7 Peninggalan Kerajaan Tarumanegara Beserta Penjelasannya Lengkap

Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Warta News – Peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang paling terkenal adalah 7 buah prasasti. Semuanya ditemukan di bagian barat Pulau Jawa.

Tarumanegara sendiri merupakan kerajaan paling tua di Pulau Jawa yang menganut ajaran agama Hindu Wisnu. Wilayah kekuasaannya adalah di Jawa bagian Barat, tepatnya di tepi aliran sungai Citarum.

Kerajaan ini berjaya pada selama kurang lebih tiga abad. Tarumanegara berdiri pada tahun 358 Masehi dan runtuh pada 669 Masehi. Penyebab keruntuhannya antara lain karena desakan dari kerajaan sriwijaya serta konflik internal di lingkungan kerajaan.

Raja Kerajaan Tarumanegara

Selama kurang lebih 300 tahun, Tarumanegara sudah berganti pemimpin sebanyak 12 kali.

No.Nama RajaBerkuasa SejakAkhir Kekuasaan
1Jayasingawarman358 M382 M
2Dharmayawarman382 M395 M
3Purnawarman395 M434 M
4Wisnuwarman434 M455 M
5Indrawarman455 M515 M
6Candrawarman515 M535 M
7Suryawarman535 M561 M
8Kertawarman561 M628 M
9Sudhawarman628 M639 M
10Hariwangsawarman639 M640 M
11Nagajayawarman640 M666 M
12Linggawarman666 M669 M

7 Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Prasasti Ciaruteun

Prasasti Ciaruteun
image by: http://kisahasalusul.blogspot.com

Prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang pertama ditemukan pada 1863 di sungai Ciaruteun. Prasasti ini diberi nama sesuai dengan tempat penemuannya yaitu Ciaruteun. Orang yang pertama kali menemukan batu bersejarah ini adalah orang Belanda yang bertugas di bidang sains dan seni Batavia.

Posisi prasasti sempat mengalami perubahan dan menjadi terguling akibat diterjang arus banjir pada 1893. Namun hal itu tetap dibiarkan. Posisinya baru dibetulkan pada 1903.

Prasasti ini akhirnya dipindahkan dari sungai ke wilayah perkampungan pada 1982. Pemindahan dilakukan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ke Desa Ciaruteun Hilir, Cibungbulang, Bogor.

Prasasti ini diperkirakan dibuat pada abad ke-5 dan ditulis menggunakan huruf Pallawa. Isinya antara lain gambar telapak kaki Raja Purnawarman dan seekor laba-laba. Selain gambar, tulisan pada prasasti menceritakan tentang keberadaan kerajaan Tarumanegara.

Prasasti Jambu

Prasasti Jambu
image by: pikiran rakyat

Prasasti kedua yang ditinggalkan oleh Tarumanegara adalah Prasasti Jambu atau Pasir Koleangkak. Lokasi penemuannya ada di sebuah perkebunan bernama “Sadeng Djamboe” di bukit Koleangkak. Tempat penemuan inilah yang akhirnya dijadikan sebagai nama prasasti. Sedangkan tahun penemuannya adalah 1854.

Bentuk prasasti yang satu ini cukup unik, seperti segitiga dengan masing-masing sisi memiliki panjang kira-kira 2 hingga 3 meter. Tahun pembuatan prasasti Jambu diperkirakan sama dengan prasasti Ciaruteun, yaitu abad ke-5 Masehi.

Ditemukan gambar sepasang telapak kaki milik Raja Purnawarman pada prasasti. Isinya pun menceritakan tentang keagungan raja tersebut dalam memimpin Tarumanegara. Tulisannya menggunakan aksara Pallawa, sedangkan bahasanya adalah Sanskerta.

Prasasti Kebon Kopi

Prasasti Kebon Kopi
image by: pinterest

Prasasti selanjutnya ditemukan saat pembukaan lahan hutan yang akan dipakai untuk perkebunan kopi pada abad ke-19. Oleh sebab itu, prasasti yang satu ini diberi nama Kebon Kopi.

Sama seperti dua prasasti yang telah dijelaskan sebelumnya, Prasasti Kebon Kopi juga berisi tentang keagungan seorang Purnawarman, raja yang berkuasa di Tarumanegara. Pada prasasti ini juga terdapat gambar telapak kaki gajah di sisi kanan dan kiri.

Dalam kepercayaan Hindu, gajah merupakan hewan yang agung karena memiliki kedekatan dengan Dewa Wisnu. Gajah pada prasasti ini melambangkan Raja Purnawarman.

