3 Peninggalan Kerajaan Tidore dan Masa Kejayaannya yang Penuh Nilai Sejarah

Peninggalan Kerajaan Tidore
Image by: sejarahlengkap.com

Warta News – Peninggalan Kerajaan Tidore, Salah satu kerajaan Islam yang pernah mencapai kejayaan besarnya di Maluku.

Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya saat Sultan Nuku memerintah pada tahun 1780-1805, saat itu ia bersama Ternate berhasil mengusir Belanda dari Maluku.

Sayangnya, kerajaan runtuh karena Belanda yang kemudian menggunakan politik adu domba.

Selain itu, kerajaan yang berada di Maluku Utara ini menyisakan sejarah yang bisa dipelajari dan dinikmati hingga saat ini.

Peninggalan Kerajaan Tidore (Masa Kejayaan Abad ke-16 sampai ke-18)

Apa sajakah peninggalan Kerajaan Tidore? Anda bisa mengetahui jawabannya melalui ulasan berikut ini.

Benteng Tore

benteng tore
image by: http://noviabmustafa.blogspot.com/2018/04/benteng-tore-tidore.html

Sejarah Pembangunan Benteng Tore

Benteng Tore merupakan peninggalan penjajah Portugis yang dibangun pada tahun 1512. Benteng yang berada di Soa Sio, Kota Tidore, Provinsi Maluku Utara ini dibangun Portugis atas izin Sultan Gapi Baguna.

Letaknya pun tidak jauh dari Istana Kie (Kadato Kie) dan makam Sultan Zainul Abidin yang memimpin Tidore pada tahun 1805 – 1810.

Nama benteng Tore kemungkinan diambil dari nama Kapten Portugis pada saat itu, Hernando De La Tore yang memimpin saat datang ke Maluku.

Fungsi Benteng Benteng Tore

Letak benteng Tore yang tidak terlalu jauh dengan Kadato Kie, membuatnya dijadikan tempat mengawasi kapal-kapal berlabuh yang hendak menyerang markas Portugis saat itu.

Benteng ini juga menjadi saksi bisu kedatangan bangsa Eropa yang dimulai dari Portugis sekaligus menjadi bukti kerajaan Islam di Maluku yang pernah berdiri dan berjaya di masanya.

Benteng Tahula

Benteng Tahula
image by: backpackerjakarta.com

Sejarah Pembangunan Benteng Tahula

Satu tahun setelah Spanyol menaklukan Tidore (tahun 1607), Juan de Esquivel selaku gubernur Spanyol Pertama di Maluku hendak membangun sebuah benteng.

Namun, saat itu tenaga kerja di Tidore tidak cukup memadai sehingga pembangunannya tidak terlaksana sampai akhir pemerintahan de Esquivel tahun 1609.

Tahun 1610 saat Cristobal de Azcqueta Menchacha menjabat sebagai gubernur Spanyol, pembangunan benteng yang dikenal pula dengan nama Tohula (Kota Hula) ini akhirnya mulai dibangun dan diberi nama oleh beliau benteng Santiago de los Caballeros de Tidore.

Karena masih banyak bagian yang belum selesai, pembangunan benteng kemudian dilanjutkan lebih intensif di era gubernur selanjutnya, yaitu Don Jerinimo de Silva.

Pembangunan benteng selesai oleh gubernur yang menjabat sekitar tahun 1612 – 1617 tersebut, olehnya nama benteng berubah menjadi Sanctiago Caualleros de los de la de ysla Tidore.

Sekarang benteng ini dikenal dengan nama benteng Tahula sebagai peninggalan bersejarah Kerajaan Tidore.

Fungsi Benteng Benteng Tahula

Pada saat itu, benteng ini digunakan untuk melindungi kapal-kapal Spanyol yang sedang berlabuh sehingga di dalamnya terdapat artileri yang lengkap bersama 50 orang tentara Spanyol.

Benteng Tahula digunakan Spanyol sampai tahun 1662 sebelum akhirnya terusir karena dikalahkan oleh Belanda. Belanda datang bertujuan untuk mengambil alih wilayah Maluku Utara.

Belanda yang saat itu sampai di Maluku dan berkuasa meminta Sultan Tidore untuk menghancurkan benteng ini di tahun 1707, atau setelah kepergian bangsa Spanyol.

Namun, Sultan Hamzah Fahroedin (1658 – 1700) meminta benteng ini dipertahankan sebagai tempat tinggal kerajaan walaupun separuhnya sudah dibongkar.

Kadato Kie (Istana Kie)

Kadato Kie
image by: https://coffeeoriental.files.wordpress.com

Sejarah Pembangunan Kadato Kie

Kedaton Kesultanan Tidore (Kadato Kie) dibangun tahun 1812 pada masa pemerintahan Muhammad Tahir Muijuddin selaku Sultan Tidore yang ke-28 (1810-1821). Pembangunan istana ini memakan waktu hingga 50 tahun yang dikerjakan secara bertahap.

