11 Peninggalan Kerajaan Banjar Beserta Penjelasannya Lengkap

Peninggalan Kerajaan Banjar
Image by: taldebrooklyn.com

Warta News – Peninggalan Kerajaan Banjar sangat berpengaruh dalam penyebaran Islam di tanah Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Hingga kini, makam-makam sultan Banjar masih banyak didatangi oleh peziarah dari berbagai daerah.

Selain makam sultan, masih ada beberapa peninggalan bersejarah Kerajaan Banjar lainnya. Khususnya saat masih bercorak Hindu hingga Islam datang. Apa sajakah itu? Simak ulasannya berikut ini.

Sejarah Kerajaan Banjar

Latar belakang terbentuknya Kerajaan Banjar bermula dari konflik yang terjadi di Kerajaan Daha yang bercorak Hindu. Kerajaan tersebut menguasai daerah Kalimantan Selatan.

Konflik timbul ketika Raja Sukarama sudah mendekati ajalnya. Perebutan kekuasaan pun terjadi antara Pangeran Samudera dengan pamannya, Pangeran Tumenggung yang sangat berambisi berkuasa.

Hingga akhirnya takhta kepemimpinan jatuh ke tangan Pangeran Mangkubumi yang merupakan anak tertua. Sedangkan Pangeran Samudera saat itu masih anak-anak. Namun kekuasaan Pangeran Mangkubumi tidak berlangsung lama. Ia dibunuh secara berencana oleh Pangeran Tumenggung.

Kekuasaan pun jatuh ke tangan Pangeran Tumenggung, hingga Pangeran Samudera menjadi musuh utamanya. Pangeran Samudera memutuskan untuk meninggalkan istana.

Kemudian menyamar menjadi nelayan pada suatu daerah di Banjarmasin. Saat itu, keberadaannya sebagai nelayan diketahui oleh Patih Masih yang merupakan penguasa Banjar.

Patih Masih merupakan patih yang terkenal saat itu meskipun tidak secakap Patih Gadjah Mada dari kerajaan majapahit.

Patih Masih kemudian mengangkat Pangeran Samudera sebagai raja baru di Banjar. Seiring berjalannya waktu, Pangeran Samudera berhasil menghimpun kekuatan untuk menyerang Pangeran Tumenggung. Tetapi ,peperangan terus saja berakhir imbang dan belum usai. Sampai akhirnya Sultan kerajaan demak membantu dengan syarat Raja Banjar mau masuk Islam.

Sultan Demak pun mengirimkan ribuan tentara dan armada kapal, hingga kemenangan pun berada di pihak Pangeran Samudera. Sesuai dengan janjinya, maka ia dan penduduk Banjar pun masuk Islam. Kemudian Pangeran Samudera mengganti namanya menjadi Sultan Suryanullah. Hingga akhirnya dinobatkan sebagai raja pertama Kerajaan Banjar.

3 Peninggalan Kerajaan Banjar

Kerajaan Banjar
image by: republika.co.id

Candi Agung Amuntai

Candi Agung Amuntai
image by: hulusungaiutarakab.go.id

Peninggalan Kerajaan Banjar yang pertama adalah Candi Agung. Candi ini dibangun saat kerajaan masih bercorak Hindu. Candi Agung dibangun oleh Empu Jatmika pada tahun XIV, usia candi diperkirakan sudah 740 tahun lebih. Meski sudah sangat tua, kondisi candi ini masih sangat kokoh karena material bangunan didominasi oleh batu dan kayu.

Di dalam candi terdapat berbagai benda peninggalan sejarah yang sudah ada sejak 200 SM. Bahkan batu yang digunakan untuk membangun candi ini pun masih ada. Sekilas batu tersebut mirip bata merah, namun lebih berat dan kuat dari bata merah biasa.

Candi Laras

Candi Laras
image by: indonesia-tourism.com

Candi ini berada di Tapin, Kalimantan Selatan. Candi Laras dibangun oleh warga sekitar Candi Agung di Amutai. Menariknya, pembangunannya sendiri memiliki maksud khusus. Pembuatan candi ini adalah untuk mengelabui penjajah yang ingin menyerang Candi Agung. Hingga saat ini, Candi Laras masih menjadi tempat peribadatan dan sembahyang.

Masjid Sultan Suriansyah

Masjid Sultan Suriansyah
image by: gontornews.com

Peninggalan Kerajaan Banjar ini disebut juga dengan Masjid Kuin. Masjid ini menjadi yang tertua di Kalimantan karena dibangun pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah. Ia adalah Raja Banjar yang pertama masuk Islam dan memerintah di tahun 1526-1550 M.

Masjid Sultan Suriansyah berdiri tepatnya di kawasan ibukota Kesultanan Banjar (Banjar Lama). Persisnya dekat dengan tepi Sungai Kuin. Masjid ini memiliki arsitektur yang khas, khususnya pada bagian atap dan panggung.

Desain tersebut mencirikan budaya tradisional Banjar. Bagian mihrab begitu khas karena memiliki atap sendiri yang terpisah dengan bangunan utama masjid.

