5 Peninggalan Kerajaan Kalingga Secara Lengkap dan Detail

Peninggalan Kerajaan Kalingga

Warta News – Peninggalan Kerajaan Kalingga memang didominasi oleh prasasti, tap ternyata, ada juga lho peninggalannya berupa bangunan. Kalingga merupakan nama yang digunakan sebelum kini berubah menjadi Jepara.

Pada zaman dahulu, Kerajaan Kalingga terkenal dengan kejujuran masyarakatnya. Ingin tahu lebih lengkap? Simak penjelasan di bawah ini yuk!

Sejarah Kerajaan Kalingga

Kerajaan Kalingga
image by: nativeindonesia.com

Kerajaan Kalingga dipimpin oleh 6 orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Seperti kerajaan pada umumnya, penetapan pemimpin tersebut diperoleh secara turun temurun. Kerajaan ini berdiri sejak 632 Masehi dan berkembang sesuai dengan karakter pemimpinnya masing-masing.

Raja Pertama

Berdasarkan sejarah, Kerajaan Kalingga ini pertama kali dipimpin oleh Santanu, kemudian Selendra, Maharani Sima, Dewi Parwati, Dewi Sannaha, dan Narayana. Kepemimpinan yang paling terkenal yaitu pada 674 M sampai 695 M. Tahun ini dipimpin oleh Maharani Sima yang sangat disiplin terhadap peraturan tentang pencurian.

Karena kebijakan yang dibuat sangat ketat dan memberikan efek jera kepada masyarakatnya, membuat masyarakat Kerajaan Kalingga memiliki sifat jujur. Hal ini terkenal hingga ke berbagai kerajaan di sekitarnya. Sikap disiplin yang dimiliki Maharani Sima tidak memandang faktor apapun, bahkan anak kandungnya sendiri mendapat hukuman karena sebuah pelanggaran.

Kepemimpinan Maharani Sima juga terkenal karena pada masa tersebut kerajaan mengalami kejayaan yang membuat pemimpin dari kerajaan lain kagum dan segan. Pemerintahan yang bagus selaras dengan kebutuhan masyarakat, membuat kerajaan ini mengalami kejayaan bahkan mengalami perkembangan kebudayaan.

Terkenal Akan Kerajaan yang Jujur dan Harmonis

Pada masa pemerintahan Maharani Sima tersebut terdapat 2 agama yang dominan, yaitu Hindu dan Budha. Keduanya mendapat tempat yang baik serta hidup dengan harmonis secara beriringan. Sehingga Maharani Sima mendapat julukan Di Hyang atau yang artinya tempat bersatunya agama Budha dan Hindu di dalamnya.

Dalam memimpin masyarakatnya, Maharani Sima selalu mengadopsi hal baik dari kebijakan yang telah ada. Hal ini diberlakukan dalam aspek pemerintahannya, salah satunya yaitu sistem pertanian yang dilakukan merujuk pada sistem pertanian di kerajaan kakak mertuanya. Hal inilah yang melahirkan istilah Tanibala atau orang yang bertani dan bercocok tanam.

Candi Peninggalan Kerajaan Kalingga

Candi Bubrah

Candi Bubrah
image by: wikipedia.com

Candi Bubrah ditemukan di wilayah Kecamatan Keling, letaknya berada di lokasi Candi Angin. Meskipun terletak dekat dengan Candi Angin, namun Candi Bubrah ini memiliki karakteristiknya sendiri.

Candi ini ditemukan pada abad ke 9 M dengan kondisi luluh lantah. Bahasa Jawa dari luluh lantah adalah Bubrah, oleh karena itu candi ini disebut sebagai candi bubrah.

Candi ini terbuat dari bahan andesit berukuran 12 m x 12 m yang memiliki corak dan kebudayaan agama Budha. Namun pada saat ditemukan, ketinggian candi ini tersisa sekitar 2 meter saja. Sehingga corak dan motif pada candi ini dapat dilihat dengan jelas karena memiliki bentuk yang terjangkau.

Candi Angin

candi angin
image by: murianews.com

Candi Angin ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling. Disebut angin karena berada di wilayah yang tinggi dan kokoh. Konon, angin yang bertiup di wilayah ini sangat kencang. Meski begitu, candi ini tetap kokoh meskipun diterpa angin kencang dalam jangka waktu yang lama. Oleh karena itu candi ini disebut Candi Angin.

Berdasarkan sejarah, candi ini dibangun sebelum Candi Borobudur. Motif yang terdapat pada candi ini berisi tentang agama masyarakat lokal sebelum masuknya agama Hindu Budha. Oleh karena itu sejarawan menyimpulkan bahwa candi ini dibangun sebelum Candi Borobudur.