Keraton ini dirusak total pada akhir masa pemerintahan Sultan Syahjuan pada 1912 karena kesalahpahaman akibat politik devide et impera (politik adu domba) yang dilakukan oleh Belanda.

Berdasarkan buku karya M Amin Faaroek, selaku Jojau (Perdana Menteri Kesultanan Tidore) diterangkan bahwa Muhammad Tahir sebelum naik takhta menjadi Sultan Tidore adalah seorang seniman. Maka tak heran, desain Kadato Kie dikerjakan oleh Sultan Muhammad Tahir dan bekerja sama dengan ulama setempat.

Pengaruh ulama saat itu sangat kuat di Tidore sehingga Sultan Muhammad Tahir mengirim utusan ke wilayah-wilayah kerajaan.

Hal tersebut dilakukan untuk menyampaikan bahwa kerajaan hendak membangun sebuah masjid dan kedaton di Soa Sio (ibukota Tidore).

Masjid dan kedaton yang dibangun pun akan lebih baik dan besar dari yang sudah ada. Contohnya Masjid Sultan yang dibangun pada 1710 dan dua masjid lainnya yang berada di Toloa Gamlamo.

Pembangunan kedaton ini terbilang dapat selesai tepat waktu karena menghadirkan tenaga kerja dari berbagai daerah seperti dari Weda, Patani, Maba, dan Raja Ampat. Pembangunan pun dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

Fungsi Kedaton Kadato Kie

Kedaton ini dikenal dengan arsitektur Tidore Lang Kie Jiko Sorabi dengan bentuk bangunan menyerupai kalajengking jantan atau dalam bahasa Tidore disebut hai mole. Pembangunan istana dipimpin kepala tukang dari Soa Kipu.

Kadato Kie dijadikan sebagai istana Kerajaan Tidore yang menyimpan harta benda berharga peninggalan kerajaan dari masa ke masa.
Kedaton Dirusak Akibat Adu Domba Belanda

Pengrusakan istana terjadi pada 1912 dan dilakukan oleh para pangeran dan keluarganya beserta Jojau Muhammad Alting (Nau Cenge).

Saat Sultan Syahjudan wafat pada 1905, ada seorang lelaki bernama Besi yang sangat berambisi menjadi Sultan Tidore Berikutnya.

Besi memiliki pendukung cukup besar mulai dari Maba, Patani, dan Weda sehingga jumlah pendukungnya cukup besar.

Para pendukung Besi tersebut terkonsentrasi di Gita dan mempersiapkan strategi untuk menyerang Tidore.

Orang Tomalou dari Gita mendatangi Jojau Muhammad Alting dan menyampaikan bahwa Besi memiliki pasukan cukup banyak.

Tak hanya itu, perbekalan dan persenjataan pun cukup lengkap untuk menyerang Tidore. Adanya kabar tersebut membuat Jojau Muhammad Alting (Nau Cenge) akhirnya panik lalu membuat sebuah keputusan.

Jojau Muhammad Alting (Nau Cenge) pun mengutus beberapa pangeran dan bobato adat untuk menuju ke Kerajaan Ternate. Tujuannya adalah untuk meminta bantuan dari penyerangan yang direncanakan.

Konteler Ternate yang menerima laporan tersebut kemudian mengirimkan bantuan ke Tidore untuk menghalau Besi dan massa pendukungnya yang dikabarkan akan menyerang Tidore.

Namun, pada subuh saat itu Kadaton Kie sudah diratakan oleh Jojau Muhammad Alting beserta keluarga besar kerajaan. Sedangkan harta benda milik istana tersebut telah diungsikan keluar sebelumnya.

Jojau M Amin Faaroek mengutip dalam bukunya atas kejadian tersebut, “Apa mau dikata, penyesalan tiada berguna.

Kadato Kie telah rata dengan tanah beserta puing-puing bangunan yang berserakan, namun Besi tak kunjung tiba.”

Meski demikian, terdapat jejak peninggalan kerajaan Tidore yang masih bisa dilihat sampai saat ini, karena disimpan di sebuah museum bernama Sonyinge Malige. Museum tersebut berada di lantai dasar Kadato Kie.

Peninggalan Kerajaan Tidore memang memiliki nilai sejarahnya tersendiri yang bisa dijadikan pembelajaran.

Dari ulasan di atas, Anda dapat memahami bahwa kedua benteng bersejarah di Tidore dibangun saat kedatangan bangsa Eropa pertama kali di Maluku.

Sedangkan istana kerajaan (Kadato Kie) harus runtuh karena politik adu domba Belanda demi menguasai daerah Maluku.