed.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia periode September 2026 secara bulat memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate pada level 5,75 persen. Keputusan moneter ini disertai penetapan suku bunga Deposit Facility sebesar 5,00 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50 persen.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Jakarta menjelaskan bahwa kebijakan ini konsisten dengan fokus kebijakan moneter yang berorientasi pada stabilitas (pro-stability), khususnya dalam memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak ketidakpastian geopolitik global dan pergerakan yield obligasi US Treasury.

Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (pro-growth) melalui percepatan pembiayaan perbankan ke sektor-sektor prioritas pencipta lapangan kerja.

Ketahanan Inflasi dan Likuiditas Domestik

Data terbaru menunjukkan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) nasional per akhir September tercatat stabil pada kisaran 2,12 persen secara tahunan, jauh di bawah batas atas target sasaran pemerintah 2,5±1 persen. Stabilitas harga pangan bergejolak (volatile food) berhasil dikendalikan berkat sinergi Tim Pengendali Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID).

Penguatan instrumen operasi moneter pro-market seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) terus membukukan penyerapan modal asing portofolio yang signifikan. Cadangan devisa nasional bertahan di angka US$ 140,2 miliar, setara dengan 6,5 bulan pembiayaan impor.

Bank Indonesia terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter moneter untuk memastikan nilai tukar Rupiah bergerak stabil sesuai dengan nilai fundamentalnya di tengah volatilitas arus modal internasional.

Ke depan, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2026 akan bertengger kuat di rentang 4,9 hingga 5,7 persen, ditopang oleh konsumsi domestik yang solid serta investasi infrastruktur yang terus bergulir.

Topik:
#Bank Indonesia#BI-Rate#Kebijakan Moneter#Nilai Tukar Rupiah#Makroekonomi
Transparansi Editorial WARTA

Artikel ini diverifikasi dan disetujui oleh redaktur bersertifikat sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber. Ringkasan poin kunci dibantu sistem komputasi terstruktur di bawah pengawasan manusia seutuhnya.