Makam Sultan Kerajaan Banjar

Makam para raja-raja Kerajaan Banjar tersebar di beberapa titik di Kalimantan Selatan. Salah satu tempat pemakaman terkenal peninggalan Kerajaan Banjar adalah komplek makam Sultan Suriansyah.

Selain makam Sultan Suriansyah, terdapat pula beberapa makam lainnya di komplek tersebut. Misalnya makam Pangeran Muhammad, Pangeran Ahmad, Gusti Muhammad Arsyad, Syeh H Abdul Malik, dan Sayyid Muhammad.

Benda Bersejarah Peninggalan Kerajaan Banjar di Museum Lambung Mangkurat

Peninggalan Kerajaan Banjar yang berupa benda bersejarah diantaranya adalah:
Persenjataan
– Persenjataan
– Stempel kerajaan
– Buku-buku
– Perkakas dari batu
– Ukiran dari kayu ulin
– Perkakas pertanian
– Perabotan rumah tangga
– Alat musik tradisional

Selain itu, terdapat pula sebuah benda mahakarya buatan masyarakat Kerajaan Banjar. Mahakarya terseut dikenal dengan sebutan perahu tambangan. Benda-benda peninggalan Kerajaan Banjar tersebut tersimpan dengan baik di Museum Lambung Mangkurat yang berada di Kota Banjarmasin.

Raja Kerajaan Banjar

1. Pangeran Samudera (periode 1526-1545 M) yang berganti nama menjadi Sultan Suriansyah atau Sultan Suryanullah.
2. Sultan Rahmatullah (periode 1545-1570 M).
3. Sultan Hidayatullah (Periode 1570-1595 M) yang memiliki gelar Mangkubumi.
4. Sultan Mustain Billah (Periode 1595-1620 M) atau memiliki sebutan Pangeran Kacil. Ketika keraton di Kuin hancur oleh Belanda, ia pun memindahkan keraton ke Kayutangi Martapura.
5. Ratu Agung bin Marhum Panembahan (periode 1620-637 M).
6. Ratu Anum (periode 1637-1642 M) yang memiliki gelar Sultan Saidullah.
7. Adipati Halid (periode 1642-1660 M) yang dikenal pula sebagai Pangeran Tapesana.
8. Amirullah Bagus Kesuma (periode 1660-1663 M) yang merupakan ayah dari Sultan Kuning.
9. Pangeran Adipati Anum (periode 1663-1679 M) yang memiliki gelar Sultan Agung setelah memindahkan keraton ke Banjarmasin.
10. Amirullah Bagus Kesuma (periode 1680-1700 M)
11. Sultan Hamidullah (periode 1700-1734 M) yang memiliki gelar gelar Sultan Kuning.
12. Pangeran Tamjid bin Sultan Amirullah Bagus Kesuma (periode 1734-1759 M).
13. Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah (periode 1759-1761 M).
14. Pangeran Nata Dilaga (periode 1761-1801 M) yang memiliki gelar Sultan Tahmidullah.
15. Sultan Suleman Almutamidullah (periode 1801-1825 M.
16. Sultan Adam Al Wasik Billah (periode 1825-1857 M).
17. Pangeran Tamjidillah (periode 1857-1859 M).
18. Pangeran Antasari (periode 1859-1862 M) yang memiliki gelar Panembahan Amir Oeddin Khalifatul Mu’mina.
19. Sultan Muhammad Seman (periode 1862 – 1905 M).

Proses Islamisasian Pada Kerajaan Banjar

Setelah memeluk Islam, Sultan Suriansyah menjadikan agama Islam sebagai agama resmi Kerajaan Banjar. Saat itu, belum ada ulama yang mendampinginya. Hal tersebut membuat hukum Islam belum melembaga dalam pemerintahan. Hukum Islam baru melembaga setelah Sultan Tahmidullah berikuasa pada periode 1761 – 1801 M.

Syeikh Muhammad Arsyad Al Banjari datang dari Mekkah ke Banjar dan menimbulkan lebih banyak perubahan dalam pemerintahan. Syeikh Al Banjari disegani oleh sultan karena kedalaman ilmu agamanya. Kitab Sabiul Muhtadin karya Syeikh Al Banjari dijadikan pedoman atas permintaan sultan. Kitab tersebut membahas hukum-hukum Islam seperti hukum pernikahan dan hukum waris.

Proses Islamisasi Kerajaan Banjar juga dipengaruhi seorang ulama dari Kerajaan Demak yang bernama Khatib Dayyan. Tujuan Sultan Demak mengutus Khatib adalah untuk mengislamkan orang Banjar di Kalimantan.

Peninggalan Kerajaan Banjar memang cukup beragam, terlebih saat Islam datang dan dijadikan agama resmi kerajaan. Seluruh peninggalan kerajaan bersejarah tersebut masih tersimpan dengan baik hingga kini. Selain itu, tempat-tempat tersebut ramai oleh pengunjung khususnya dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan.