13 Peninggalan Kerajaan Kutai Lengkap Beserta Penjelasannya

Peninggalan Kerajaan Kutai

Warta News – Peninggalan Kerajaan Kutai didirikan di Muara Kaman, Kalimantan Timur, pada sekitar abad ke-4. Berdasarkan prasasti yang ditemukan, lokasi persis kerajaan ini berada dekat dengan Sungai Mahakam.

Kerajaan Hindu-Budha tertua di Indonesia ini didirikan oleh Raja Kudungga, dengan dua raja Kutai paling terkenal adalah Mulawarman dan Aswawarman. Kerajaan besar ini meraih masa kejayaannya saat dipimpin oleh Mulawarman.

Dan mengalami keruntuhan pada sekitar tahun 1605. Kerajaan kemudian diambil alih oleh Kesultanan Kutai Kartanegara yang selanjutnya menjadi kerajaan bercorak Islam. Peninggalan Kerajaan Kutai banyak ditemukan di sekitar lokasi kerajaan di tahun-tahun yang berbeda.

Apa Saja Peninggalan Kerajaan Kutai?

Berikut adalah benda-benda yang menjadi bukti bahwa peninggalan Kerajaan Kutai pernah ada di masa lalu di Nusantara:

Kalung Ciwa

kalung ciwa
image by: pelajaran sekolah

Kalung kuno yang terbuat dari emas ini ditemukan di antara tahun 1850-1899 oleh masyarakat sekitar Danau Lipan yang berada di Kecamatan Muara Kaman pada masa pemerintahan Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Sejak diserahkan kepada Sultan Aji, Kalung Ciwa ditetapkan sebagai perhiasan kesultanan dan sering digunakan dalam setiap upacara peringatan penobatan Erau Sultan Kutai.

Kalung Uncal

Kalung Uncal
image by: waheedbaly.com

Terbuat dari emas 18 karat dan memiliki berat sekitar 170 gram, kalung ini sangat unik karena dihiasi dengan relief Ramayana, yang kemudian menjadi atribut Kerajaan Kutai Martadipura (Mulawarman).

Menurut ahli sejarah, kalung kuno ini berasal dari India, yang dalam bahasa India disebut dengan “Unchele”. Kalung ini hanya ada dua buah di dunia, satu untuk wanita dan satu untuk pria. Satu buah disimpan di Museum Mulawarman, Kota Tenggarong, dan satu lagi berada di India.

Menurut pernyataan duta besar India yang pernah datang ke Tenggarong pada tahun 1954, Kalung Uncal yang ada di Museum Mulawarman memiliki warna, bentuk, dan ukuran yang sama persis dengan Unchele di India. Karena itu, sangat besar kemungkinan bahwa Raja Mulawarman Nala Dewa merupakan salah satu keturunan raja dari India yang membawa Kalung Uncal ke Kutai.

Prasasti Yupa

Prasasti Yupa
image by: newswantara.com

Prasasti Yupa adalah sumber utama yang mengungkap sejarah Kerajaan Kutai. Yupa sendiri adalah sebuah batu besar yang berdiri (vertikal) yang di masa lalu digunakan untuk mengikat korban (manusia atau hewan) untuk dipersembahkan kepada para dewa.

Di permukaan batu ini ada serangkaian tulisan yang terukir dalam bahasa Sansekerta dan Pallawa. Tulisan tersebut banyak membahas tentang kerajaan dan kejayaan di masa Maharaja Mulawarman. Juga berisi kehidupan ekonomi, politik, sosial dan kebudayaan pada masa Kerajaan Kutai.

Namun sayangnya, 7 buah Prasasti Yupa yang masih ada sampai saat ini tidak ada yang memuat tahun pembuatannya, sehingga prasasti Yupa tidak diketahui secara jelas kapan mulai dibuat. Meski demikian, dengan membandingkan bentuk huruf, para ahli memperkirakan bahwa yupa-yupa ini berasal dari abad ke-4 Masehi.

Ketopong Sultan Kutai

Ketopong Sultan Kutai
image by: kutaikartanegara.com

Ketopong adalah sebutan untuk mahkota yang digunakan oleh Sultan Kutai. Benda ini terbuat dari emas murni dan dihiasi dengan taburan batu permata. Ada juga hiasan lain berupa ukiran kijang, bunga, dan burung. Benda ini ditemukan di daerah Muara Kaman pada tahun 1890, yang kemudian disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

Ahli sejarah memperkirakan bahwa pertengahan abad ke-19 adalah awal mula mahkota ini dibuat, dan mulai digunakan sejak pemerintahan Sultan Aji Muhammad Sulaiman (1845-1899).

Pembuatnya adalah para pandai emas khusus dari Kerajaan Kutai sendiri. Pada 22 September 2001 silam, mahkota ini sempat dipinjam oleh Sultan H.A.M. Salehuddin II untuk prosesi penobatannya sebagai Sultan Kutai Kartanegara.

