4 Daur Hidup Cacing Pita dan Penjelasannya Lengkap

Daur Hidup Cacing Pita
image by: halodoc.com

Warta News – Daur hidup cacing pita atau cestoda menjelaskan mengapa hewan ini membutuhkan organisme lain untuk bertahan hidup.
Hewan ternak dan manusia merupakan organisme yang dibutuhkan oleh cacing pita.

Seringkali cacing pita menyebabkan munculnya masalah kesehatan pada manusia maupun hewan ternak. Hal tersebut dikarenakan cacing pita bersifat parasite pada organisme lain.

Cacing pita tergolong ke dalam filum Platyhelminthes dan genus Taenia. Genus Taenia diketahui dapat menimbulkan beberapa penyakit pada manusia seperti sistiserkosis dan taeniasis.

Timbulnya penyakit tersebut berkaitan dengan daur hidup cacing pita. Oleh karena itu penting untuk Anda mengetahui tentang siklus kehidupan cacing pita.

Apa Itu Cacing Pita?

cacing pita
image by: kaltengpos.co

Dinamakan cacing pita karena hewan ini memiliki bentuk tubuh yang sangat panjang. Hewan yang tergolong ke dalam Platyhelminthes ini bersifat hermafrodit (memiliki dua alat kelamin). Daur hidup cacing pita lebih sederhana jika dibandingkan dengan daur hidup Trematoda. Dalam siklus hidupnya cacing pita tidak mengalami fase aseksual.

Siklus hidup Cestoda (cacing pita) terbilang kompleks karena melibatkan beberapa inang, baik inang primer maupun inang perantara. Hewan ini hidup parasit di bagian usus makhluk hidup vertebrata, seperti manusia, sapi, babi, ayam, dan hewan ternak lainnya.

Cestoda tidak mempunyai mulut dan alat pencernaan, tidak memiliki alat indera. Oleh karena itu cacing pita menggunakan permukaan tubuhnya untuk menyerap makanan/nutrisi. Bagian luar tubuh cacing pita dilindungi oleh sebuah lapisan kutikula. Salah satu keunikan yang dimiliki cacing pita adalah terdapat kait yang disebut skoleks pada bagian ujung kepalanya.

Untuk keseluruhan tubuh cacing pita terdiri dari skoleks, strobilus (leher pendek), dan proglotid. Proglotid merupakan bagian tubuh cestoda yang terletak tepat di belakang skoleks dan merupakan bagian dari rangkaian segmen. Terdapat organ reproduksi betina dan jantan di setiap proglotid cacing pita.

Ciri Ciri Cacing Pita

Seperti hewan lainnya yang memiliki ciri-ciri khusus, berikut beberapa ciri-ciri yang dimiliki oleh cacing pita:
– Panjang tubuh cacing pita dapat mencapai 25 meter.
– Tubuhnya tersusun dari proglotid yang di dalamnya terdapat organ kelamin
– Merupakan hewan hermafrodit atau memiliki dua macam alat kelamin.
– Tidak mempunyai mulut.
– Permukaan tubuhnya dapat digunakan untuk menyerap makanan/nutrisi.
– Pada bagian kepalanya terdapat alat kait.

Siklus Daur Hidup Cacing Pita

Daur hidup setiap hewan tentu saja akan berkaitan dengan kualitas lingkungan tempat tinggalnya. Telah dibahas sebelumnya bahwa cacing pita merupakan hewan parasite.

Oleh karena itu tidak heran jika cacing pita membutuhkan inang berupa makhluk hidup lain untuk bisa bertahan hidup. Berikut merupakan tahapan daur hidup cacing pita pada umumnya:

1. Telur cacing pita lepas ke lingkungan

Cacing pita termasuk ke dalam hewan ovipar, berkembangbiak dengan cara bertelur. Tempat yang digunakan cacing pita untuk berkembanbiak adalah di usus manusia. Telur cacing pita akan mengalami perkembangan di dalam tubuh manusia menjadi larva oncosphere. Oleh karena itulah dalam daur hidup cacing pita membutuhkan manusia.

Perkembangan tersebut terjadi dari gravid proglottid yang merupakan bagian tubuh cacing pita yang mengandung banyak telur. Apabila perkembangan telur cacing pita sudah maksimal atau matang maka larva oncosphere yang mengandung telur akan keluar dari tubuh manusia. Keluarnya telur tersebut bersamaan dengan feses manusia melalui anus.