Prasasti Muara Cianten

Prasasti Muara Cianten
image by: http://liliaeulya.blogspot.com

Prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang keempat adalah Muara Cianten. Sayangnya, isi dari prasasti ini masih belum dapat dibaca karena kerusakan pada permukaan batu. Hal ini menyebabkan tulisannya tak dapat dilihat dengan jelas.

Namun dari sisa tulisan yang masih terlihat, Prasasti Muara Cianten ditulis menggunakan aksara ikal atau sangkha. Dilihat dari ukurannya, Prasasti Muara Cianten tidak terlalu besar. Panjangnya sekitar 270 cm, sedangkan lebar dan tingginya hanya 140 cm.

Prasasti Muara Cianten juga diberi nama berdasarkan tempat penemuannya, yaitu di tepi sungai Cianten, Kecamatan Cibungbulang, Bogor.

Prasasti Pasir Awi

Prasasti Pasir Awi ditemukan di atas sebuah bukit yang memiliki ketinggian 559 meter di atas permukaan laut. Nama bukit tersebut adalah Pasir Awi yang mengilhami penamaan prasasti. Jalan yang dilalui untuk sampai di lokasi penemuan prasasti cukup berat. Anda harus melewati jalan berbatu yang tak bisa dilalui oleh kendaraan biasa.

Setelah sampai di ujung jalan berbatu, perjalanan Anda belum usai. Masih ada tangga dengan kemiringan cukup ekstrem yang harus Anda lewati. Di ujung anak tangga, Anda bisa menjumpai Prasasti Pasir Awi.

Penemuan Prasasti Pasir Awi terjadi ketika masa penjajahan Belanda di wilayah Indonesia. Prasasti ini ditemukan oleh N.W. Hoepermans. S, seorang arkeolog Belanda yang ditugaskan di Indonesia. Selain prasasti Pasir Awi, arkeolog yang satu ini juga turut menemukan dan meneliti beberapa candi di Indonesia.

Ciri khas prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara adalah terdapat pahatan telapak kaki Raja Purnawarman. Gambar serupa juga ditemukan pada Prasasti Pasir Awi.

Prasasti Cidanghiyang

Berbeda dengan prasasti peninggalan Tarumanegara lainnya yang ditemukan di wilayah Bogor, Prasasti Cidanghiyang ditemukan di wilayah Pandeglang, Banten. Lebih tepatnya di Desa Lebak, Munjul, Pandeglang. Pengelolaannya saat ini berada diserahkan kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang.

Prasasti Cidanghiyang pertama kali ditemukan pada 1947 di pinggir aliran Sungai Cidanghiyang. Tujuh tahun berikutnya baru dilakukan penelitian lebih lanjut oleh Dinas Purbakala.

Ukuran prasasti ini cukup besar dengan panjang 3 meter, dan lebar serta tingginya masing-masing 2 meter. Tulisan yang terpahat di batu andesit ini merupakan aksara Pallawa, sedangkan bahasa yang dipakai adalah Sanskerta.

Namun tulisan yang ada di prasasti ini tidak begitu banyak, hanya ada dua baris saja. Sayangnya, beberapa bagian batu telah mengalami pengikisan dan pelapukan. Seluruh bagian prasasti juga ditumbuhi lumut sehingga menyulitkan para arkeolog dan peneliti untuk membaca tulisan yang ada.

Prasasti Tugu

Satu lagi prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang ditemukan di luar wilayah Bogor adalah Prasasti Tugu. Lokasi penemuannya adalah di Kelurahan Tugu Selatan, Koja, Jakarta Utara. Saat pertama kali ditemukan pada Maret 1879, prasasti ini hanya tampak bagian atasnya saja. Setelah dilakukan penggalian barulah tampak bentuk aslinya.

Rupanya, Prasasti Tugu merupakan prasasti peninggalan Tarumanegara dengan ukuran paling panjang. Batu bertulis ini menjelaskan tentang upaya Kerajaan Tarumanegara dalam mencegah terjadinya banjir di wilayah kekuasaannya.

Metode yang ditempuh untuk mencegah banjir tersebut yaitu melakukan penggalian Sungai Candrabaga serta Gomati untuk menambah kedalaman sungai. Sehingga sungai dapat menampung lebih banyak air dan tidak meluap ke wilayah sekitar sungai.

Penggalian sungai tersebut dilakukan sepanjang 12 kilometer, ukuran yang ditulis di prasasti adalah 6112 tombak. Upaya pencegahan banjir ternyata telah dilakukan sejak masa kekuasaan kerajaan Hindu pertama di Jawa.

Tujuh prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara di atas membuktikan bahwa Raja Purnawarman sangat diagungkan dan dipuja oleh rakyat di bawah kekuasaan Tarumanegara. Selain 7 prasasti tersebut, tidak menutup kemungkinan masih ada banyak peninggalan lainnya yang belum ditemukan.