6 Peninggalan Kerajaan Pajang Beserta Penjelasannya Lengkap

Peninggalan Kerajaan Pajang

Warta News – Peninggalan Kerajaan Pajang terdiri dari barang kesenian batik dan bangunan bersejarah. Kerajaan ini merupakan salah satu kerajaan bercorak Islam yang pernah menguasai tanah Jawa.

Tidak terlalu terkenal seperti kerajaan majapahit atau kerajaan sriwijaya, namun Kerajaan Pajang ini juga cukup menarik untuk dipelajari.

Sejarah Kerajaan Pajang

Kerajaan Pajang
image by: ilmusejarah.web.id

Berdasarkan sejarah, Kerajaan Pajang telah ada sebelum Kerajaan Majapahit runtuh. Kerajaan Pajang mulai disebut dalam kitab Negarakertagama sejak abad ke-14 M.

ketika Hayam Wuruk melakukan pemeriksaan di wilayah Barat. Sejarah Kerajaan Pajang muncul sejak adanya kerajaan kecil yang didirikan oleh tokoh Islami di wilayah Demak.

1. Pertikaian Pertama

Pada awalnya Kerajaan Pajang dipimpin oleh Ki Ageng Pengging yang menjabat sebagai Bupati pada saat itu. Namun Ki Ageng Pengging mendapat hukuman mati karena diduga akan melakukan pemberontakan terhadap kerajaan Demak. Kerajaan ini terus berlangsung dengan Jaka Tingkir sebagai adipatinya. Beliau diangkat sebagai menantu oleh Sultan Trenggono yang menjabat pada saat itu.

Tidak lama, kemudian Sultan Trenggono wafat. Setelah itulah muncul konflik dalam Kerajaan Pajang ini. Terjadi perebutan kekuasaan antara Sunan Prawoto dan Pangeran Sekar Sedolepan. Pertikaian ini dimenangkan oleh Sunan Prawoto. Tidak berhenti, pertikaian terus terjadi hingga Sunan Prawoto dibunuh oleh Arya Panangsang yang merupakan anak dari Pangeran Sekar Sedolepan.

Pertikaian masih berlanjut, Joko Tingkir yang merupakan adipati Pajang sekaligus menantu Sultan Trenggono bertempur dengan Arya Penangsang. Pertikaian ini dimenangkan oleh Joko Tingkir yang kemudian menjadi Raja. Joko Tingkir berganti gelar menjadi Sultan Hadiwijaya. Gelar tersebut merupakan gelar yang diberi oleh Sunan Giri serta pengakuan dari kerajaan Demak.

2. Pertikaian Kedua

Sejak kepemimpinan Sultan Hadiwijaya ini, Kerajaan Pajang mengalami perkembangan dan kejayaan. Adanya hubungan yang baik antar strata, perkembangan ilmu sastra, dan budaya mulai menyebar hingga ke pelosok. Namun pusat kerajaan masih tetap berada di Pajang. Untuk keberhasilan ini, Sultan Hadiwijaya memberi hadiah pada Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Penjawi yang turut berjuang.

Ki Ageng Pemanahan berkuasa di wilayah Mataram, sedangkan Ki Ageng Penjawi berkuasa di wilayah Pati. Keduanya menjabat sebagai adipati di wilayah tersebut. Berkembangnya Mataram dipimpin oleh anak dari Ki Ageng Pemanahan yang bernama Sutawijaya membuatnya enggan untuk melapor ke Sultan Hadiwijaya. Hal inilah yang menyebabkan konflik antar keluarga Kerajaan Demak muncul kembali.

Akhirnya Mataram menjadi penguasa wilayah tersebut dengan Pajang sebagai wilayah bawahannya. Bupati wilayah Pajang adalah Pangeran Gagak Baning yang merupakan adik dari Sutawijaya. Sedangkan Sutawijaya menjabat sebagai Raja pertama Kerajaan Mataram dengan gelar Panembahan Senopati.

4 Peninggalan Kerajaan Pajang

Meskipun berlangsung sangat singkat, Kerajaan Pajang telah memiliki peninggalan berupa beberapa tempat yang memiliki nilai sejarah. Tempat peninggalan Kerajaan Pajang ini terdiri dari masjid, pasar, dan makam yang dilestarikan dan menjadi tempat wisata hingga saat ini.

Masjid Laweyan

Masjid Laweyan
image by: okezone.com

Kerajaan Pajang adalah salah satu kerajaan yang bercorak Islam, sehingga masjid menjadi salah satu peninggalan yang mencirikan agama dari kerajaan tersebut. Adanya masjid ini dapat menjadi bukti bahwa pada saat itu penyebaran agama Islam sangat pesat.

Tak hanya corak islam saja, adanya pengaruh budaya hindu juga masih tercium pada bukti sejarah ini. Contohnya, Masjid Laweyan memiliki beberapa sudut yang merupakan peninggalan tempat peribadatan umat Hindu.

