10 Peninggalan Kerajaan Demak Beserta Gambar dan Penjelasannya Lengkap

Peninggalan Kerajaan Demak

Warta News – Peninggalan Kerajaan Demak sebagian besar ditemukan di Masjid Agung Demak dan sekitarnya. Masjid Agung Demak sendiri merupakan peninggalan terbesarnya. Dilihat dari sejarahnya, Demak merupakan kerajaan Islam paling tua yang ada di Pulau Jawa.

Islam mulai masuk dan berkembang di Jawa setelah masa kejayaan Hindu dan Buddha. Bagaimana sejarah Kerajaan Demak dan apa saja peninggalan sejarah yang masih ada hingga sekarang? Simak penjelasan di bawah ini.

Sejarah Kerajaan Demak

Kerajaan Demak
image by: phinemo.com

Tahun 1475

Seorang putra hasil pernikahan Raja Majapahit dengan Putri Campa bernama Kertawijaya mendirikan Kerajaan Demak. Hal ini merupakan buntut dari semakin melemahnya kekuasaan kerajaan majapahit saat itu.

Tahun 1518

Kepemimpinan Kerjawijaya atau Raden Patah berakhir dan digantikan oleh anak laki-lakinya yang bernama Pati Unus. Sayangnya, Pati Unus gugur di tahun ketiga kepemimpinannya akibat melawan pasukan Portugis.

Tahun 1521

Tahta kesultanan Demak jatuh kepada Sultan Trenggana dan berjaya di bawah kepemimpinannya. Kepemimpinan Sultan Trenggana tak berlangsung mulus karena terjadi perselisihan dengan Pangeran Sekar. Suatu ketika Pangeran Sekar dibunuh oleh anak dari Sultan Trenggana.

Tahun 1546

Putra dari Sultan Trenggana, Sunan Prawoto memimpin Demak pasca kematian sang ayah.

Tahun 1547

Satu tahun kemudian, Sunan Prawoto dan sang istri dibunuh oleh sekelompok orang pengikut Arya Penangsang.
Arya Penangsang (Putra Pangeran Sekar) mengambil alih kursi kekuasaan Demak.

Tahun 1554

Kerajaan Demak berakhir dengan terbunuhnya Arya Penangsang di tangan Sutawijaya.

10 Peninggalan Kerajaan Demak di Pulau Jawa

Demak meninggalkan beberapa bangunan, benda, dan juga budaya setelah keruntuhannya.

Pintu Bledeg

Pintu Bledeg
image by: http://pariwisata.demakkab.go.id/?p=1266

Pintu Bledeg merupakan bahasa Jawa yang memiliki arti petir. Pintu bledek merupakan hasil karya Ki Ageng Selo. Pemberian nama Bledeg mengacu pada proses pembuatannya di mana pintu ini sengaja disambar dengan petir yang didapatkan Ki Ageng Selo melalui cara supranatural.

Pintu bledeg terbuat dari kayu jati yang dipahat dan diukir. Setelah selesai dibuat, pintu ini digunakan sebagai pintu utama Masjid Demak. Saat ini, pintu bledeg berada di Museum Masjid Agung Demak.

Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak
image by: phinemo.com

Peninggalan Kerajaan Demak yang kedua adalah Masjid Agung Demak. Pembangunnya dilakukan sekitar tahun 1479 M. Bentuk masjid yang ada saat ini berbeda dengan saat pertama kali dibuat karena telah direnovasi beberapa kali. Dahulu, Masjid Agung ini tak hanya dipakai untuk beribadah, namun juga pusat pendidikan dan penyebaran agama Islam.

Lokasi Masjid Agung Demak ada di Desa Kauman, Kecamatan Kabupaten Demak. Ukurannya cukup besar yaitu 31×31 meter. Selain itu, di tepi masjid juga terdapat serambi yang cukup luas pula berukuran 31×15 meter.

Satu fakta unik dari Masjid Agung Demak adalah memiliki banyak tiang penyangga atau “soko” dalam bahasa Jawa. Total tiang yang ada di bagian serambi dan di dalam masjid adalah 128 buah. Arsitektur masjid yang satu ini sangat ketal dengan budaya Jawa. Hal ini bisa dilihat dari penggunaan material kayu yang diukir.

Soko Guru atau Soko Tatal

Pada poin sebelumnya sudah disebutkan bahwa Masjid Agung Demak memiliki banyak tiang penyangga. Ketka awal pembangunan, dibutuhkan empat buah bernama Soko Guru yang dibuat oleh Sunan Kalijaga.

Sayangnya, pembuatan Soko Guru belum selesai hingga mendekati waktu pemasangan. Karena masih kurang satu buah tiang, Sunan Kalijaga mengumpulkan serpihan kayu (tatal dalam bahasa Jawa) untuk disatukan menjadi sebuah tiang dengan kekuatan supranatural. Tiang yang dibuat dari serpihan kayu disebut sebagai soko tatal.

