10 Perjanjian Giyanti Kisah Terpecahnya Kerajaan Mataram di Pulau Jawa

Perjanjian Giyanti
image by: tirto.id

Warta News – Perjanjian Giyanti menjadi awal perpecahan di kubu Mataram. Mataram merupakan Kerajaan Islam terbesar di Pulau Jawa. Kerajaan ini bertekad untuk menyatukan seluruh wilayah Jawa.

Awalnya, hampir semua wilayah Jawa telah bersatu, kecuali di wilayah Banten dan Cirebon. Pada 13 Februari 1755, Kerajaan ini terbelah menjadi 2 bagian. Bagaimana perpecahan ini bisa terjadi? Simak ulasannya berikut.

Latar Belakang Perjanjian Giyanti

Latar Belakang Perjanjian Giyanti
image by: dosenpendidikan.co.id

Perjanjian ini tidak lepas dari serentetan peristiwa besar yang menimbulkan banyak kerugian. Tidak hanya kerugian materi saja, namun juga kerugian non materi karena banyak tokoh yang gugur menjadi korban. Berikut latar belakang yang mengawali terbentuknya Perjanjian Giyanti.

1. Persiapan Perang Jenar/Mangkubumen

Kerajaan Mataram sebenarnya sudah mulai hancur dari dalam. Para petingginya saling berebut kekuasaan hingga menimbulkan perang saudara yang berkepanjangan.

Salah satunya terjadi pada peristiwa perang Jenar atau Mangkubumen. Perang ini secara garis besar membelah menjadi 2 kubu besar. Kubu pertama yaitu dari Pangeran Mangkubumi beserta seluruh pasukannya.

Kubu kedua yaitu Sunan Pakubuwono III yang bekerja sama dengan pasukan kompeni atau VOC. Pasukan Pangeran mangkubumi sebenarnya sudah hampir menang dan berhasil menguasai semua wilayah, namun masih menyisakan wilayah Bagelen (dekat dengan Banyumas dan Kebumen). Pada perebutan wilayah terakhir inilah, peperangan mulai terjadi antara 2 kubu.

2. Terjadinya Perang Jenar/Mangkubumen

Masing-masing kubu sudah mempersiapkan segala hal untuk perang. Termasuk jumlah pasukan, senjata, dan perbekalan yang cukup. Kubu dari Sunan Pakubuwono III terdiri atas pasukan dari Banyumas dan dibantu oleh pihak kompeni. Mereka telah siap bertempur dan menuju daerah Panjer (saat ini berubah menjadi Kebumen).

Setelah pasukan dari Pangeran mangkubumi datang, pertempuran pun terjadi, Perang saudara ini terjadi di bagian barat sungai Bogowonto-Bagelen. Perang ini begitu dahsyat sampai menimbulkan banyak korban gugur.

Terutama pada kubu kompeni, pasukannya banyak yang gugur dan hanya menyisakan sekitar 40 orang saja. Pangeran Mangkubumi bisa dikatakan keluar sebagai pemenang dalam perang ini.

3. VOC Mengajukan Perdamaian

VOC atau kompeni merasa “kalah” dalam perang ini. Beberapa tokoh besar di dalamnya telah gugur, pasukannya hanya tersisa segelintir orang saja.

Begitu juga dengan kubu Sunan Pakubuwono III, pasukan dan petingginya banyak yang gugur saat berperang. Berdasarkan pada situasi yang mencekam inilah kemudian VOC berusaha membujuk Pangeran Mangkubumi untuk berunding.

Perundingan tersebut jelas bertujuan untuk menciptakan perdamaian. Perang saudara yang terjadi di Mataram ternyata sangat berpengaruh besar pada semua hal. Tidak hanya untuk tatanan pemerintahan di dalam Mataram saja, namun juga untuk kelancaran aktivitas dagang dari VOC atau kompeni.

4. Terbentuknya Perjanjian Giyanti

Setelah cukup lama membujuk Pangeran Mangkubumi, akhirnya ditemui lah titik terang. 3 tokoh utama dalam perundingan ini yaitu, Pangeran Mangkubumi, Sunan Pakubuwono III, dan Harligh (salah satu petinggi VOC). Mereka sepakat membentuk sebuah perjanjian besar. Perjanjian ini dibuat sebagai bukti bahwa pertikaian antara mereka telah berakhir damai.

Perjanjian ini ditandatangani di Desa Janti, namun masyarakat Jawa menyebutnya sebagai Giyanti. Saat ini daerah tersebut berubah menjadi Dukuh Kerten, Kecamatan Jantiharjo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sejak tanggal 13 Februari 1755 itulah, perang saudara di Mataram berhasil diredam untuk “sementara”.

