5 Contoh Teks Anekdot Beserta Strukturnya Lengkap

contoh teks anekdot
image by: wikipedia.com

Warta News – Contoh teks anekdot mungkin masih terdengar asing oleh beberapa orang. Padahal sebenarnya teks anekdot sudah sering muncul di berbagai platform, mulai dari media, artikel, kiriman sosial media, hingga pesan berantai.

Anekdot sendiri secara umum diartikan sebagai cerita lucu atau yang mengandung humor. Lucu disini bisa berarti denotasi (makna sebenarnya), bisa juga berarti konotasi atau bukan makna sebenarnya.

Beberapa contoh teks anekdot sering disisipi sindiran atau kritikan dalam berbagai lingkup. Misalnya lingkup politik, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Berikut beberapa contohnya:

Contoh Teks Anekdot Singkat

Contoh Teks Anekdot Singkat
A group of school children can be seen working on digital tablets and whiteboards, they are all working happily. Two unrecognisable teachers can be seen in the background.

Baru-baru ini Pemerintah mulai gencar mengkaji kebijakan terkait gas elpiji bersubsidi yang sudah beredar luas di masyarakat.

Pemerintah menilai, tabung gas elpiji 3kg yang berwarna hijau ini sudah tidak efektif lagi digunakan.

Pemerintah akhirnya melakukan rapat terbatas dan mendesak terkait hal ini. Hasil rapat pun sudah mulai dipublikasikan melalui media online maupun berita di televisi.

Setelah melalui perundingan yang cukup panjang, tabung gas elpiji 3 kg berwarna hijau ini akan ditarik dari pasaran mulai pekan depan secara bertahap.

Warga tidak bisa lagi menggunakannya, dan harus beralih ke gas elpiji jenis lainnya. Alasan mendasar mengapa Pemerintah menarik tabung gas hijau ini adalah, karena dikhawatirkan akan meletus, dan membuat hati penggunanya menjadi kacau.

Contoh Teks Anekdot Pendidikan

Contoh Teks Anekdot Pendidikan
image by: pcdn.co

Banyak orang tua berpikir bahwa sekolah merupakan hal yang paling wajib dilakukan. Mereka beranggapan bahwa sekolah akan membuat anak mereka menjadi pintar.

Pemikiran orang tua ini juga semakin kuat karena didukung oleh Pemerintah. Segala kebijakan dikeluarkan agar anak-anak Indonesia harus bisa sekolah paling tidak selama 9 tahun.

Sampai-sampai, Pemerintah juga genjar memberikan bantuan kepada mereka yang dinilai memiliki ekonomi rendah. Mulai dari sekolah gratis, beasiswa, subsidi, dan sebagainya.

Padahal jika kita menilik lebih jauh, sekolah hampir tidak memberikan kontribusi apa-apa di masa mendatang. Lihat saja, pengangguran terus meningkat setiap tahunnya.

Siapa saja yang menganggur? Mereka adalah pemuda-pemuda yang dulunya sekolah. Bahkan lulusan sarjana sekalipun banyak yang menganggur tidak memiliki pekerjaan.

Ternyata anggapan sekolah akan menjadikan anak pintar, itu salah. Rupanya sekolah tidak mencetak generasi pintar, tapi mencetak generasi “nganggur”. Sekarang harusnya orang mulai sadar, sekolah bukan satu-satunya yang paling penting.

Contoh Teks Anekdot Dialog

Teks Anekdot Dialog
image by: vmcdn.ca

Contoh 1

A = Seorang warga
B = Polisi

A : “Permisi Pak Polisi, saya mau lapor, Pak.”

B : “Iya, Bu silahkan ada apa?”

A : “Tadi malam rumah saya dimasuki maling, Pak. Beberapa barang berharga saya hilang, ada uang, perhiasan, dan TV.”

B : “Oke baik, kira-kira apakah ada barang bukti yang menunjukkan bahwa barang-barang Anda benar-benar diambil maling?”

A : “Ada, Pak. Saya ada bukti rekaman CCTV, wajah maling sudah terlihat dengan jelas.”

B : “Apakah Anda sudah ijin malingnya untuk merekam wajahnya?”

A : “Belum, Pak.” (sambil mikir keras)

B : “Kalau begitu, Anda kami tangkap dengan tuduhan melanggar pasal UU ITE.”

A : “…” (hening tanpa kata)

Contoh 2

Suatu hari di ruang kelas, murid-murid sedang melaksanakan ulangan harian. Salah satu murid bernama Lia memergoki temannya (Tito) sedang mencontek kertas jawaban dirinya. Kemudian dia berteriak dan melaporkan hal tersebut kepada Guru yang sedang mengawasi.

