11 Peninggalan Kerajaan Bali Beserta Penjelasannya Lengkap

Peninggalan Kerajaan Bali

Warta News – Peninggalan Kerajaan Bali memiliki nilai sejarah penting bagi umat Hindu dan Buddha di Bali. Berbagai bukti sejarah fisik seperti prasasti, candi, dan pura memiliki arsitektur yang khas.

Bukti-bukti sejarah tersebut dijadikan tempat suci yang menarik untuk dikunjungi. Apa saja peninggalan kerajaan di Pulau Dewata ini? Simak ulasannya berikut ini.

Sejarah Singkat Kerajaan Bali

Sejarah Singkat Kerajaan Bali
image by: gurupendidikan.co.id

Kerajaan Hindu di pulau Bali ini berdiri pada abad ke-8, dan mulai mengalami kemunduran pada abad ke-14.

Nama awal Kerajaan Bali adalah Kerajaan Bedahulu. Kerajaan ini diambil alih oleh kekuasaan kerajaan Majapahit saat itu.

Saat Majapahit mengalami kemunduran, Kerajaan Bedahulu memanfaatkan situasi untuk membebaskan diri.

Selain itu, ini merupakan momen yang tepat untuk mengembangkan wilayah. Sayangnya wilayah Majapahit telah terlebih dulu diambil alih oleh Kerajaan Gelgel.

Wilayah kekuasaan Majapahit kemudian diambil alih Kerajaan Klungkung. Hal ini terjadi setelah Kerajaan Gelgel runtuh.

Namun, Kerajaan Klungkung rupanya tidak cakap memimpin Majapahit. Akhirnya banyak wilayah yang melepaskan diri kemudian membentuk 8 kerajaan kecil.

Kerajaan-kerajaan tersebut diberi nama Swapraja. Sejumlah kerahaan tersebut merupakan daerah kekuasaan Majapahit yang terpecah-pecah.

Salah satu kerajaan dari Swapraja ialah Kerajaan Bali, dengan raja pertama yang berkuasa adalah Sri Kesari Warmadewa.

Prasasti Peninggalan Kerajaan Bali

Prasasti Peninggalan Kerajaan Bali
image by: wikimedia.org

Prasasti Panglapuan

Peninggalan Kerajaan Bali yang pertama dibuat adalah Prasasti Panglapuan, yaitu pada tahun 914 Masehi.

Prasasti ini bertuliskan sebuah Badan Penasehat yang terdiri dari para pendeta Buddha dan Hindu.

Mereka menganjurkan setiap pihak agar bahu membahu mematuhi kebijakan pemerintahan di Kerajaan Bali.

Prasasti Blanjong

Prasasti yang dibangun pada tahun 913 Masehi ini merupakan yang tertua di Pulau Bali. Prasasti ini dibuat pada masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa. Prasasti Blanjong berisi pernyataan pemberian nama lain dari Pulau Bali, yaitu Walidwipa.

Prasasti Gunung Panulisan

Prasasti ini terletak di dalam Pura Puncak Panulisan dan dijadikan sebagai batu sembahyang umat Hindu.

Prasasti-prasasti Anak Wungsu

Pada masa pemerintahan Anak Wungsu terdapat banyak pembangunan. Diantaranya adalah sebanyak 28 prasasti agama Hindu.

Prasasti-prasasti tersebut diantaranya terdapat di Sangsit, Gowa Gajah, Gunung Kawi, dan lain-lain. Persebarannya merata di hampir seluruh Pulau Dewata.

Candi Peninggalan Kerajaan Bali

Candi Padas

Candi Padas
image by: wikipedia

Candi ini berada di Tampaksiring dan memiliki desain yang benar-benar khas Bali. Terdapat 315 anak tangga yang harus dilewati untuk menuju puncak candi yang terbuat dari batu alam ini.

Candi Wasan

Candi Wesan
image by: docplayer.info

Candi ini berada di daerah Gianyar dan merupakan salah satu candi tertua di Bali. Bentuk candi ini masih utuh seperti sedia kala. Sedangkan kelengkapan benda-benda di dalamnya hanya tinggal puing-puingnya saja.

Candi Mengening

Candi Mengening
image by: trvcdn.net

Candi ini dibuat pada tahun 1022 M dan memiliki arsitektur yang nampak megah. Candi Mengening terlihat sejuk karena berada di tepi Sungai Pakerisan yang terus mengalir membuat daerah sekitarnya tidak tandus.

Pura Peninggalan Kerajaan Bali

Pura Besakih
image by: image by: rentalmobilbali.net

Pura Besakih

Pura ini berada di sekitar lereng Gunung Agung sehingga memiliki pemandangan yang indah di sekitarnya. Selain itu, pura ini telah didaftarkan sebagai warisan dunia UNESCO karena keindahannya.

Pura Penegil Dharma

Pura yang berada di Buleleng ini merupakan salah satu yang tertua di Bali. Pura ini dijadikan sebagai pusat kesucian Bhuwana Agung.

Pura Gunung Panulisan

Pura ini berada di Denpasar dan dibuat dengan struktur bangunan menyerupai bentuk bukit (piramida bertingkat). Bentuk bangunan demikian merupakan konsep gunung suci di Bali.

