8 Peninggalan Kerajaan Malaka Saksi Bisu Penyebaran Islam di Tanah Melayu

peninggalan Kerajaan Malaka
Image by: ksmtour.com

Warta News – Peninggalan Kerajaan Malaka memiliki sejarah panjang dari awal terbentuk, masa kejayaan, hingga keruntuhannya di tangan bangsa Eropa.

Kerajaan ini memberikan peran penting tersebarnya agama Islam. Terlebih di era pemerintahan Sultan Mansyur Syah. Apa saja peninggalan kerajaan yang pernah menjadi pusat perdagangan Asia Tenggara tersebut? Simak ulasannya berikut ini.

Sejarah Kerajaan Malaka

Sejarah Kerajaan Malaka
image by: grid.id

Kerajaan Malaka didirikan antara tahun 1380-1403 oleh Parameswara, seorang putra raja Kerajaan Sriwijaya. Saat Sriwijaya runtuh karena serangan kerajaan Majapahit, ia dan rombongan pengikutnya lari ke Malaka.

Raja dan pengikutnya berhasil mempengaruhi masyarakat asli Malaka karena memiliki tingkat kebudayaan yang jauh lebih tinggi. Mereka membuat daerah tersebut menjadi sebuah kota yang ramai. Mereka telah membuat warga setempat bisa memanfaatkan kekayaan alamnya dengan tepat.

Selain ramai karena aktivitas perdagangan, para pendatang juga memperkenalkan teknik bersawah dan bercocok tanam. Jenis tanaman yang dipilih adalah yang belum pernah ditanam sebelumnya di bumi Malaka. Biji-biji timah pun ditemukan sehingga semakin memperkaya daerah tersebut.

Asal muasal nama Kerajaan Malaka sendiri diambil ketika Parameswara (Raja) istirahat sehabis berburu, ia berteduh di sebuah pohon Malaka. Dari tempat sang raja berteduh itulah kawasan tersebut disebut Malaka.

4 Bangunan Peninggalan Kerajaan Malaka

Benteng a'farmosa
Image by: detik.com

Peninggalan Kerajaan Malaka diantaranya adalah masjid dan benteng yang masih kokoh berdiri hingga saat ini. Contohnya Masjid Baiturrahman yang menjadi saksi bisu dakwah Islam sekaligus bencana tsunami 2004 silam. Bangunan-bangunan bersejarah tersebut juga telah menjadi warisan budaya setempat yang wajib dilindungi.

Masjid Agung Deli

Masjid dengan nama lain Masjid Raya Al Mahmun ini terletak di kota Medan, Sumatera Utara. Masjid ini merupakan saksi bisu kehebatan suku Melayu yang terus dijaga sampai sekarang.

Masjid Raya Baiturrahman Aceh

Masjid ini dibangun pada abad ke-16 tidak hanya sebagai simbol agama. Namun juga sebagai bukti kebudayaan Melayu memiliki pengaruh besar. Pengaruhnya pun sampai ke Aceh karena letak masjid ini dekat dengan kerajaan Aceh.

Masjid Johor Baru

Terletak di wilayah Johor, Malaysia, masjid ini menjadi cagar budaya yang dilindungi pemerintah kebudayaan Malaysia. Nama Masjid Johor Baru diambil dari pendirinya, yaitu Sultan Johor yang masih keturunan dari Kerajaan Malaka.

Benteng A’Famosa

Bangunan ini menjadi saksi penaklukan Kerajaan Malaka oleh bangsa Eropa, khususnya pasukan Portugis. Benteng A’Famosa juga merupakan bangunan beraksitektur ala Eropa yang tertua di benua Asia.

Di dalam benteng tersebut juga ditemukan mata uang yang sekaligus menjadi bukti sejarah Kerajaan Malaka di bidang perdagangan.

Karya Sastra Peninggalan Kerajaan Malaka

Peninggalan Kerajaan Malaka berupa karya sastra cukup banyak karena kehidupan budaya saat itu berkembang pesat. Tokoh-tokoh kepahlawanan pun bermunculan dari Kerajaan Malaka seperti Hang Lekir dan Hang Tuah.

Perkembangan Islam di daerah Malaka (Melayu) saat itu menghasilkan karya sastra yang dibagi menjadi empat kategori, yaitu :

Hikayat

Karya sastra ini pada dasarnya memiliki konsep yang sama seperti dongeng, namun corak hikayat lebih bernuansa Islami. Karya sastra ini bisa dikatakan dongeng khusus agama Islam.

Contoh hikayat populer peninggalan Kerajaan Malaka ialah Hikayat Kepahlawanan Hang Tuah dan Hikayat Raja-raja Pasai.