2. Infeksi hewan ternak

Keluarnya telur cacing pita ke lingkungan dapat memungkinan untuk berpindah inang ke beberapa hewan ternak. Hewan yang sering terinfeksi dan menjadi inang baru oleh cacing pita adalah sapi dan babi. Biasanya pakan ternak yang diberikan kepada babi dan sapi sudah terkontaminasi oleh telur cacing pita.

Limbah kotoran manusia yang mengandung telur cacing pita biasanya terbuang bersama air dan menyerap di tanah. Kemudian telur cacing pita yang ada di tanah akan mengkontaminasi berbagai macam tumbuhan/rumput yang menjadi makanan sapi atau hewan lainnya.

Telur cacing pita atau larva oncosphere akan berkembang di dalam usus hewan ternak. Butuh beberapa saat untuk larva oncospheres menetas dan muncul embrio cacing. Embrio tersebut akan menyerang dinding usus binatang, kemudian masuk ke dalam sistem peredaran darah.
Sehingga larva akan mengalami penyebaran ke berbagai bagian tubuh hewan, seperti jantung, hati, bahu, dan otot lidah. Embrio yang sudah menyebar di bagian tubuh tertentu mampu bertahan hidup hingga tahunan.

3. Infeksi Manusia

Ketika manusia memakan daging yang masih mentah dari hewan yang terinfeksi, maka besar kemungkinan manusia akan terinfeksi juga. Oleh sebab itu sebaiknya Anda jangan mengonsumsi daging hewan yang masih mentah. Dengan memasaknya terlebih dahulu dapat membunuh embrio cacing pita.

Selain dari daging mentah, cacing pita juga dapat tertelan oleh manusia ketika mengonsumsi minuman atau makanan yang tercemar kotoran. Di dalam usus manusia skoleks cacing pita akan melekat pada dinding usus halus. Selama melekat di dinding usus halus cacing pita mengalami perkembangan hingga menjadi dewasa.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa cacing pita dewasa akan berkembangbiak di dalam usus dan menghasilkan telur. Telur-telur cacing pita akan mengalami perpindahan ke anus dan keluar melalui feses. Dengan begitulah daur hidup cacing pita berulang kembali.

Reproduksi Cacing Pita

Setiap bagian proglotid cacing pita di dalamnya terdapat dua jenis organ reproduksi yakni jantan dan betina. Hal tersebutlah yang menyebabkan cacing pita disebut sebagai hewan hermaprodit.

Hewan hermafrodit adalah hewan yang berumah satu atau memiliki dua alat kelamin. Meskipun memiliki dua organ reproduksi, namun hewan hermafrodit tidak mampu melakukan reproduksi sendiri.

Sebuah cacing pita memiliki proses dan waktu pematangan gamet yang berbeda. Maka tidak heran jika cacing pita tidak mampu melakukan reproduksi sendiri. Perkembangbiakan cacing pita tidak dilakukan dengan cara generatif atau aseksual. Dalam perkembangbiakannya cacing pita membutuhkan manusia sebagai inangnya.

Jenis Jenis Cacing Pita

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa cacing pita mempunyai banyak spesies yakni lebih dari 100 spesies. Namun terdapat 3 jenis cacing pita yang sering ditemukan di dalam tubuh manusia. Berikut tiga jenis cacing pita yang sering merugikan manusia:

1. Taenia saginata

Jenis cacing ini lebih dikenal dengan cacing pita yang berasal dari daging sapi. Tentunya hewan ini bersifat parasit dan dapat mengganggu kesehatan manusia terutama usus halus manusia. Cacing ini menyebabkan penyakit taeniasis pada tubuh manusia. Sedangkan pada tubuh hewan dapat menimbulkan penyakit sistiserkosis.

2. Taenia Solium

Jenis cacing ini sering juga dikenal sebagai cacing pita babi karena ditemukan pada daging babi. Perbedaannya dengan Taenia saginata adalah cacing ini memiliki satu pasang kait yang berasal dari bahan kitin. Cacing pita babi memiliki warna putih dan berukuran sekitar 2 – 3 cm.

3. Taenia asiatica

Taenia asiatica hampir mirip dengan cacing pita sapi dan baru ditemukan pada tahun 1980. Meskipun mirip dengan cacing pita sapi, namun inang cacing ini adalah manusia dan babi.

Penting bagi Anda untuk memahami tentang daur hidup cacing pita. Hal tersebut dikarenakan daur hidupnya berkaitan dengan manusia dan dapat merugikan manusia. Karena membutuhkan lebih dari satu inang maka cacing pita sering dikatakan bahwa siklus hidupnya sangat kompleks.