Pura Tirta Empul

Pura ini dibangun pada 967 Masehi pada masa pemerintahan Sri Candrabhaya Warmadewa. Tempat suci peninggalan Kerajaan Bali ini dibuat sebagai gambaran kehidupan yang bebas dari keterikatan duniawi.

Raja-Raja yang Pernah Memerintah Kerajaan Bali

Sri Kesari Warmadewa (914 Masehi)

Ia merupakan raja pertama yang memerintah sekaligus sebagai pendiri kerajaan yang berada di Pulau Dewata tersebut.

Hal tersebut terungkap dalam tulisan pada prasasti Blanjong yang merupakan salah satu bukti peninggalan Kerajaan Bali.

Sri Ugrasena (915-942 Masehi)

Saat pergantian kekuasaan menjadi di tangan Sri Ugrasena, kehidupan masyarakat Bali pun mulai berubah. Berbagai pembangunan semakin gencar dilakukan.

Seperti pembangunan prasasti dan pura. Selain itu, diadakan pula pemungutan pajak untuk beberapa daerah.

Tabanendra Warmadewa (955-967 Masehi)

Ia merupakan keturunan dari raja pertama Kerajaan Bali, Sri Kesari Warmadewa. Pada masa pemerintahannya, Tabanendra Warmadewa mulai membangun sebuah tempat pemakaman raja. Pemakaman tersebut populer dengan nama Air Mandaru. Selain itu, ia memberikan kebijakan pembebasan pajak untuk beberapa daerah di Bali.

Jayasingha Warmadewa (960-975 Masehi)

Ia menggantikan ayahnya, Tabanendra Warmadewa untuk memimpin Kerajaan Bali. Pada masa pemerintahannya, ia membangun sebuah tempat pemandian suci di Tampaksiring. Pemandian tersebut dikenal dengan sebutan Tirta Empul.

Jayashadu Warmadewa (975-983 Masehi)

Jayashadu Warmadewa merupakan raja yang bijak dan peduli dengan fasilitas tempat ibadah di kerajaan. Ia memerintahkan rakyat untuk memperbaiki dan merawat pura dan tempat bertapa. Hal tersebut dilakukan agar pura nyaman dipakai beribadah.

Sri Wijaya Mahadewi (983-989 Masehi)

Ia memiliki gelar Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi dan merupakan putri dari Empu Sendok di Jawa Timur. Ia masih keturunan bangsawan dari Kerajaan Sriwijaya.

Selain itu, hal yang memperkuat silsilah keluarganya yang orang Jawa adalah terdapatnya nama “Wijaya”. Nama tersebut tidak umum digunakan di Bali saat itu.

Dharma Udayana Warmadewa (1001-1011 Masehi)

Pada masa pemerintahan Dharma Udayana Warmadewa, Kerajaan Bali mencapai puncak kegemilangannya. Kejayaan didapat karena dukungan penuh dari Mahendradatta dari Jawa Timur. Ia adalah istrinya sekaligus partner memajukan kerajaan bagi Dharma Udayana.

Marakata (1001-1022 Masehi)

Ia merupakan putra kedua dari Dharma Udayana. Marakata dikenal sebagai raja yang mengayomi secara penuh rakyat Kerajaan Bali.

Selain itu, kebijakannya pun dikenal tegas. Tak heran, rakyat Kerajaan Bali banyak yang mengaguminya.

Anak Wungsu (1049-1077 Masehi)

Setelah Marakata lengser, jabatan raja kemudian dipegang oleh anak Udayana yang lain. Ia adalah Anak Wungsu.

Pada masa pemerintahannya, bangunan prasasti banyak dibuat sampai 28 prasasti yang tersebar di seluruh wilayah Kerajaan Bali.

Jaya Sakti (1133-1150 Masehi)

Raja Jaya Sakti menjamin peraturan undang-undang yang telah dibuat untuk mengatur pemerintahan.

Nama undang-undang tersebut ialah Kitab Rajawacana dan Utara Widdhi Belawan.Ia menjalankan pemerintahan Kerajaan Bali dibantu oleh senapati dan pendeta Hindu dan Buddha.

Hasil kerja sama penerapan peraturan tersebut akhirnya menghasilkan strategi pemerintahan yang diterapkan secara merat

Bedahulu (1343 Masehi)

Ia memiliki gelar Sri Astasura Ratna Bhumi Banten Bedahulu. Bedahulu menjalankan pemerintahannya dibantu oleh dua orang patih.

Mereka adalah Patih Kebo Iwa dan Patih Pasunggrigis. Pada masa pemerintahan Bedahulu, Kerajaan Bali diambil alih kekuasaannya oleh Kerajaan Majapahit.

Peninggalan Kerajaan Bali memang tidak bisa lepas dari budaya Hindu-Buddha yang sangat berkembang saat itu.

Setiap raja yang memerintah Kerajaan Bali selalu meninggalkan candi, prasasti, ataupun pura. Bangunan tersebut dijadikan tempat suci di Pulau Dewata hingga saat ini.