5+ Peninggalan Kerajaan Ternate Serta Penjelasannya Lengkap

Peninggalan Kerajaan Ternate
Peninggalan Kerajaan Ternate

Warta News – Peninggalan Kerajaan Ternate di Maluku Utara mencapai kejayaan gemilangnya di era Sultan Baabullah.

Kerajaan yang pernah terlibat peperangan dengan bangsa Eropa ini memiliki peran besar dalam penyebaran agama Islam di Maluku.

Bukti-bukti sejarah yang ditinggalkan pun hingga kini masih berdiri kokoh dan ramai dikunjungi.

Apa sajakah peninggalan kerajaan yang berada di Maluku Utara tersebut? Simak ulasannya berikut ini.

Sejarah Kerajaan Ternate

Kerajaan Ternate di Maluku berdiri pada tahun 1257 M. Tahun tersebut bertepatan dengan pengangkatan Baab Masyhur Mulamo sebagai raja pertamanya. Penduduk kerajaan didominasi oleh orang Halmahera yang dipimpin kepala suku (Momole).

Wilayah Ternate saat itu terdiri dari 4 kampung sehingga terdapat 4 orang Momole secara keseluruhan.

Sebagian besar penduduk Ternate adalah pedagang, sehingga kehidupan perekonomian warganya pun terbilang makmur.

Ternate sudah memiliki pasar yang beroperasi ramai sejak abad ke-13. Aktivitas perdagangan pun semakin berkembang hingga masa kejayaannya di abad ke-16.

Saat awal didirikan, Kerajaan Ternate bernama Kerajaan Gapi. Namun diubah menjadi Gam Lamo. Nama tersebut memiliki arti “Kampung Besar”.

Penggunaan nama tersebut tidak berlangsung lama, kerajaan pun diubah kembali namanya menjadi Kerajaan Ternate karena keramaian kondisi pasar di Ternate.

Benteng Peninggalan Kerajaan Ternate

Benteng Tolukko (1540)

Benteng Tolukko
image by: indonesiakaya.com

Benteng Tolukko didirikan oleh Francisco Serrao dari Portugis pada tahun 1540. Benteng yang memiliki nama lain Benteng Hollandia ini dibuat untuk markas pertahanan.

Benteng ini dijadikan markas Portugis sebagai pertahanan dari serangan Spanyol yang saat itu berada di Maluku.

Benteng ini memiliki letak yang strategis karena dekat dengan wilayah perairan dan berada di perbukitan yang lumayan tinggi. Oleh sebab itu, Benteng Tolukko sangat cocok untuk mengawasi gerak gerik Spanyol.

Benteng Oranje (1607)

Benteng Oranje
image by: ksmtour.com

Benteng Hollandia merupakan bangunan peninggalan dari Portugis di Maluku, lain halnya dengan Benteng Oranje.

Sudah bisa ditebak dari namanya, benteng ini merupakan peninggalan Belanda. Belanda saat itu sampai di Maluku dan membangun benteng ini di tahun 1607 M.

Benteng Kalamata (1540)

Benteng Kalamata
image by: https://awsimages.detik.net.id

Selain Benteng Tolukko, Benteng Kalamata juga didirikan pada tahun 1540 M. Menariknya, benteng peninggalan Kerajaan Ternate ini dibuat dari material yang sangat sederhana.

Benteng Kalamata hanya tersusun dari bebatuan sungai di sekitarnya saja. Selain itu, letak benteng yang dekat pesisir pantai membuatnya memiliki pemandangan yang menakjubkan.

Masjid Peninggalan Kerajaan Ternate

Masjid Sigi Lamo

image by: https://bujangmasjid.blogspot.com/2010/10/sigi-lamo-masjid-sultan-ternate.html

Masjid Peninggalan bersejarah Kerajaan Ternate yang sangat populer di Maluku adalah Masjid Sultan Ternate. Masjid ini dikenal pula dengan nama Masjid Besar Sigi Lamo.

Masjid yang berada di Soa Sio ini memiliki aturan yang cukup ketat bagi jamaahnya. Misalnya ketika memasuki masjid, wajib menggunakan celana panjang dan penutup kepala (kopiah) bagi jamaah pria.

Bagi perempuan dilarang untuk beribadah di masjid ini, hal ini dilakukan demi menjaga kesucian masjid. Aturan ketat dan larangan di masjid ini memang bukan tanpa sebab. Sejak dahulu keberadaan masjid di wilayah ini memang sangat dijaga kesuciannya.

Istana Peninggalan Kerajaan Ternate

Istana Sultan Ternate
image by: detik.com

Pada abad ke-19, dibangun sebuah bangunan yang digunakan oleh para sultan untuk menjalankan pemerintahan.

Bangunan itu disebut sebagai Istana Sultan Ternate. Letaknya di Kodya Ternate (Soa Siu). Istana ini masih satu komplek dengan Masjid Sultan Ternate.

