9 Peninggalan Kerajaan Aceh Lengkap Dengan Penjelasannya

Peninggalan Kerajaan Aceh

Warta News – Peninggalan Kerajaan Aceh, Kerajaan yang bercorak Islami ini terkenal karena memiliki sistem pemerintahan yang mengedepankan ideologi dan pengetahuan.

Berdasarkan sejarah, Kerajaan Aceh menjalankan pola pemerintahan yang teratur mulai dari pendidikan hingga pemerintahan. Sehingga sejarah dan peninggalan Kerajaan Aceh ini berpengaruh terhadap perkembangan di Indonesia.

Berbagai peninggalan dari kerajaan ini memiliki nilai budaya yang tinggi. Sehingga barang serta tempat peninggalan tersebut dijaga dan dilestarikan hingga saat ini. Ingin tahu penjelasan tentang Kerajaan Aceh? Simak penjelasan di bawah ini yuk!

Sejarah Singkat Kerajaan Aceh

Kerajaan Aceh
image by: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/d/d8/Flag_of_Aceh_Sultanate.svg/1200px-Flag_of_Aceh_Sultanate.svg.png

Kerajaan Aceh pertama kali didirikan pada tahun 1496 yang tinggal di wilayah Kerajaan Lamuri. Semakin berkembangnya Kerajaan Aceh membuat persatuan antar kerajaan yang berada di wilayah yang sama. Kerajaan Aceh menguasai beberapa kerajaan yang ada di sekitarnya, yaitu Kerajaan Nakur, Kerajaan Lidie, Kerajaan Pedir, dan Kerajaan Dayak yang memiliki nilai dan budaya yang berbeda.

Pemimpin tertinggi di wilayah Aceh yaitu Sultan, sehingga kebijakan yang dikeluarkan berhubungan dengan keagamaan. Contohnya seperti kebijakan yang dikeluarkan berisi tentang pendekatan keagamaan, khususnya agama Islam. Sayangnya pada pemerintahan Sultan ini, beberapa tokoh kerajaan menyelewengkan kepemilikan harta. Sehingga mendapat pembalasan dari rakyat.

Sultan yang terkenal dalam kepemimpinan Kerajaan Aceh yaitu Sultan Sri Alam yang diturunkan jabatannya karena membagikan harta pada pengikutnya. Kemudian kekuasaan selanjutnya dimiliki oleh Sultan Zainal Abidin yang kemudian terbunuh karena sifatnya yang keras dan kejam. Selanjutnya kepemimpinan Kerajaan Aceh dimiliki oleh Sultan Zainal.

Kemudian muncullah kejayaan Kerajaan Aceh pada tahun 1607 dan 1636 yang dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda. Beliau mampu menaklukkan wilayah Pahang yang merupakan wilayah dengan sumber daya timahnya. Berbagai aktivitas yang dilakukan oleh Sultan Iskandar untuk memperluas kekuasaan, sehingga memberikan hasil yang nyata berupa kesejahteraan rakyat.

9 Peninggalan Kerajaan Aceh yang Wajib Diketahui

Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman
image by: merahputih.com

Masjid ini merupakan peninggalan Kerajaan Aceh yang paling terkenal serta memiliki nilai sejarah yang tinggi. Letaknya yang berada di pusat kota membuat masyarakat menjadikannya sebagai ikon atau simbol Kerajaan Aceh. Masjid ini dibangun oleh Iskandar Muda pada tahun 1612 dan menjadi tempat peribadatan umat muslim.

Berdasarkan sejarah, masjid ini pernah dibakar oleh agresi militer Belanda. Tentunya umat muslim marah akan hal tersebut, sehingga menimbulkan ketakutan dari pihak Belanda. Kemudian Belanda memperbaiki masjid tersebut untuk meredam amarah umat muslim yang jumlahnya dominan di wilayah Aceh.

Bangunan Peninggalan Kerajaan Aceh

Benteng Indra Patra

Benteng Indra Patra
image by: ksmtour.com

Benteng Indra Patra telah dibangun sejak Kerajaan Hindu di Aceh masih berdiri yakni pada masa pemerintahan Kerajaan Lamuri. Namun benteng ini kemudian diambil alih Kesultanan Aceh dengan tetap mempertahankan corak khas budaya yang melengkapi desain arsitektur bangunan. Benteng ini kemudian dijadikan sebagai bangunan pertahanan untuk melawan Portugis.

Peristiwa penggunaan benteng Indra Praya yang paling terkenal di zaman Kerajaan Aceh dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda. Pada saat itu sultan memberikan sebuah titah kepada Laksamana Malahayati untuk menjadi pimpinan pasukan perang di wilayah benteng tersebut. Laksamana Malayahati dikenal sebagai laksamana perempuan pertama di dunia dari Aceh.

Taman Sari Gunongan

Bangunan Taman Sari didirikan oleh kerajaan yang memerintah sebelumnya, namun berantakan akibat serangan Belanda. Pada saat Sultan Iskandar Muda memimpin, Taman Sari Gunongan dibangun kembali karena besarnya rasa cinta sultan terhadap Putri Boyongan yang berasal dari Pahang.

Taman Sari Gunongan juga merupakan sebuah bangunan yang didirikan atas tujuan sultan untuk memenuhi keinginan Putri Boyongan. Akhirnya terpenuhi sebuah taman sari yang dipenuhi oleh Gunongan dengan hiasan indah mengelilinginya.

Makam Sultan Iskandar Muda

Sultan Kerajaan Aceh yang sangat terkenal karena kehebatannya ini diabadikan dalam makam yang menjadi situs peninggalan penting sejarah. Makam tersebut letaknya berada di Kelurahan Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Bangunan makam tersebut dikelilingi dengan nuansa Islami pada zamannya, yakni berupa kaligrafi sebagai hiasan batu nisan.

Kaligrafi yang diukir tersebut memiliki ciri khas budaya Islam kental yang juga dapat ditemukan pada masyarakat Islam Turki. Hal ini menandakan bahwa Islam memasuki nusantara dengan membawa kesenian kemudian membaur bersama budaya dan adat lokal.
Benda Peninggalan Kerajaan Aceh

Meriam Kesultanan Aceh

Kesultanan Aceh memiliki kemampuan di bidang persenjataan karena pada masa pemerintahan Sultan Selim II dari Turki Utsmani, dikirimkan beberapa orang teknisi dan para ahli pembuat senjata. Dari situlah para warga dari Kesultanan Aceh menyerap pengetahuan untuk memproduksi senjata modern yakni meriam.

Meriam buatan Kerajaan Aceh dihasilkan dari kuningan sebagai bahan utama dan mampu memberikan kekuatan ledakan yang luar biasa. Meriam tersebut digunakan sebagai senjata pada masa peperangan kerajaan melawan VOC dengan tujuan mempertahankan wilayah kekuasaan dari penjajah.

Stempel Cap Sikureung

Kerajaan Aceh pada zamannya juga telah mengenal stempel yang berfungsi sebagai peresmian suatu dokumen atau keputusan. Saat kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, Aceh memiliki stempel yang dinamakan stempel cap sikureung karena terdapat simbol Sembilan lingkaran pada permukaannya.

Di dalam setiap lingkaran terdapat nama-nama para sultan yang pernah memimpin Kerajaan Aceh.
Stempel cap sikureung ini digunakan secara turun temurun dari generasi ke generasi setiap tiba masa pergantian kepemimpinan sultan. Namun dibuat dengan nama-nama sultan yang berbeda, tetapi desain model dan bentuknya tetap sama.

Uang Emas dari Kerajaan Aceh

kerajaan Aceh juga memiliki bukti peninggalan kuat bahwa di zamannya telah terdapat alat tukar yang dinamakan uang. Kerajaan ini telah mampu membuat mata uangnya sendiri karena melihat besarnya persaingan dan perkembangan teknologi dari bangsa-bangsa lain. Uang yang berhasil diciptakan berupa uang logam terbuat dari 70%emas murni.

Uang tersebut dicetak dengan simbol secara lengkap dan mencantumkan nama sultan yang sedang memerintah kerajaan pada masanya. Koin tersebut juga pernah dijadikan sebagai barang buruan berharga oleh banyak orang karena nilainya sebagai barang peninggalan Kerajaan Aceh yang sangat tinggi.

Pedang Aman Nyerang

Barang ini menjadi peninggalan penting berasal dari peristiwa peperangan yang juga dialami warga Aceh bernama Aman Nyerang. Warga tersebut memiliki pedang legendaris yang sempat direbut oleh pasukan penjajah VOC namun berhasil kembali ke Aman Nyerang. Ia memilih kabur dan hidup mengembara selama 20 tahun di wilayah hutan Sumatera.

Pada 3 Oktober 1922 tempat persembunyian Aman Nyerang ternyata berhasil ditemukan oleh pasukan Belanda dan berujung pada penyergaman serta dibunuhnya Aman Nyerang.

Pedang berhasil dibawa ke Belanda, namun pedang tersebut dikembalikan ke Aceh saat menjelang kematian Letnan Jordans pada tahun 2000. Pedang ini kemudian dijaga dan disimpan di Museum Aceh hingga saat ini.
Kesenian Peninggalan Kerajaan Aceh

Karya Sastra Klasik

Kesultanan Aceh juga memiliki peninggalan di bidang karya sastra yang sangat terkenal, yakni hikayat. Adapun beberapa hikayat yang mengisahkan tentang legenda dan dongeng terkenal di zamannya antara lain:

– Hikayat Melayu

Karya ini menceritakan sebuah kisah romansa percintaan seorang Sultan Malaka Mansur yang menikahi putri dari China dan Jawa, kisah Panji Damar Wulan. Serta kisah peperangan saat Portugis melangsungkan serangannya ke Malaka pada 1511.

– Hikayat Prang Sabi

Karya sastra ini mengisahkan tentang berbagai nilai-nilai penting dalam kehidupan yang sifatnya religius. Isinya mengenai nasehat, ajakan, dan seruan untuk berjihad dengan tujuan menegakkan agama Allah dan melindunginya dari kaum kafir yang saat itu merupakan para penjajah. Hikayat ini ditulis oleh beberapa ulama terkemuka pada masa Kerajaan Aceh.

– Hikayat Raja-Raja Pasai

Karya sastra klasik ini di dalamnya bercerita tentang sejarah atau asal usul berdirinya Kerajaan Samudra Pasai. Tertulis secara rinci tentang pendirinya pertama kali yakni Sultan Malik al-Saleh atau dikenal juga sebagai Raja Samudera Pasai Pertama sekaligus penanda tersebarnya Islam di Pulau Sumatara. Serta beberapa keturunannya yang berhasil membuat kerajaan meraih kejayaan di zamannya.

Kesembilan peninggalan kerajaan Aceh tersebut menandakan bahwa Islam pertama kali tersebar secara luas di hampir seluruh Pulau Sumatera lewat Kerajaan Samudera Pasai. Serta memberikan bukti bahwa peradaban Islam di nusantara pada saat itu cukup maju dan modern, terutama saat dibuatnya koin emas dan mata uang baru sebagai alat tukar.