Isi Perjanjian Giyanti

Perjanjian Giyanti akhirnya telah berhasil dibentuk dan resmi ditandatangani oleh pihak terkait. Berikut isi dari perjanjian tersebut:

1. Pasal 1

Pangeran Mangkubumi mendapat gelar baru yaitu Sultan Hamengkubuwana Senapati ing Alaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah.

Pangeran Mangkubumi mendapatkan hak dari sebagian wilayah Kesultanan Mataram, dan bisa diwariskan pada keturunannya yaitu Pangeran Adipati Anom Bendoro Raden Mas Sundoro.

2. Pasal 2

Rakyat yang berada di bawah naungan VOC akan diupayakan menjalin kegiatan kerjasama kepada rakyat yang ada di bawah naungan kesultanan.

3. Pasal 3

Pepatih Dalem atau Rijks-Bestuurder serta Bupati, harus berjanji dan bersumpah akan setia kepada VOC, sumpah ini disaksikan oleh Gubernur.

Setelah itu, mereka boleh melaksanakan tugas dan wewenang masing-masing. Pepatih Dalem merupakan pemimpin yang menjalankan tugas eksekutif, tugas ini harus berdasarkan persetujuan Gubernur.

4. Pasal 4

Sri Sultan tidak diperbolehkan mengangkat atau memberhentikan kekuasaan Pepatih Dalem atau Bupati. Semua keputusan tersebut harus melalui persetujuan VOC.

5. Pasal 5

Sri Sultan harus mengampuni Bupati yang telah bergabung atau memihak pada VOC selama masa peperangan.

6. Pasal 6

Sri Sultan tidak diperbolehkan menuntut haknya terhadap wilayah Madura dan daerah pesisirnya, karena wilayah tersebut telah diserahkan Sri Sunan Pakubuwono II untuk VOC.

Penyerahan tersebut terjadi pada tanggal 18 Mei 1746. Namun sebaliknya, pihak VOC memberikan 10.000 real per tahun sebagai bentuk ganti rugi kepada Sri Sultan.

7. Pasal 7

Sri Sultan harus bersedia membantu Sri Sunan Pakubuwono III jika suatu saat diperlukan.

8. Pasal 8

Sri Sultan telah berjanji, akan menjual bahan makanan kepada VOC dengan harga yang sudah ditentukan.

9. Pasal 9

Sri Sultan telah berjanji akan mematuhi semua perjanjian yang sudah dilakukan oleh para pendahulu Mataram bersama VOC. Lebih khusus untuk perjanjian yang terjadi pada tahun 1705, 1733, 1743, 1746, serta 1749.

10. Penutup

Perjanjian ini telah ditandatangani oleh N. Hartingh, J.J. Steenmulder, W. Fockens, C. Donkel dan W. Van Ossenberch dari kubu VOC.

Dampak Perjanjian Giyanti

Perjanjian Giyanti telah selesai dibuat dan ditandatangani oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Namun rupanya perjanjian ini justru menimbulkan konflik baru yang semakin memicu terjadinya perpecahan yang semakin besar di dalam Kerajaan Mataram.

Dampak yang terjadi diantaranya yaitu:

1. Perlawanan dari Raden Mas Said

Dampak yang paling nyata adalah timbulnya perlawanan dari Raden Mas Said. Hal ini karena ia tidak dilibatkan dalam merumuskan perjanjian.

Padahal, Raden Mas Said sudah ikut membantu Pangeran Mangkubumi saat Perang Jenar berlangsung. Namun sebaliknya, Pangeran Mangkubumi merasa Raden Mas Said adalah saingan terberat dalam merebut kekuasaan.

2. VOC Semakin Berkuasa

Perjanjian Giyanti sebenarnya tidak lebih dari sekedar trik yang terselubung. VOC mengusulkan pembagian kekuasaan kepada 2 petinggi Mataram agar terlihat bijaksana.

Namun dibalik itu, wilayah kekuasaan lain tetap dikuasai VOC, bahkan semakin luas. Kerajaan Mataram yang sudah terbelah itu secara tidak sadar berada di bawah tekanan VOC.

Tokoh Perjanjian Giyanti

Banyak tokoh yang berperan dalam konflik panjang ini, mulai dari Perang Jenar/Mangkubumen hingga Perjanjian Giyanti selesai dibuat. Tokoh-tokoh tersebut diantaranya:

1. Kubu Pangeran Mangkubumi

a. Pangeran Natakusuma
b. Tumenggung Ronggo

2. Kubu VOC / Kompeni

a. Nicholas Hartingh
b. Hendrik Breton
c. Kapten C. Denkel
d. W. Fockens

Harapan agar Perjanjian Giyanti menjadi akhir dari peperangan yang terjadi rupanya hanya isapan jempol belaka. Setelah perundingan besar tersebut, muncul kembali konflik yang lebih besar.

Konflik tersebut kemudian melahirkan perjanjian baru dan mengakibatkan Kerajaan Mataram kembali terpecah lebih dari 2 wilayah.