13 Peninggalan Kerajaan Majapahit Lengkap dengan Penjelasannya

Peninggalan Kerajaan Majapahit
Image by: kumpulanilmu.com

Warta News – Peninggalan kerajaan majapahit atau Kisah Kerajaan Majapahit dimulai pada akhir abad ke-13, dengan Raden Wijaya sebagai pendirinya dan pemerintahan Hayam Wuruk adalah zaman keemasannya.

Kerajaan ini pernah menjadi yang terbesar dan terkaya di kawasan Asia Tenggara. Namun kejayaan ini tidak bertahan lama karena kematian Hayam Wuruk. Kehancurannya dimulai dari perang suksesi yang berlangsung selama 4 tahun pada abad ke-15.

Daftar Peninggalan Kerajaan Majapahit

Dan pada saat yang sama, terjadi persebaran Agama Islam yang membuat banyak kerajaan memeluk Islam. Sebagai umat Hindu-Budha, Majapahit tidak dapat bersaing dengan tetangga-tetangga Muslimnya, sehingga terus hancur dan benar-benar runtuh pada awal abad ke-16. Meski begitu, ada banyak peninggalan Kerajaan Majapahit yang bisa ditemukan di wilayah Jawa Timur.

Candi Tikus

candi tikus
image by: manusialembah.com

Candi ini sangat unik karena terletak di tengah-tengah air (seperti empang kecil) yang dikelilingi pagar batu bata. Posisi inilah yang membuat tikus tidak dapat masuk ke candi saat musim hujan.

Lokasi candi ini ada di Desa Temon, Kecamatan Trowulan (sekitar 13 km di sebelah tenggara Mojokerto). Meskipun sebelumnya telah terkubur, candi ini kembali ditemukan pada tahun 1914 dan diperbaiki.

Candi Bajang Ratu

Candi Bajang Ratu
image by: http://sejarahmajapahitlengkap.blogspot.com

Candi ini berbentuk seperti gapura, yang berada di Desa Temon, Kecamatan Trowulan (sekitar 600 meter dari Candi Tikus). Ahli sejarah memperkirakan situs ini dibangun pada abad ke-14 dan diberi nama Bajang Ratu pada tahun 1915.

Para ahli lain mengklaim bahwa candi ini merupakan salah satu gerbang ke Istana Majapahit. Hal ini karena fakta bahwa desain candi berbentuk gerbang paduraksa (gerbang beratap dengan tangga naik dan turun). Klaim ini diperkuat oleh fakta bahwa letak candi cukup dekat dengan situs Istana Majapahit.

Candi Brahu

Candi Brahu
image by: http://sejarahmajapahitlengkap.blogspot.com

Terletak di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Candi Brahu memiliki ketinggian sekitar 20 meter, menghadap ke barat, dan berbentuk persegi panjang. Saat ditemukan, terdapat benda-benda ritual kuno, perhiasan, hiasan emas, dan patung logam di dalam kompleks candi.

Barang-barang tersebut bertanda ajaran Budha, yang mengarah pada kesimpulan bahwa Candi Brahu adalah Kuil Budha, meskipun tidak pernah ditemukan patung Budha. Diyakini bahwa candi ini dibangun pada abad ke-15.

Candi Wringin Lawang

Candi Wringin Lawang
image by: http://sejarahmajapahitlengkap.blogspot.com

Wringin Lawang adalah gerbang semua candi di daerah Trowulan, karena para pengunjung akan menemui bangunan tua ini untuk pertama kali ketika mengunjungi komplek candi Trowulan di Kabupaten Mojokerto. Meskipun dikenal sebagai candi, tapi bangunan ini lebih mirip dengan gerbang kuno yang terbuat dari batu bata merah.

Berdasarkan cerita, bangunan ini disebut Wringin Lawang karena berada di antara dua pohon beringin (wringin). Namun sekarang, kedua pohon ini sudah tidak ada. Bangunan ini memiliki panjang 13 meter, lebar 11.5 meter, dan tinggi 13.7 meter.

Candi Surawana

Kuil Hindu ini memiliki nama resmi “Wishnubhawanapura”, yang terletak di Desa Canggu, Pare, Kediri. Konon, candi ini dibuat untuk memuliakan Bhre Wengker (Raja Kerajaan Wengker). Waktu pembangunanya sekitar abad ke-14.

Candi Surawana cukup kecil karena hanya berukuran 8 x 8 meter, yang seluruhnya terbuat dari batu andesit. Sayangnya, saat ini seluruh atap dan tubuh candi telah hilang tanpa jejak. Hanya pangkalan candi setinggi 3 meter yang tersisa di tempatnya.