Masjid Laweyan ini terletak di Jl. Liris No. 1, Dusun Belukan RT 04 RW 04, Kelurahan Pajang, Kecamatan Pajang, Surakarta. Masjid ini juga sering disebut masjid Ki Ageng Henis yang terkenal di wilayah Surakarta sebagai bukti penyebaran agama Islam atau berlangsungnya kerajaan bercorak Islami pada masa lalu.

Bandar Kabanaran

bandar kabanaran
image by: abangnji.com

Bandar Kabanaran merupakan Bandar peninggalan Kerajaan Pajang. Diketahui, saat pemerintahan kerajaan tersebut, Bandar ini sangat berkembang dengan pesat. Letak Bandar ini berada di tepi sungai Jenes yang merupakan anak dari sungai Bengawan Solo. Sungai Jenes juga merupakan pembatas antara Kota Solo dan Kabupaten Sukoharjo.

Masyarakat pada zaman dahulu memberi nama sungai ini Kabanaran yang kemudian menjadi jalur utama trasportasi dan perdagangan. Jalur ini terhubung langsung ke sungai Bengawan Solo dan telah berkembang dengan pesat.

Pasar Laweyan

Pasar Laweyan
image by: tribun travel

Pasar Laweyan ini dulunya merupakan tempat tinggal orang Nglawiyan atau kumpulan orang dengan perekonomian yang tinggi. Laweyan sendiri merupakan nama yang diperoleh dari penyebutan kelompok dengan perekonomian yang tinggi tersebut. Orang Nglawiyan ini mendapatkan pendapatan yang stabil dari kerajinan batik tulis yang diperjual belikan.

Laweyan berasal dari kata Lawiyan yang memiliki arti berpindah. Awal pengucapannya adalah Ngaliyan yang seiring berjalannya waktu berubah menjadi Lawiyan. Berdasarkan wilayah, Laweyan adalah tempat berpindah masyarakat Desa Nusupan karena bencana banjir yang berasal dari Bengawan Semanggi atau Bengawan Nasupan.

Kini pasar Laweyan menjadi tempat jual beli masyarakat yang tidak hanya memperjualbelikan batik tulis saja, namun juga berbagai kebutuhan pokok. Mulai dari sayur, buah, benda dapur, baju, dan lain sebagainya tersedia disini. Pasar ini menjadi peninggalan sejarah karena dahulu memiliki aktivitas sejarah pada masa Kerajaan Pajang.

Makam Bangsawan Pajang

Makam Bangsawan Pajang
image by: solopos

Kerajaan Pajang memiliki bangsawan yang berjasa pada masanya. Sebagai tanpa penghormatan terakhir, Ki Ageng Henis menggagas untuk membuat makam yang terdiri dari berbagai bangsawan yang telah berjasa. Ki Ageng Henis adalah anak dari Ki Ageng Selo yang memiliki kesaktian menangkap petir.

Makam para bangsaran ini juga terdiri dari Raja serta keluarga yang tergolong dalam sejarah Kerajaan Pajang, seperti makam Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya. makam bangsawan ini juga memiliki keterkaitan dengan masjid Laweyan karena lahan yang digunakan berasal dari anugerah yang diberikan Ki Ageng Selo oleh Joko Tingkir.

Kesenian Batik Peninggalan Kerajaan Pajang

Tidak hanya berupa tempat, peninggalan Kerajaan Pajang juga terdiri dari kesenian, salah satunya Batik. Batik memang menjadi budaya yang sebagian besar dimiliki oleh masyarakat Jawa dan dapat diolah dalam seni, salah satunya kain atau olahan lainnya.

Kesenian yang terdapat di Pajang ini identik dengan Kampung Batik Laweyan yang telah terkenal dan kini dikelola oleh Pemerintah. Kampung ini menjadi tempat wisata bagi masyarakat dalam dan luar negeri, sangat membanggakan, bukan? Kampung ini merupakan pusat batik yang telah ada sejak zaman Kerajaan Pajang yaitu pada tahun 1546.

Sejak abad ke-14, masyarakat Desa Laweyan telah berkecimpung dalam dunia kain dan memproduksi kain berkualitas tinggi dengan motif yang tradisional. Kampung ini disebut Laweyan karena memiliki makna yang istimewa khususnya di wilayah Kerajaan Pajang.

Peninggalan Kerajaan Pajang memang identik dengan tempat-tempat dan benda yang berhubungan dengan kesenian. Tentunya peninggalan yang dikelola hingga saat ini memiliki nilai budaya yang tinggi, sehingga perlu dilestarikan dengan baik. Pastikan Anda melakukan perjalanan wisata untuk memperoleh pengalaman langsung yang berhubungan dengan Kerajaan Pajang.