10 Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Secara Lengkap dan Detail

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya
Image by: wikimedia.org

Warta News – Peninggalan Kerajaan Sriwijaya, Palembang adalah ibu kota Provinsi Sumatera Selatan yang pernah menjadi tempat berdirinya kerajaan kaya bernama Sriwijaya.

Seorang sejarawan Arab klasik menggambarkan Sriwijaya sebagai sebuah kekaisaran besar pada masanya, dengan wilayah yang luas, pasukan yang sangat besar, dan hubungan dagang hingga Madagaskar.

Kayu gaharu, kapur barus, cengkeh, pala, cendana, kardamunggu, dan gambir adalah beberapa produk yang dihasilkan oleh Sriwijaya. Kerajaan ini berkuasa di atas laut Sumatra hingga ke utara termasuk Selat Malaka yang strategis selama tiga abad (abad 9-11).

Candi Peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Prasasti

Beberapa peninggalan Kerajaan Sriwijaya berikut adalah bukti bahwa Nusantara pernah memiliki kerajaan besar yang terkenal hingga ke mancanegara.

Prasasti Telaga Batu

Prasasti Telaga Batu
image by: dictio.id

Prasasti ini berupa lempengan-lempengan batu yang bentuknya hampir mirip dengan bentuk pentagon (segi lima). Hanya saja, bagian atasnya tidak lancip, tapi melengkung. Dan di bagian atas ini, terdapat batu-batu kecil berjumlah tujuh buah yang berbentuk kepala kobra, dengan bagian bawah berbentuk seperti mangkuk kecil dengan cerat, yang dulunya keluar air.

Prasasti ini menyebutkan tentang kutukan bagi siapapun yang melakukan kejahatan terhadap Kedatuan Sriwijaya. Sedangkan menurut para arkeolog, prasasti ini dulunya digunakan dalam upacara kepatuhan dan kesetiaan kandidat kerajaan. Dalam prosesi ini, pejabat bersumpah untuk setia kepada Sriwijaya, kemudian meminum air mengalir yang keluar melalui cerat.

Sarana upacara ritual seperti prasasti ini biasanya ditempatkan di pusat kerajaan. Dan karena ditemukan di Palembang pada tahun 1918 M, sangat diduga bahwa Palembang adalah pusat Kerajaan Sriwijaya. Dan saat ini, prasasti tersebut dipajang di Museum Nasional Indonesia.

Keramik dan Tembikar Kuno

Petunjuk lain yang menjadi bukti bahwa Palembang adalah pusat kerajaan Sriwijaya adalah ditemukannya tembikar dan keramik di Tanjung Rawa, Talang Kikim, Kambang Unglen, dan Bukit Siguntang, semuanya di Palembang. Barang-barang semacam ini adalah alat yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari tempo dulu. Artinya, di Palembang pernah ada pemukiman kuno.

Dugaan ini semakin kuat dengan adanya foto udara yang diambil di wilayah barat Kota Palembang yang menggambarkan bentuk kanal dan kolam. Bentuknya yang teratur kemungkinan besar merupakan buatan manusia, bukan hasil dari proses alam. Dari kedua temuan ini, para arkeolog semakin yakin bahwa Palembang adalah pusat kekaisaran di masa lalu.

Prasasti Kedukan Bukit

Seorang pelatih asal Belanda bernama M. Batenburg adalah orang pertama yang menemukan prasasti ini pada 29 November 1920. Lokasi temuannya adalah tepi Sungai Tatang yang merupakan anak sungai Musi yang berada di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang.

Temuan ini adalah spesimen tertua yang masih ada dari bahasa Melayu, yang berukuran 45 cm × 80 cm, dan tertanggal 1 Mei 683 M. Prasasti ini mengandung banyak kata-kata Sanskerta dan ditulis dalam aksara Pallawa.

Isinya adalah tentang seorang utusan kerajaan bernama Dapunta Hiyang yang menaiki sampan untuk siddhayatra (melakukan perjalanan suci). Utusan ini membawa 20.000 orang bala tentera dengan bekal 200 peti di sampan dan diiringi 1312 orang yang berjalan kaki. Prasasti ini kini berada di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.

Prasasti Talang Tuwo

Prasasti Talang Tuwo adalah peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan oleh Louis Constant Westenenk pada 17 November 1920, di kaki Bukit Siguntang dekat Palembang. Prasasti ini menceritakan tentang pembentukan taman Sriksetra yang berlimpah yang diberikan oleh Sri Jayanasa (Raja Sriwijaya) untuk kesejahteraan semua makhluk.