Pedang Sultan Kutai

Pedang Sultan Kutai
image by: waheedbaly.com

Pedang ini merupakan salah satu senjata Kesultanan Kutai Kartanegara yang disimpan di Museum Nasional Jakarta bersama dengan mahkota kesultanan.

Senjata pusaka ini terbuat dari emas dengan berbagai dekorasi di beberapa bagian. Ada ornamen berbentuk harimau dalam posisi siap menerkam di bagian pegangan, dan ornamen buaya di bagian sarung pedang.

Meriam Kerajaan Kutai

Kedua benda ini adalah nama meriam tua dari Kerajaan Kutai yang dianggap memiliki kekuatan ghaib. Keduanya digunakan oleh Pangeran Aji Sinom Panji Mendapa Ing Martadipura (1605-1635 M) ketika terjadi perang antara kerajaan Kutai dan Kutai Kertanegara, yang akhirnya dimenangkan oleh Kutai Kertanegara.

Meriam Sri Gunung

Senjata pusaka ini pernah digunakan oleh seorang Pangeran Senopati bernama Awang Long pada tahun 1844. Meriam ini merupakan alat perang untuk mengusir invasi penjajah Inggris dan Belanda yang terjadi pada masa pemerintahan Sultan Aji Muhammad Salehudin (1782-1845 M).

Keris Bukit Kang

Keris tua ini penuh dengan fakta dan mitos. Faktanya, keris ini memiliki ukiran nama tokoh penting dari Kerajaan Kutai, yaitu Aji Putri Karang Melenu. Wanita ini merupakan permaisuri pertama dari Raja Kutai yang pertama.

Sedangkan mitos menurut sejarah, Aji Putri adalah seorang putri yang pada saat masih bayi ditemukan di dalam sebuah gong bersama dengan Keris Bukit Kang dan sebutir telur ayam. Gong tersebut berada di atas balai bambu kuning yang terletak di atas tanduk binatang aneh dari perairan Kutai.

Hewan ini memiliki tanduk menyerupai sapi yang memakai mahkota tapi bukan raja, memiliki sisik tapi bukan naga, memiliki belalai dan gading tapi bukan gajah, memiliki taji tapi bukan ayam, dan memiliki sayap tapi bukan burung. Wajahnya menyerupai raksasa tapi bukan raksasa, yang akhirnya disebut dengan “Sapi Suana”, dan kemudian digunakan sebagai simbol (maskot) dari Kabupaten Kutai Kartanegara.

Tombak Kerajaan Majapahit

Kesultanan Kutai memiliki beberapa tombak dari Kerajaan Majapahit yang kini berada di Museum Mulawarman. Tombak-tombak ini diduga memiliki kaitan antara kedua kerajaan. Salah satu hubungan yang digambarkan dalam buku Salasilah Kutai adalah Maharaja Sultan yang memerintah Kutai pada 1370-1420M mengunjungi Majapahit bersama Maharaja Sakti untuk belajar tentang bea cukai dan administrasi.

Kura-Kura Emas

Kura Kura Emas
image by: awsimages.detik.net.id

Persis seperti namanya, kura-kura emas merupakan benda kuno dari peninggalan Kerajaan Kutai yang berbentuk kura-kura berlapis emas. Ditemukan di daerah Long Lalang, dekat Sungai Mahakam, benda ini adalah salah satu hadiah lamaran dari seorang pangeran kerajaan Cina untuk putri Raja Kutai yang bernama Aji Bidah Putih.

Keramik Kuno Tiongkok

Ada ratusan keramik kuno dari Tiongkok yang ditemukan tertimbun di Danau Lipan, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Keramik ini diduga berasal dari berbagai Dinasti Kekaisaran China tempo dulu, yang menandakan bahwa ada hubungan perdagangan antara Kerajaan Kutai dan Kekaisaran China.

Kelambu Kuning

Kelambu adalah sebutan untuk kain penutup tempat tidur jaman dulu. Di dalam kelambu kuning ini, tersimpan beberapa benda pusaka milik peninggalan Kerajaan Kutai yang konon memiliki kekuatan magis, seperti patung, arca, gong, keris, dan berbagai topeng.

Gamelan Gajah Prawoto

Tersimpan rapi di Museum Mulawarman, Gamelan Gajah Prawoto adalah seperangkat gamelan kuno warisan Kerajaan Kutai yang diyakini berasal dari Pulau Jawa. Benda kuno ini kemudian menjadi bukti kuat bahwa Kerajaan Kutai pernah memiliki hubungan erat dengan kerajaan-kerajaan Jawa terutama kerajaan Majapahit.

Benda-benda peninggalan Kerajaan Kutai ada berbagai macam jenis, mulai dari perhiasan, mahkota emas, batu-batu dengan ukiran tulisan kuno, hingga alat musik dan ratusan keramik. Masing-masing menjadi saksi bisu sejarah Kerajaan Kutai dan bahkan beberapa diyakini memiliki kekuatan magis.