4 Peninggalan Kerajaan Banten Beserta Penjelasannya Lengkap

Peninggalan Kerajaan Banten

Warta News – Peninggalan Kerajaan Banten di Indonesia bisa dikatakan cukup terkenal, misalnya Masjid Agung Banten. Mau tau sejarah singkatnya? Kerajaan Islam di Jawa Barat yang mampu merebut kekuasaan berbasis Agama Hindu pertama adalah Kerajaan Banten. Kekuasaannya dipimpin oleh Raden Fatahillah, yang dikenal juga sebagai wali besar penyebar Agama Islam yakni Sunan Gunung Jati.

Sejarah Kerajaan Banten

kerajaan banten
image by: reqnews.com

Kerajaan Banten berdiri sekitar abad ke-16, ditandai dengan kekalahan Kerajaan Pajajaran yang telah memperluas wilayah kekuasaannya di Jawa Barat. Serangan terhadap Pajajaran diperkuat dari pasukan Fatahillah bersama Kesultanan Demak dipimpin oleh Sultan Trenggono.

1. Peran Fatahillah

Kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam berkuasa di tanah Jawa, pada saat itu memilih Fatahillah sebagai panglima perang untuk membendung pengaruh Portugis. Penaklukan utama dilakukan di beberapa titik yakni bandar-bandar Kerajaan Pajajaran.

Kemudian, Fatahillah berhasil merebut dan menguasai Banten lengkap dengan pelabuhan Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527.

Kemenangan Fatahillah menyebabkan Sunda Kelapa diubah menjadi Jayakarta yang sekarang lebih dikenal dengan nama Jakarta. Wilayah kekuasaan Fatahillah meluas hingga sepanjang pantai utara Jawa Barat, serta tersebarnya agama Islam di seluruh wilayah tersebut.

2. Gelar Sultan Hasanuddin

Kehebatan Fatahillah membuatnya diberi gelar seorang ulama besar yang pada saat itu biasa disebut wali, gelarnya yakni Sunan Gunung Jati. Kekuasaan Kerajaan Banten dilanjutkan oleh keturunan Fatahillah dari putranya yakni Sultan Hasanuddin. Sementara wilayah lain di Jawa Barat seperti Cirebon juga dipimpin oleh putra lainnya, yakni Pasarean.

3. Kekuasaan Sultan Hasanuddin

Kerajaan Banten mulai berdaulat dan benar-benar terlepas dari pengaruh Kesultanan Demak saat dipimpin Sultan Hasanuddin selama 18 tahun (1552-1570). Wilayah kekuasaannya semakin luas hingga Lampung yang menjadi pusat penghasil rempah. Selat Sunda sebagai jalur utama perdagangan paling strategis juga berhasil dikuasainya.

Masa Kejayaan Kerajaan Banten terjadi di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa dari 1651-1682 Masehi. Namun tidak berlangsung lama, karena terjadi perebutan kekuasaan oleh Sultan Haji yang merupakan putra dari sultan sendiri. Sultan Haji menjalin kerja sama dengan Belanda untuk menyerang kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa dan berujung dipenjara.

Runtuhnya Kerajaan Banten

Kerajaan Banten mengalami kekalahan telak oleh Belanda pada masa pemerintahan Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin.

Kekalahan terjadi akibat pengkhianatan Belanda, serta kerja sama yang tidak berjalan lancar, karena sultan menolak permintaan Belanda untuk memindahkan ibu kota kerajaan dari Banten ke Anyer. Namun Kerajaan Banten justru jatuh di tangan Inggris pada tahun 1813.

4 Peninggalan Kerajaan Banten

Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten
image by: liputan6.com

Bangunan Masjid Agung Banten didirikan pada tahun 1652 di masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin yang masih kokoh hingga saat ini. Letaknya berada di Desa Banten Lama, Kecamatan Kasemen, dan termasuk sebagai salah satu dari 10 masjid yang tertua di Indonesia.

Bangunan masjid memiliki keunikan desain arsitektur yang berasal dari perpaduan seni khas China dan Arab. Menara masjid berbentuk mercusuar dan ujung atapnya dibuat mirip seperti pagoda khas kebudayaan Tiongkok. Sementara di bagian kiri dan kanan terdapat bangunan serambi dan komplek pemakaman keluarga sultan Kerajaan Banten.

Istana dan Benteng

Istana ini terbagi menjadi tiga bagian, antara lain yakni:

Benteng Speelwijk Peninggalan Kerajaan Banten

Benteng Speelwijk
image by: bukalapak.com

Bangunan benteng didirikan pada tahun 1585 yang memiliki tinggi hingga 3 meter dengan mercusuar. Fungsi benteng ini sebagai poros dari sistem pertahanan maritim kekuasaan raja di Kerajaan Banten.

