4 Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai dan Penjelasannya Lengkap

Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai

Warta News – Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai dapat ditemukan di wilayah Aceh dan sekitarnya. Peninggalan tersebut banyak dijumpai di Kabupaten Aceh Utara dan Lhokseumawe.

Kerajaan Islam yang satu ini memang memiliki pusat di wilayah serambi Mekkah. Begitu pula dengan daerah kekuasaannya. Jadi, bukan hal aneh jika peninggalan sejarahnya hanya di temukan di sana.

Menilik sejarah, Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam pertama yang berdiri di wilayah Indonesia. Pengaruh agama Islam di Indonesia mulai terlihat di penghujung kekuasaan kerajaan Hindu dan Buddha.

Sejarah Kerajaan Samudra Pasai

Samudra Pasai
image by: sejarahkitasemua.files.wordpress.com

Kerajaan dengan basis agama Islam pertama di bumi nusantara adalah Samudra Pasai. Letaknya di wilayah ujung barat Indonesia yaitu Aceh. Samudra Pasai pertama kali berdiri pada 1267. Pendiri Samudra Pasai adalah Merah Silu yang juga menjadi raja pertama dan memiliki gelar Malikul Saleh.

Berkat pengaruh agama Islam berasal dari negara Arab yang kuat, nama gelar raja serta istilah di kerajaan menggunakan bahasa Arab. Raja di kerajaan Islam disebut sebagai sultan. Sedangkan kerajaan juga disebut kesultanan.

Kerajaan Islam pertama di Nusantara ini tidak langsung berjaya di masa awal pembentukannya. Kejayaan baru dicapai pada masa kepemimpinan Sultan Mahmud Malik Az Zahir. Pada masa inilah, Samudra Pasai banyak dikunjungi oleh beberapa tokoh penting, salah satunya yaitu Ibnu Batutah, seorang musafir dari Maroko.

Selain itu, Samudra Pasai juga menjadi poros perdagangan untuk wilayah Asia Tenggara di masa jayanya. Ada banyak pedagang dari berbagai belahan dunia berkumpul di wilayah ini untuk melakukan transaksi perdagangan. Saat itu, Pasai juga telah menggunakan mata uang yang dibuat dari emas murni.

Samudra Pasai semakin memperluas wilayahnya, termasuk menundukkan kerajaan Perlak untuk bergabung dengan Pasai. Sayangnya, masa kejayaan tak berlangsung lama. Setelah tampuk kuasa tak lagi dipegang oleh Sultan Mahmud Az Zahir, Pasai mulai redup.

Samudra Pasai berakhir karena penyerangan dari kerajaan Majapahit. Majapahit merupakan kerajaan Hindu yang berpusat di Jawa. Namun wilayah kekuasaannya sangat luas, bahkan lebih luas daripada Indonesia saat ini.

Pada 1521 juga terjadi penyerangan oleh tentara yang berasal dari Portugis. Penyerangan inilah yang benar-benar mengakhiri riwayat kerajaan Islam pertama di Nusantara. Ada banyak peninggalan Kerajaan Samudra Pasai yang ditemukan setelah runtuhnya pemerintahan yang telah berlangsung selama 3 abad. Penjelasan mengenai peninggalan tersebut ada di bawah ini.

Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai

Lonceng Cakra Donya

Lonceng Cakra Donya
image by: viva.co.id

Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai yang pertama adalah sebuah lonceng yang berukuran sangat besar. Lonceng ini memiliki nama Cakra Donya.

Seberapa besar ukuran lonceng yang satu ini? Diameternya mencapai 100 cm, sedangkan tingginya sekitar 170 cm. Sangat besar bukan? Lonceng Cakra Donya terbuat dari bahan logam perunggu dan bentuknya mirip seperti stupa.

Lonceng Cakra Donya merupakan pemberian dari Kaisar Tiongkok di abad ke-15 yaitu Kaisar Yongle. Namun Kaisar Yongle tidak menyerahkan lonceng ini sendiri melainkan menitipkannya kepada Laksamana Cheng Ho.

Pembuatan lonceng Cakra Donya dimulai pada 1409 dan selesai pada bulan ke-12 tahun kelima. Hal tersebut diketahui dari adanya tulisan yang terdapat pada lonceng. Tulisan tersebut menggunakan bahasa dan aksara Mandarin, berbunyi “Sing Fang Niat Toeng Juut Kat Yat Tjo”. Dalam bahasa Indonesia memiliki arti “Sultan Sing Fang, selesai dibuat pada bulan ke-12 tahun ke-5”.