Prasasti ini ditemukan dalam kondisi baik dengan tulisan skrip yang jelas dalam aksara Pallawa dalam bahasa Tamil (bahasa sangat kuno). Bentuknya adalah blok batu berukuran 50×80 cm, dan tertulis berasal dari 606 Saka (23 Maret 684). Prasasti ini pertama kali diterjemahkan oleh cendekiawan bernama Bosch dan Van Ronkel. Prasasti ini kemudian disimpan di Museum Nasional Indonesia sejak tahun 1920.

Prasasti Ligor

Meskipun tidak ditemukan di Palembang, tapi prasasti ini merupakan bukti kuat bahwa Kerajaan Sriwijaya memang pernah ada. Prasasti Ligor memiliki dua sisi, yaitu Ligor A dan Ligor B. Satu sisi dari prasasti ini merujuk pada Raja Agung yang termasyhur dari Sriwijaya yang merupakan raja dari segala raja dunia.

Sedangkan sisi lain mengacu pada beberapa tempat suci Buddha yang didirikan oleh Raja Sriwijaya.
Prasasti ini ditemukan di semenanjung Thailand Selatan, tepatnya di Nakhon Si Thammarat. Nama Ligor sendiri merupakan nama yang diberikan oleh orang Eropa pada abad ke-16 dan ke-17. Prasasti ini ditulis dalam Bahasa Sansekerta.

Prasasti Hujung Langit

Peninggalan Sriwijaya yang ditemukan di Lampung bernama Prasasti Hujung Langit, yang ditulis dalam huruf kapital Pallawa dan beberapa huruf Jawa. Prasasti ini terkait dengan pemberian tanah Sima untuk pemeliharaan kuil. Diperkirakan bahwa bongkahan batu yang berdiri tegak menghadap langit ini berasal dari tahun 997 M. Sedangkan pecahan-pecahan batu kecil di sekitarnya adalah sisa-sisa bangunan suci.

Prasasti Leiden

Prasasti Leiden ditulis dalam Bahasa Sansekerta dan Tamil, yang menceritakan tentang hubungan baik Raja Chola yang terkenal pada akhir abad ke-10 dan awal abad ke-11 dengan Kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini berupa lempengan tembaga, yang saat ini disimpan di Museum Belanda.

Prasasti Karang Berahi

Prasasti ini ditemukan di tepi Sungai Merangin, Jambi, oleh seorang kontrolir bernama L. Berkhout pada tahun 1904. Prasasti ini menggunakan huruf Pallawa dan Bahasa Melayu Kuno. Sejarah Prasasti Karang Berahi berisi tentang kutukan bagi orang-orang yang tidak mematuhi Raja Sriwijaya.

Candi Muara Takus

Candi Muara Takus
image by: batiqa.com

Muara Takus adalah kompleks candi yang terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan Koto Kampar, Pekanbaru, Riau. Tepatnya sekitar 135 km dari jalan utama ke Bukittinggi, dan sekitar 2,5 km dari pusat Desa Muara Takus (tidak jauh dari tepi Sungai Kampar Kanan). Kompleks ini berdiri di tengah-tengah hutan hujan Sumatera yang dikelilingi oleh dinding 74 x 74 m yang dikelilingi lagi oleh dinding tanah 1,5 x 1,5 km.

Di dalam kompleks ini ada empat candi lain yang berdekatan satu sama lain, yaitu Candi Sulung, Candi Bungsu, Candi Mahligai, Candi Palangka, dan enam bangunan lainnya. Di kompleks candi ini, ada peninggalan bersejarah kerajaan Sriwijaya yang diperkirakan telah dibangun pada abad ke-10.

Candi Muaro Jambi

Candi Muaro Jambi
image by: beritagar.id

Candi ini merupakan yang terluas di Asia Tenggara dan salah satu situs arkeologi terkaya di Pulau Sumatera, yang merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Melayu Kuno. Selama berabad-abad, situs ini telah hilang dan dilupakan jauh di dalam hutan, tapi ditemukan kembali pada tahun 1920 oleh tim ekspedisi militer Inggris.

Kompleks candi Muaro Jambi mencakup area seluas 3981 hektar di sepanjang sisi Sungai Batanghari. Ada delapan kuil utama di kompleks ini, yang semuanya terletak di area tengah dan dibentengi oleh tembok.

Karena dikenal hingga ke mancanegara, peninggalan Kerajaan Sriwijaya ternyata tidak hanya di Palembang saja ya, tapi juga di beberapa daerah lain di Indonesia bahkan ada yang ditemukan di Thailand. Paling banyak memang berupa prasasti, tapi ada juga yang berupa candi, tembikar, dan keramik.