5 Daur Hidup Cacing Hati (Fasciola Hepatica) Lengkap dan Detail

Daur Hidup Cacing Hati
Image by: Halodoc

Warta News – Daur hidup cacing hati menjelaskan perubahan atau perkembangan yang dialami oleh cacing hati selama hidupnya. Disebut sebagai cacing hati karena salah satu habitatnya berada di hati organisme atau makhluk hidup lain.

Keunikan dari hewan ini adalah tidak mempunyai sistem pencernaan. Perlu Anda ketahui dalam beberapa kasus cacing hati dapat menyerang sistem ekskresi manusia.

Apa Itu Cacing Hati?

cacing pita
image by: jakpost.net

Sebelum mempelajari tentang daur hidup cacing hati sebaiknya Anda paham terlebih dahulu mengenai pengertian cacing hati. Cacing hati merupakan salah satu jenis cacing yang sangat menarik perhatian karena klasifikasinya terhadap makhluk hidup. Bahasa latin dari cacing hati adalah Fasciola Hepatica dan tergolong ke dalam kelas Trematoda.

Spesies cacing hati digolongkan pada suatu subkelas yang dinamakan dengan Diganea. Cacing hati termasuk ke dalam filum Platyhelminthes.

Hewan ini banyak dijumpai pada organ hati makhluk hidup lainnya terutama hewan ternak. Sapi, kambing, dan kerbau merupakan hewan yang organ hatinya sering ditempati oleh fasciola hepatica.

Terkadang cacing hati dapat menyebabkan berbagai kelainan pada hati manusia. Oleh karena itu sebaiknya Anda berhati-hati terhadap hewan ini. Cacing hati lebih sering ditemukan pada hati makhluk hidup lain atau manusia dengan usianya yang sudah dewasa.

Ciri Ciri Cacing Hati

cacing hati
image by: kaltengpos.co

Cacing hati dikenal dengan hewan yang mempunyai sedikitnya dua macam perantara. Perantara tersebut berguna agar cacing hati dapat masuk ke dalam organ tubuh makhluk hidup lain.

Perantara yang digunakan oleh cacing hati adalah siput air dan beberapa hewan ternak tertentu. Adapun ciri-ciri lain yang dimiliki oleh cacing hati, diantaranya adalah sebagai berikut:

– Mempunyai sifat parasit terhadap makhluk hidup lain dan menjadi penyebab penyakit Fasciolosis.

– Bentuknya simetris bilateral.

– Hidup pada bagian empedu atau peredaran darah hewan lainnya.

– Berukuran panjang 2,5 cm dan lebar sekitar 1 cm.

– Tubuh cacing hati terdapat kutikula yang berfungsi untuk melindungi diri agar tidak dicerna oleh inangnya.

– Bagian mulut di depan terdapat alat penghisap yang berfungsi untuk menghisap makanan.

– Bersifat hermaprodit sehingga dapat berkembang biak dengan cara membuahi dirinya sendiri.

– Dapat mengeluarkan ratusan ribu telur dalam sekali bertelur.

Tahapan Siklus Daur Hidup Cacing Hati

Daur Hidup Cacing Hati
image by: https://hellosehat.com/hidup-sehat/fakta-unik/siklus-hidup-cacing-pita-taeniasis/

Sama seperti kebanyakan hewan lainnya, cacing hati memulai kehidupannya dengan bentuk telur. Berikut merupakan tahapan daur hidup cacing hati dari awal muncul hingga dewasa:

1. Telur

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa cacing hati hidup di dalam tubuh makhluk hidup lainnya. Perkembangbiakan cacing hati juga terjadi di dalam tubuh makhluk hidup lainnya.

Akan tetapi telur-telur yang dihasilkan dari pembuahan perlu dikeluarkan untuk melanjutkan daur hidup cacing hati. Bersama dengan kotoran/feses makhluk hidup lain telur cacing hati dapat keluar.

Misalnya pada seekor kambing, hewan ini dalam sehari dapat menyimpan hampir setengah juta telur cacing hati. Telur cacing hati dikenal dengan nama mirasidium. Mirasidium dapat menetas apabila berada di lingkungan yang basah setelah dikeluarkan melalui kotoran.

2. Larva

Mirasidium atau telur cacing hati yang telah dikeluarkan biasanya akan terbawa oleh air hujan hingga ke sungai. Saat berada di sungai mirasidium akan mencari inang atau perantara. Siput air yang terdapat di sungai merupakan sasaran bagi mirasidium untuk dijadikan perantara.

Kemudian setelah berhasil masuk ke dalam tubuh siput air, mirasidium yang telah menetas akan menjadi parasite. Sedikitnya ada tiga jenis parasit yang berbeda. Dalam tubuh siput air mirasidium akan menghasilkan sporokista.

3. Pembentukan Cercaria

Sporokista yang dihasilkan oleh mirasidium akan terus mengalami perkembangan hingga menghasilkan redia. Redia mengalami paedogenesis dan berubah bentuk menjadi cercaria. Pada bentuk cercaria mereka akan keluar dari tubuh siput untuk melanjutkan daur hidup cacing hati.

4. Kista yang Menular

Cercaria akan terus mengalami perkembangan hingga mereka dapat berenang bebas di air. Mereka berenang dengan tujuan untuk menemukan berbagai jenis vegetasi atau rumput untuk dijadikan tempat tinggal selanjutnya. Setelah menempel pada rumput, cercaria akan berubah menjadi bentuk kista (metaserkaria).

Metaserkaria merupakan bentuk dari cacing hati yang biasa menyerang manusia atau hewan lain. Manusia atau hewan lainnya dapat terserang metaserkaria karena memakan makanan yang telah terkontaminasi. Oleh karena Anda harus selalu memperhatikan makanan agar selalu bersih sebelum dimakan.

Kista akan menempati rongga tubuh manusia atau makhluk hidupnya lainnya. Kista tersebut akan terus berkembang dan bertumbuh menjadi cacing muda. Selanjutnya akan bertumbuh menjadi cacing dewasa dan akan bermigrasi pada hati atau liver. Lebih tepatnya cacing dewasa akan masuk ke dalam saluran empedu dan memulai siklus hidup yang baru.

5. Rumah Baru

Di bagian usus besar dan usus halus manusia atau hewan lain cacing hati dewasa akan menempel dinding usus. Tidak hanya sekedar menempel saja, namun cacing hati akan menembus dinding usus.

Setelah itu cacing hati bermigrasi dengan tujuan menemukan perantara baru yakni di hati atau liver makhluk hidup lain.

Setelah beberapa minggu kemudian cacing hati yang sudah berada di saluran empedu hati akan bertumbuh hingga matang. Ketika cacing hati sudah siap maka mereka akan bereproduksi secara aseksual dan menghasilkan telur.

Nantinya telur-telur cacing hati akan dikeluarkan melalui feses dan begitu seterusnya daur hidup cacing hati terjadi lagi.

Infeksi Cacing Hati

Infeksi cacing hati merupakan nama penyakit yang muncul akibat dari cacing hati (Fasciola hepatica). Penyakit akibat infeksi ini dapat menyerang organ kantung empedu, hati, dan saluran empedu.

Penyakit yang disebabkan cacing hati bukanlah penyakit yang ringan dan tentunya membahayakan tubuh.

1. Gejala

Gejala yang timbul karena infeksi cacing hati sangat khas dan berbeda dengan infeksi cacing lainnya. Gejala tersebut diantaranya yakni penyumbatan dan peradangan pada saluran empedu.

Apabila infeksi sudah akut maka dapat menimbulkan mual, sakit perut, dan diare. Infeksi yang kronis terjadi akibat infeksi secara berkelanjutan tanpa diobati.

2. Resiko

Dalam jangka panjang infeksi ini dapat menyebabkan sistem empedu membengkak serta timbul kanker pada saluran empedu. Parasit pada cacing hati digolongkan ke dalam karsinogen, yaitu zat penyebab kanker. Sehingga apabila infeksi cacing dibiarkan secara berkelanjutan dapat mengancam nyawa.

3. Pengobatan

Pengobatan infeksi cacing hati hanya bisa dilakukan setelah Anda diperiksa mengenai keberadaan parasit yang ada dalam tubuh. Cara yang digunakan untuk memeriksa yaitu dengan USG, CT, MRI, atau memeriksa feses secara mikroskopis. Setelah itu biasanya dokter akan meresepkan satu-satunya obat yang direkomendasikan oleh WHO yakni obat praziquantel.

Untungnya infeksi cacing hati tidak bisa ditularkan antar manusia atau dari satu orang ke orang lainnya. Penularan infeksi cacing hati membutuhkan peranan media lain seperti siput air, ikan, atau makanan yang telah terkontaminasi.

Cacing hati dapat menyebabkan berbagai penyakit di dalam tubuh makhluk hidup lainnya, terutama manusia. Karena dalam proses daur hidup cacing hati membutuhkan inang yang harus mereka rugikan. Salah satu penyakit yang disebabkan oleh cacing hati adalah penyakit diare pada manusia.