Struktur bangunan istana masih berdiri kokoh hingga saat ini karena sudah mengalami pemulihan di tahun 1978. Istana tersebut menjadi peninggalan Kerajaan Ternate yang dilindungi hingga kini.

Makam Peninggalan Kerajaan Ternate

Makam Sultan Baabullah
image by: kumparan.com

Salah satu makam peninggalan Kerajaan Ternate yang banyak dikunjungi peziarah sampai saat ini adalah Makam Sultan Baabullah.

Rajayang dijuluki sultan 27 pulau ini disemayamkan di tempat khusus di dekat lereng Gunung Galamalam.

Menariknya, terdapat dua jenis tanaman rempah yang tumbuh di makam Sultan Baabullah, yaitu tanaman cengkeh dan pala.

Raja Kerajaan Ternate

Kerajaan Ternate cukup banyak mengalami pergantian kepemimpinan, yaitu sebanyak 47 kali. Banyak Sultan Ternate yang memiliki pengaruh besar terhadap di Maluku dan memperluas penyebaran agama Islam saat itu. Berikut beberapa raja terkenal peninggalan Kerajaan Ternate.

Baab Mashur Malamo

Baab Mashur Malamo menjadi raja pertama di Ternate, yaitu pada tahun 1257 -1272 Masehi.

Sebelum menjadi raja, ia adalah seorang kepala suku (Momole) yang bernama Momole Ciko.

Pengangkatan Momole Ciko menjadi raja Ternate adalah atas usulan dari Momole Guna karena melihat situasi pasar Ternate saat itu.

Momole Guna beralasan bahwa arus perdagangan Ternate saat itu sangat ramai sehingga perampok laut berpotensi menyerang. Karena itulah diangkat seorang raja di wilayah Ternate.

Zainal Abidin

Zainal Abidin memerintah di tahun 1486-1500 dan merupakan Raja Ternate pertama yang masuk Islam.

Ia menjalankan pemerintahan di Ternate sesuai dengan ajaran Islam dengan tertib dan terarah.

Sultan Zainal Abidin semakin memperdalam agama Islam di pulau Jawa dan berguru pada Sunan Giri.

Sultan Bayanullah

Takhta sultan diwariskan kepada Sultan Bayanullah setelah wafatnya Sultan Zainal Abidin. Nama-nama lain Sultan Bayanullah adalah Abu Alif, Kaixil Leliatur, dan Sultan Bolief.

Ia menjalankan pemerintahan di Ternate dengan sistem Islami meneruskan perjuangan ayahnya, Sultan Zainal Abidin.

Sultan Hidayatullah

Sultan Hidayatullah memiliki nama lain, yaitu Sultan Dayalu. Raja Ternate ini merupakan putra dari Sultan Bayanullah, sedangkan ibunya berasal dari Tidore. Saat pengangkatan takhta, Sultan Dayalu baru berusia 6 tahun.

Hal tersebut dilakukan karena sang ayah keburu meninggal sebelum ia beranjak dewasa. Pengangkatannya menjadi sultan disahkan oleh ibu dan pamannya.

Sultan Khairun Jamil

Nama lainnya adalah Sultan Hairun, ia memerintah Ternate di era 1535-1570. Ia dikenal sebagai pemimpin yang sangat tegas.

Hal tersebut dibuktikan dengan penolakannya terhadap perjanjian antara Portugis dan Kerajaan Ternate.

Sultan Hairun menjalin hubungan diplomatik yang baik dengan Kerajaan Usmani. Hal tersebut dilakukan untuk mengusir Portugis dari tanah Maluku.

Akhirnya Kerajaan Usmani membantu Ternate dengan mengirimkan persenjataan lengkap untuk berperang.

Sultan Baabulah Datu Syah

Ia merupakan Sultan Ternate yang paling terkenal karena jasanya. Sultan Baabulah berhasil membuat Ternate masuk ke era kejayaan.

Ia terhitung masih muda saat itu, namun memiliki bakat kepemimpinan yang menakjubkan. Selain itu, ia juga memiliki jiwa kepahlawanan dan keperwiraan yang patut dikagumi.

Sultan Baabullah merupakan putra Sultan Hairun. Ia sejak masih kecil, sudah dibekali oleh ayahnya ilmu agama Islam yang kuat.

Bahkan ayahnya secara khusus mendatangkan guru agama agar Sultan Baabullah dapat belajar dengan intensif.

Ternate berjaya tidak hanya dalam aspek perekonomian dan perdagangan saja, melainkan juga kehidupan beragama yang begitu berkembang.

Peninggalan Kerajaan Ternate memang menjadi bukti bahwa Ternate pernah mendominasi perdagangan di wilayah timur.

Penyebaran Islam di timur nusantara pun tidak bisa lepas dari pengaruh kerajaan yang pernah berjaya di era Sultan Baabullah ini.