Prasasti Peninggalan Kerajaan Kalingga

Prasasti Sojomerto

Prasasti ini ditemukan di wilayah Kabupaten Batang tepatnya di Dusun Sojomerto. Oleh karena itu nama yang digunakan untuk prasasti ini berasal dari tempat ditemukannya peninggalan kerajaan tersebut.

Jika diulas secara rinci, prasasti yang merupakan peninggalan Kerajaan Kalingga ini memiliki tulisan yang berbahasa Melayu kuno dan bertuliskan huruf kawi. Berdasarkan sejarah, huruf dan penggunaan bahasa tersebut merujuk pada abad ke 7 M.

Prasasti Sojomerto ini bercerita tentang Kerajaan Kalingga yang berhubungan dengan pendiri kerajaan serta penguasa setelahnya. Salah satu isi dari prasasti ini yaitu menceritakan tentang Dapunta Syailendra sebagai pendiri Kerajaan Kalingga yang masih memiliki garis keturunan Dinasti Syailendra. Syailendra sendiri merupakan penguasa di wilayah kerajaan mataram kuno.

Prasasti Upit

prasasti ini ditemukan di Desa Ngawen Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten yang kini disimpan sebagai peninggalan sejarah di Museum Purbakala. Museum ini terletak di Prambanan tepatnya di Klaten, Jawa Tengah. Bagi Anda yang ingin melihat secara langsung prasasti ini dapat berkunjung ke museum tersebut.

Prasasti ini bercerita tentang sebuah kampung bernama Upit yang bebas pajak atau perdikan. Hal ini karena anugerah yang diberikan oleh Maharani Sima yang menjabat pada saat itu. Anugerah ini diberikan sebagai simbol karena masyarakat patuh terhadap peraturan dan kebijakan pada masa kepemimpinan Maharani Sima tersebut.

Prasasti Tukmas

Prasasti ini ditemukan di Kecamatan Grabag, Magelang. Prasasti ini ditulis dengan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa dilengkapi dengan gambar yang dipahat.

Prasasti ini menunjukkan tentang aktivitas keagamaan yang terdiri dari beberapa benda. Pahatan berupa bunga teratai, kendi, trisula, kapak, dan kelasangka dimuat dalam prasasti ini.

Prasasti Tukmas yang merupakan peninggalan Kerajaan Kalingga berisi tentang sungai yang ada di lereng Gunung Merapi. Kabarnya, sungai ini airnya jernih dan bening seperti aliran sungai yang terdapat di Gangga, India. Selain hal tersebut, letak ditemukannya prasasti yang jauh dari ibukota kerajaan membuktikan bahwa wilayah kekuasaan Kerajaan Kalingga sangat luas.

Arca dan Tempat Pemujaan Peninggalan Kerajaan Kalingga

Tidak hanya berupa candi dan prasasti, Kerajaan Kalingga juga memberi peninggalan berupa arca batu. Arca batu ini terletak di Puncak Rahtawu atau di Gunung Muria.

Keempat arca batu yang terdapat di Puncak Rahtawu adalah arca Batara Guru, Togog, Narada, dan Wisnu. Masih belum ada informasi pasti terkait bagaimana arca ini bisa terdapat di Puncak Rahtawu karena medan serta massa arca yang berat.

Selain arca, Puncak Rahtawu ini juga memiliki tempat pemujaan yang digunakan masyarakat pada zaman Kerajaan Kalingga untuk beribadah. Pada zaman tersebut, masyarakat masih menganut agama lokal sehingga pemujaan yang dilakukan masih memiliki nilai-nilai kejawen. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Profesor Gunadi serta tim, di sekitar puncak ini terdapat 6 tempat pemujaan.

Professor Gunadi bersama tim yang berasal dari Balai Arkeologi Yogyakarta memberi nama tempat pemujaan atau pewayangan ini sebagai Sakutrem, Bambang Sakri, Pandu Dewanata, Jonggring Saloko, Kamunoyoso, dan Abiyoso. Keenam pewayangan ini tersebar mulai dari bawah hingga menuju ke puncak, sehingga pada saat Anda mendaki ke puncak pasti akan menemukan pewayangan.

Penjelasan tentang sejarah singkat dan peninggalan Kerajaan Kalingga di atas tentu membantu mengenal kerajaan ini, kan? Tentunya wilayah Kalingga yang kini telah berganti nama menjadi Jepara patut dimengerti dan dipahami tentang sejarahnya. Pastinya setiap candi, arca, tempat pemujaan, serta prasasti yang terdapat di Jepara kini menjadi tempat yang memiliki nilai budaya yang patut dilestarikan.