Benteng Speelwijk juga dijadikan sebagai tempat untuk mengontrol segala aktivitas perdagangan dan pelayaran di Selat Sunda. Di dalamnya terdapat beberapa jenis meriam yang berasal dari rampasan pada masa perang.

Istana Keraton Surosowan

Istana Keraton Surosowan
image by: indonesiakaya.com

Pusat pemerintahan pemimpin Kerajaan Banten yang sekaligus dijadikan sebagai tempat tinggal raja adalah bangunan istana ini. Istana Keraton Surosowan yang dibangun pada tahun 1552 ini menjadi lokasi untuk mengatur segala urusan kerajaan.

Bangunan tersebut saat ini hanya tersisa puing dan reruntuhan akibat tidak memperoleh perawatan. Bekas dari runtuhan tersebut masih menyisakan bekas kolam pemandian yang dulunya digunakan oleh para putri.

Istana Keraton Kaibon

Istana Keraton Kaibon
image by: wisatabanten.com

Bangunan istana ini berfungsi sebagai tempat tinggal Ratu Aisyah atau ibu dari Sultan Syaifudin. Kemudian dijadikan tempat tinggal para putri Kerajaan Banten. Bangunan tersebut saat ini hanya tersisa puing akibat kehancuran yang diakibatkan oleh peperangan Kerajaan Banten melawan Belanda.

Danau Buatan Peninggalan Kerajaan Banten

Selain bangunan, peninggalan Kerajaan Banten salah satunya yakni danau Tasikardi sebagai danau buatan seluas 5 hektar dengan lapisan ubin dan batu bata.

Danau tersebut dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf di tahun 1570 hingga 1580 Masehi. Funginya sebagai sumber utama mata air bagi keluarga kerajaan serta irigasi ke sawah-sawah di area Banten.

Luas Danau Tasikardi semakin menyusut hingga saat ini diakibatkan adanya tanah sedimen yang terbawa air hujan menimbun bagian tepi danau. Lokasi danau tersebut berada di sekitar bangunan Istana Keraton Kaibon atau sekitar 10 km jika dihitung dari Kota Serang.

Terdapat sebuah pulau kecil di tengah danau yang dulunya dijadikan sebagai tempat peristirahatan keluarga sultan. Pulau tersebut yang menjadi lokasi dari bangunan keratin, sekaligus pendopo dan tempat mandi keluarga sultan.

Meriam Ki Amuk Peninggalan Kerajaan Banten

Meriam Ki Amuk merupakan barang peninggalan bersejarah dari Kerajaan Banten yang memiliki ukuran paling besar di antara Meriam lainnya.

Meriam tersebut dapat ditemukan di dalam benteng Speelwijk, yang memiliki kemampuan menghasilkan ledakan luar biasa serta berdaya tembak sangat jauh.

Meriam tersebut tidak diproduksi oleh kerajaan, melainkan hasil rampasan pasukan selama Kerajaan Banten menyerang Belanda. Kekuatannya yang luar biasa dan ukuran yang besar tersebut menyebabkan meriam dari Belanda dinamakan Ki Amuk.

Meriam ini tetap disimpan di dalam bangunan benteng bersama meriam lain yang ukuran dan kekuatannya jauh lebih kecil dari meriam Ki Amuk.

Vihara Avalokitesvara Peninggalan Kerajaan Banten

Bangunan yang menunjukkan bahwa Kerajaan Banten memiliki toleransi yang cukup tinggi pada agama lain adalah Vihara Avalokitesvara. Bangunan ini dibangun pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, dan merupakan tempat pemujaan sekaligus ibadah bagi para umat beragama Budha. Kini dijadikan sebagai cagar budaya yang melayani tiga kepercayaan sehingga disebut Tri Darma.

Sebutan tri darma berarti bangunan dapat dijadikan sebagai tempat pemujaan para pemeluk Taoisme, Buddha dan Kong Hu Cu. Vihara Avalokitesvara memiliki desain dan struktur bangunan yang unik, terbuat dari batu seperti candi-candi Hindu Buddha pada umumnya. Pada dindingnya terdapat relief yang menunjukkan sebuah kisah legenda dari kehidupan siluman ular putih, dan gerbang berbentuk mustika.

Sejarah singkat tentang peninggalan Kerajaan Banten di atas membuktikan bahwa proses terbentuknya sebuah negara dan bangsa Indonesia tidak terlepas dari kehidupan sistem kerajaan.

Agar semua orang bisa menentukan langkah terbaik di masa depan, maka sejarah masa lalu bangsa tidak boleh dilupakan. Bukti sejarah harus dijaga dan dirawat untuk dijadikan pembelajaran generasi mendatang.