Candi Wringin Branjang

Candi ini terlihat berbeda karena berbentuk seperti rumah kecil, yang diduga sebagai tempat penyimpanan alat-alat upacara pada zaman Kerajaan Majapahit. Lokasinya adalah di Kecamatan Gandusari, Blitar, tepatnya di Desa Gadungan. Umumnya, bangunan candi menghadap ke timur atau barat, tapi Candi Wringin Branjang menghadap ke selatan.

Candi Pari

Candi Pari berada di Kecamatan Porong, Sidoarjo. Candi ini dibuat dari batu bata persegi panjang, tapi dengan ambang pintu dan gerbang terbuat dari batu alam andesit. Dibangun sekitar tahun 1371 di era Raja Hayam Wuruk, kuil tua ini dibuat untuk memperingati hilangnya Joko Pandelegan (adik angkat dari salah satu Putra Prabu Brawijaya).

Gaya arsitektur Candi Pari terbilang istimewa, karena selain menunjukkan karakter Indonesia, terdapat juga ornamen yang dipengaruhi oleh budaya Campa (saat ini disebut Vietnam).

Candi Gentong

Situs ini terdiri dari dua bangunan candi yang terbuat dari bata merah. Kedua candi dibangun berjajar ke arah utara-selatan, sekitar 25 meter ke arah barat. Candi yang di sebelah selatan disebut Candi Gentong I, dan yang di arah utara disebut Candi Gentong II.

Ketika ditemukan, candi ini sudah dalam kondisi yang buruk, yaitu tinggal reruntuhan saja. Lokasinya di Desa Telogo Gede, Trowulan, Mojokerto. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diyakini bahwa Candi Gentong memiliki latar belakang agama Budha.

Kitab Negarakertagama

Dikenal juga dengan nama Desawarnana, Negarakertagama adalah kitab Jawa Kuno karangan Empu Prapanca untuk Hayam Wuruk. Dibuat pada tahun 1365 Masehi, kitab ini ditulis di atas lontar. Isinya adalah deskripsi rinci dari peninggalan Kerajaan Majapahit, seperti pentingnya agama Hindu-Budha di kerajaan Majapahit, menggambarkan kuil dan istana, serta beberapa upacara seremonial.

Kitab Sutasoma

Kitab ini ditulis oleh Empu Tantular di zaman keemasan Kekaisaran Majapahit, yaitu pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Tidak diketahui secara pasti kapan kitab ini ditulis, tapi diperkirakan di antara tahun 1365-1389. Kitab Sutasoma dianggap unik dalam sastra Jawa karena merupakan satu-satunya kitab yang beragama Budha.

Kitab Arjunawiwaha

Arjunawiwaha adalah puisi naratif panjang pertama yang disusun dalam bahasa Jawa Kuno yang muncul pada era Hindu-Budha klasik pada abad ke-11. Arjunawiwaha disusun oleh Mpu Kanwa pada masa pemerintahan Raja Airlangga, sekitar tahun 1019-1042 M.

Kitab Kutaramanawa

Kutaramanawa adalah kitab perundang-undangan Majapahit yang dikarang oleh Gajah Mada. Kitab ini memuat prinsip-prinsip penting hukum pidana dan perdata, yang meliputi bab jual beli, pembagian warisan, pernikahan dan perceraian. Kitab ini terdiri dari 275 pasal yang ditulis dalam bahasa Jawa kuno, yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal dan historis yang sangat tinggi.

Kitab Pararaton

Kitab Pararaton dikenal juga sebagai Kitab Raja-Raja atau Pustaka Raja, yaitu sebuah kronik Jawa dalam bahasa Kawi yang terdiri dari 32 halaman ukuran folio (1126 baris) berisi sejarah raja-raja kerajaan singasari dan Majapahit di Jawa Timur. Sayangnya, tidak diketahui dengan pasti siapa pengarang kitab ini.

Prasasti Hara-Hara (966 M)

Dikenal juga sebagai Prasasti Trowulan VI, prasasti ini diterbitkan oleh Wisnuwardhana pada 12 Agustus 966 M di wilayah Wurara. Salah satu prasasti dari peninggalan Kerajaan Majapahit ini berisi cerita tentang pengalihan tanah milik Mpu Mano. Tanah tersebut awalnya adalah warisan yang diberikan kepada Mpungku Nairanjana dan Mpungku Susuk Pager, tapi telah dikembalikan untuk digunakan sebagai tempat ibadah.

Prasasti Maribong

Prasasti Maribong dikenal juga sebagai prasasti Trowulan II, yang dibuat pada 28 Agustus 1264 M. Prasasti ini berisi kisah tentang Raja Wisnuwardhana yang memberikan hak kelahiran ke Desa Maribong, karenanya disebut Prasasti Maribong.

Peninggalan Kerajaan Majapahit paling banyak ternyata berupa kuil kuno alias candi, yang berada di komplek candi Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Namun, ada juga yang berupa prasasti dan kitab-kitab yang berisi berbagai macam bab.