Lia : “Bu Guru, Tito mencontek!”

Tito : “Tidak, Bu, itu tidak benar.”

Guru : “Lia, apa buktinya jika Tito telah mencontek jawabanmu?”

Lia : “hmm..” (tertegun karena tidak bisa menjawab pertanyaan Guru)

Guru : “Lia kamu tidak boleh menuduh tanpa bukti.”

Lia : “Tapi benar, Bu. Tito terus melihat kertas jawaban saya. Saya merasa terganggu tidak bisa berkonsentrasi.”

Tito : “Lia kamu jangan asal bicara, saya tidak mencontek milikmu!”

Murid-murid yang lain ikut menyudutkan lia, sehingga suasana kelas menjadi ramai.

Guru : “Lia, kamu telah membuat suasana kelas menjadi ramai, sebaiknya kamu keluar dari kelas ini!”

Lia : “Loh, Bu, saya kan tidak salah apa-apa.”

Tito : “haha..” Tertawa.

Contoh Teks Anekdot Ekonomi

Contoh Teks Anekdot Ekonomi
image by: qz.com

Rakyat miskin di Indonesia semakin hari semakin bertambah. Namun anehnya, data statistik dari Pemerintah justru menunjukkan sebaliknya.

Ini yang salah Pemerintah, sistem, atau rakyatnya? Di sekeliling kita masih banyak keluarga miskin yang tidak mampu menyekolahkan anaknya, tidak mampu makan, menganggur, dan sebagainya.

Tapi coba lihat di pusat kota sana, pejabat negara bak turis yang sedang berlibur. Berdalih sedang melakukan “dinas”, mereka melancong ke luar negeri, berfoya-foya dengan uang negara.

Pemandangan kontras ini tidak terjadi sekali dua kali saja, tapi sudah sangat sering terjadi. Masyarakat miskin digembar-gemborkan harus giat bekerja dan jangan malas.

Sedangkan dewan perkalian yang (katanya) terhormat, duduk bersandar kursi empuk dan tertidur saat sedang rapat.

Hidup mewah dengan uang rakyat ternyata memang menyenangkan, pantas saja banyak pejabat yang berlomba-lomba untuk bisa menang di ajang pemilu.

Sementara warga miskin? Ya tetap miskin, meskipun mereka telah bekerja keras siang dan malam.

Contoh Teks Anekdot Lucu

Contoh Teks Anekdot Lucu
image by: balipost.com

Contoh pertama.

Suatu hari, ada 2 orang yang berasal dari lintas negara yang sedang mengobrol santai di pinggir jalan. Berikut percakapannya:

A : “Kamu tahu gak, negara apa yang paling aneh?”
B : “Hmm, apa ya?”
A : “Coba tebak, bisa gak?”
B : “Gak tau, memang negara apa?”
A : “Negara yang paling aneh yaitu Swiss.”
B : “Loh, kok bisa? Kenapa?”
A : “Iya, Swiss memiliki kementerian kelautan, padahal kan gak punya laut.”
B : “Oh kalau gitu, negara kamu juga lebih lucu dong.”
A : “Loh, kok bisa jadi negara saya yang lebih lucu?”
B : “Iya, di negara kamu kan ada kementrian keuangan.”
A : “Iya benar, terus kenapa memangnya? Apanya yang lucu?”
B : “Padahal kan, negara kamu gak punya uang, jadi apa yang mau diurusin? Haha!”

Contoh kedua.

Percakapan ini terjadi di dalam kelas, antara guru dan murid.

Guru : “Anak-anak, menurut kalian anak yang cerdas itu ciri-cirinya seperti apa?”
Murid 1 : “Suka membaca buku, Bu!”
Murid 2 : “Rajin belajar setiap hari, Bu!”
Murid 3 : “Selalu mengerjakan PR, Bu!”
Guru : “Iya betul, jawaban kalian semua betul. Kalau menurut kamu?” (sambil menunjuk murid lainnya)
Murid 4 : “Orang cerdas itu suka mencontek, Bu!”
Guru : “Kok bisa mencontek dikatakan cerdas?”
Murid 4 : “Loh iya kan, Bu. Contohnya saat kita membuat origami, pasti kita akan mencontek dari buku petunjuk bukan, kalau gak nyontek gak bisa, Bu.”
Guru : “Iya juga ya.” (tertegun)

Contoh di atas merupakan teks anekdot yang ditulis dari berbagai sudut pandang. Ada yang memang terlihat jelas kelucuannya, ada juga yang hanya menampilkan lelucon sindiran dalam isu-isu tertentu.

Makna “lucu” bagi setiap orang akan berbeda, tergantung dari sudut mana pembaca melihatnya.