Lonceng Cakra Donya pernah dipakai untuk berbagai macam keperluan. Pertama, lonceng ini dipasang pada kapal perang Cakra Donya. Penggunaan lonceng di kapal perang ini berlangsung pada masa pemerintahan Sultan Iskandar muda di awal abad ke-17. Pemasangan di kapal ini mengawali penamaan lonceng Cakra Donya yang disamakan dengan nama kapal perang.

Setelah tak digunakan di kapal, lonceng dipindahkan ke Masjid Baiturrahman bagian depan. Fungsinya adalah sebagai alat pemanggil untuk seluruh penghuni kesultanan untuk berkumpul dan mendengarkan maklumat dari Sultan.

Usia lonceng semakin tua dan tak digunakan lagi. Hal inilah yang mendasari pemindahan lonceng untuk ketiga kalinya. Kali ini dipindahkan ke Museum Aceh. Pemindahan terjadi pada 1915.

Dirham Kerajaan Samudra Pasai

Dirham Kerajaan Samudra Pasai
image by: made-blog.com

Samudra Pasai termasuk kesultanan yang modern karena sudah menggunakan mata uang untuk urusan jual beli. Nama mata uangnya adalah Dirham yang dibuat dari emas murni. Dahulu, mata uang kertas memang belum dikenal dan digunakan secara luas seperti saat ini.

Dirham di Kerajaan Samudra Pasai pertama kali dibuat pada masa kepemimpinan Sultan Muhammad Malik Az Zahir. Dirham tak hanya terbuat dari emas, namun juga dicampur dengan logam lainnya seperti perak dan tembaga.

Ciri khas mata uang Dirham di Pasai adalah adanya tulisan arab di kedua sisi koin. Salah satu sisinya bertuliskan nama sultan, sedangkan sisi lainnya bertuliskan “Sultan Al Adil”.

Uang dirham peninggalan Kerajaan Samudra Pasai dapat dijumpai di Museum Aceh. Beberapa kolektor barang antik juga memilikinya sebagai barang koleksi.

Surat Sultan Zainal Abidin

Surat Sultan Zainal Abidin
image by: http://blogdellyaan.blogspot.com

Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai berikutnya adalah surat yang ditulis oleh Sultan Zainal Abidin sebelum wafat. Lebih tepatnya Sultan Zainal Abidin menulis surat tersebut pada 1518 dan ditujukan kepada pimpinan Portugis di India, Kapitan Moran.

Sultan Zainal Abidin menuliskan surat menggunakan tulisan dan bahasa Arab. Surat tersebut berisi tentang kondisi terkini dari Samudra Pasai. Sebelumnya, Samudra Pasai mendapatkan serangan dari pasukan Portugis dan mengalami kekalahan.

Tidak hanya itu, surat Sultan Zainal Abidin juga bercerita tentang negeri atau wilayah lain yang bersahabat dengan Pasai. Ada dua negeri yang disebutkan dalam surat tersebut yaitu Pariaman dan Kerajaan Malaka.

Nisan Sultan Malik As-Shalih

Nisan Sultan Malik As-Shalih
image by: kanalaceh.com

Satu lagi peninggalan Kerajaan Samudra Pasai yang masih ada hingga saat ini adalah nisan di atas makam Sultan Malik As Shalih. Nisan ini terbuat dari batu dan berbentuk persegi panjang yang pipih. Bagian atasnya berbentuk seperti mahkota. Nisan tersebut ada dua buah atau sepasang yang tertancap di kedua ujung makam.

Nisan batu ini dipahat dengan tulisan berbahasa Arab, apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, tulisan tersebut berarti:
Kubur ini milik hamba yang dihormati, diampuni, bertakwa, seorang penasihat termasyhur, berketurunan, mulia, taat beribadah, dan penakluk yang memiliki gelar Sultan Malik As Shalih.

Pahatan lainnya memberikan keterangan tentang tanggal wafatnya Sultan. Sedangkan di sisi lainnya terdapat syair yang berisi tentang pesan kematian.

Makam Raja Kerajaan Samudra Pasai dan Tokoh Penting

Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai berikutnya adalah makam-makam lain dari para sultan serta tokoh penting di kesultanan. Makam yang dimaksud antara lain:

– Makam Sultan Muhammad Malik Al- Zahir, putra Sultan Malik As Salih. Letaknya ada di samping makam ayahnya.

– Makam Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah, tokoh yang pernah menjabat sebagai menteri urusan keuangan di Pasai.

– Makam Teungku Peuet Ploh Peuet, seorang ulama yang menentang pernikahan sedarah antara sultan dengan putrinya sendiri.

– Makam Nur Ilah, seorang anak perempuan dari Sultan Muhammad Malikul Dhahir.

Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai yang telah disebutkan di atas membuktikan bahwa kerajaan ini memang pernah ada di masa lalu. Keberadaan kerajaan tersebut sangat memengaruhi tatanan masyarakat di Aceh hingga saat ini.