Suluk

Suluk merupakan karya sastra yang berisi tasawuf mengenai keberadaan Allah SWT sebagai Tuhan yang Maha Esa. Contoh suluk populer diantaranya Suluk Wujil karya Sunan Bonang yang berisi wejangan.

Syair

Syair adalah karya sastra Islami berupa puisi lama yang terdiri dari bait 4 baris. Tiap baris tersebut berakhir dengan bunyi yang sama. Contoh syair populer diantaranya Syair Abdul Muluk, Syair Perahu, dan Syair Si Burung Pingai.

Syair-syair saat ini semakin berkembang dibawakan oleh musisi yang memiliki kepedulian terhadap peninggalan budaya melayu. Mereka membawakan syair tersebut dalam lagu-lagu populer modern.

Riwayat dan Nasihat

Kedua jenis karya sastra Islam ini berisi nilai-nilai yang sama, yaitu berisi kisah kehidupan para nabi dan rasul beserta nasihat-nasihatnya terhadap umat.

Banyak pelajaran hidup yang bisa diambil dan diteladani pada setiap kisah nabi dan rasul. Tentunya nilai-nilai keagamaan di dalamnya bermanfaat bagi kehidupan manusia di dunia dan akhirat.

Contoh riwayat dan nasihat populer peninggalan Kerajaan Malaka diantaranya Kitab Manik Maya yang berisi tentang penciptaan dunia. Selain itu, ada pula Kitab Bustanussalatin karya Ar-Raniri mengenai hukum agama.

Raja Kerajaan Malaka

Iskandar Syah (1396-1414 Masehi)

Setelah Parameswara memeluk agama Islam, ia mengubah namanya menjadi Iskandar Syah. Hal tersebut diawali karena ia banyak berinteraksi dan belajar dari pedagang-pedagang muslim. Banyaknya pedagang Muslim yang singgah di Malaka menjadi titik awal penyebaran Islam di daerah tersebut.

Pada masa pemerintahannya, ia menjalin hubungan diplomatik dan perdagangan yang baik dengan bangsa Cina. Selain menguntungkan secara ekonomi, kerjasama tersebut berdampak positif bagi keamanan Kerajaan Malaka.

Muhammad Iskandar Syah (1414-1424 Masehi)

Kepemimpinan kerajaan kemudian digantikan oleh anak dari Iskandar Syah, yaitu Muhammad Iskandar Syah. Ia kemudian menikahi seorang putri dari kerajaan Islam terbesar saat itu, yaitu Kerajaan Samudra Pasai. Pernikahan politik sultan ini bertujuan untuk menguasai jalur perdagangan dan pelayaran di selat Malaka.

Salah satu keberhasilan yang diraihnya sebagai sultan Malaka ialah memperluas daerah kekuasaan hingga seluruh semenanjung Malaka.

Sultan Mudzafat Syah (1424-1458 Masehi)

Sultan Mudzafat Syah mendapatkan kedudukan sebagai raja setelah menggulingkan kekuasaan anak dari Sultan Iskandar Syah di tahun 1424. Raja ketiga Kerajaan Malaka ini merupakan yang pertama mendapatkan gelar Sultan. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Malaka berhasil memperluas daerah kekuasaan hingga ke Kampar, Indragiri, dan Pahang.

Sultan Mansyur Syah (1458-1477 Masehi)

Ia menjadi memimpin Kerajaan Malaka menggantikan ayahnya, Sultan Mudzafat Syah. Kerajaan Malaka berada di puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Mansyur Syah. Bahkan ia mampu menaklukan kerajaan Siam. Selain itu, wilayah kekuasaan pun diperluas hingga semenanjung Malaka dan Sumatera Tengah.

Sultan Alaudin Syah (1477-1488 Masehi)

Sultan Alaudin Syah merupakan anak dari Sultan Mansyur Syah, ia menggantikan ayahnya untuk memerintah kerajaan. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Malaka mulai mengalami kemunduran karena ketidakcakapannya dalam memimpin dan membuat keputusan. Hal tersebut menyebabkan Kerajaan Malaka satu per satu kehilangan wilayah kekuasaan.

Sultan Mahmud Syah (1488-1511 Masehi)

Sultan Alaudin Syah digantikan anaknya yaitu Sultan Mahmud Syah atau dikenal pula sebagai Sultan Johor. Masa pemerintahannya merupakan masa tersuram bagi Kerajaan Malaka.

Wilayah kekuasaan kerajaan hanya tinggal sebagian kecil di Semenanjung Malaka. Pada akhirnya Kerajaan Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511.

Peninggalan Kerajaan Malaka memang memberikan nilai sejarah tersendiri khususnya dalam penyebaran Islam di tanah air. Bukti sejarahnya pun tidak hanya berupa bangunan, namun juga karya sastra otentik seperti yang disebutkan di atas dan menjadi kebanggaan orang Melayu.