Bedug dan Kentongan

Peninggalan Kerajaan Demak berikutnya adalah budaya penggunaan beduk dan ketongan. Kedua alat ini ada di masjid dan dibunyikan ketika masuk waktu sholat. Tujuannya adalah mengajak masyarakat untuk mendirikan sholat berjamaah di masjid.

Hingga saat ini, beduk dan kentongan peninggalan Demak masih ada dan tersimpan rapi. Anda bisa melihat peninggalan itu di museum yang masih masuk ke dalam kompleks Masjid Agung Demak.

Situs Kolam Wudhu

Situs Kolam Wudhu
image by: javaloka.com

Peninggalan Kerajaan Demak berikutnya adalah sebuah kolam besar yang terletak di halaman Masjid Agung Demak. Kolam ini bukanlah kolam ikan maupun hiasan melainkan kolam untuk berwudu. Wudu merupakan salah satu prosesi yang harus dilakukan umat muslim untuk menyucikan diri sebelum melakukan ibadah sholat maupun iktikaf di masjid.

Ukuran kolam tersebut cukup besar, yaitu 25×10 meter dengan kedalaman sekitar 5 meter. Kolam wudu ini sudah tidak digunakan lagi, namun Anda masih bisa melihatnya bila sedang berkunjung ke Masjid Agung Demak.

Makam Sunan Kalijaga

Makam Sunan Kalijaga
image by: pinterest.com

Sunan Kalijaga mangkat pada 1520 dan jenazahnya dimakamkan di wilayah Kabupaten Demak, tepatnya ada di Desa Kadilangu. Makam salah seorang Wali Songo ini merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Demak yang cukup terkenal.

Setiap ada kegiatan ziarah, makam Sunan Kalijaga ini tak pernah luput dari daftar destinasi. Peziarah tak hanya datang dari wilayah Jawa, namun banyak juga masyarakat dari luar Jawa yang berkunjung ke tempat ini.

Maksurah

Maksurah adalah hiasan di dinding Masjid Agung Demak berupa ukiran yang membentuk kaligrafi. Kaligrafi tersebut merupakan petikan ayat di dalam kitab suci Al Quran. Isi dari kaligrafi tersebut menjelaskan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa.

Pembuatan Maksurah dilaksanakan pada masa kepemimpinan Adipati Aryo Purbaningrat. Maksurah sendiri diperkirakan dibuat pada tahun 1866 Masehi.

Dampar Kencana

Dahulu Dampar Kencana difungsikan sebagai tempat duduk atau singgasana bagi pimpinan Kerajaan Demak. Kemudian, Dampar Kencana dialih fungsikan menjadi mimbar tempat imam masjid menyampaikan khotbah.

Dampar Kencana memiliki bentuk yang sangat khas dengan budaya Majapahit. Sebab Dampar Kencana ini merupakan hadiah yang diberikan oleh Raden Kertabumi dari Majapahit.

Saat ini Dampar Kencana disimpan rapi di dalam Masjid Agung Demak, namun tak lagi digunakan. Apabila digunakan secara terus menerus, Dampar Kencana dikhawatirkan rusak dan kehilangan nilai sejarahnya.

Piring Campa

Peninggalan berikutnya dari Kerajaan Demak adalah 65 buah piring yang berasal dari Campa. Piring-piring ini dikirimkan ke Demak oleh seorang putri sebagai hadiah. Putri tersebut merupakan ibunda dari Raden Patah.
Saat ini, piring-piring tersebut dipajang di dalam Masjid Agung Demak untuk dijadikan sebagai dekorasi atau hiasan.

Mihrab

Hampir seluruh bagian di dalam Masjid Agung Demak merupakan peninggalan Kerajaan Demak di masa lalu. Salah satunya yaitu bagian mihrab atau tempat yang digunakan oleh imam dalam memimpin sholat.

Di dalam mihrab yang ditinggalkan oleh Kerajaan Demak terdapat sebuah prasasti yang bernama Condro Sengkolo. Prasasti tersebut berisi kalimat dalam bahasa Jawa yaitu “Sarira Sunyi Kiblating Gusti”.

Prasasti tersebut berbentuk hewan yang disebut bulus. Para ahli sejarah mengatakan bahwa bulus melambangkan tahun pembuatan masjid. Kepala bulus berarti angka 1, kaki bulus bermakna angka 4, tempurung bulus melambangkan 0, dan ekornya merupakan simbol dari angka 1. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pembangunan masjid dilakukan pada 1401 Saka.

Dilihat dari benda-benda dan bangunan yang ditinggalkan, Kerajaan Demak berhasil melakukan akulturasi antara budaya Jawa dan Hindu dengan paham agama Islam. Hal inilah yang membuat kerajaan ini serta agama Islam mudah diterima oleh masyarakat.