4 Kisah Nabi Nuh AS Singkat dan Lengkap

Kisah Nabi Nuh
Image by: al-monitor.com

Warta News – Kisah Nabi Nuh dalam Al-Qur’an dijabarkan dalam surat Hud mulai dari ayat 25 hingga 49.

Nabi Nuh merupakan rasul pertama yang diutus ke bumi dan hidup hampir 1000 tahun. Sebelumnya, Adam dan Idris hanya menyandang gelar sebagi nabi Allah.

Beliau mengemban tugas untuk membawa syariat dan mengajak kaumnya menyembah Allah.

Kisah Nabi Nuh Dilahirkan dan Diangkat Menjadi Rasul

Tanah kelahiran Nabi Nuh bernama Basra. Beliau dilahirkan sekitar tahun 1056 yang berjarak 126 tahun terhitung sejak wafatnya Nabi Adam.

Sedangkan jarak antara kelahiran Nabi Nuh dengan kehadiran Nabi Adam di muka bumi berkisar 1000 tahun.

Ayahanda dari Nabi Nuh bernama Lamik bin Matushalakh. Kala Nabi Nuh terlahir, ayahanda beliau sudah berumur sekitar 82 tahun.

Sebelum Nabi Nuh, ada 10 generasi yang diturunkan dari Nabi Adam. Nabi Nuh sendiri berasal dari garis keturunan Syits bin Adam.

Saat tumbuh dewasa, wahyu belum diturunkan kepada Beliau. Barulah pada usia sekitar 450 tahun pada 3650 sebelum masehi, Allah mengabarkan bahwa beliau adalah seorang rasul.

Kisah Nabi Nuh Berdakwah Hingga Mendapat Pertentangan

Daerah tempat dakwah Nabi Nuh diapit oleh dua sungai yaitu Tigris dan Eufrat. Sebelumnya, para penduduk masih menyembah Allah dan menghormati para orang shalih di zaman tersebut.

Namun, perilaku mereka mulai menyimpang karena hasutan iblis selepas orang shalih meninggal. Bujukan iblis untuk membuat patung orang-orang shalih tersebut berhasil.

Penduduk membuat 4 patung atau berhala yang diberi nama Suwa, Wadd, Ya’uq dan Yaghuts. Awalnya, mereka hanya menjadikan berhala sebagai obat rindu kepada orang shalih yang sudah mati. Lama kelamaan, penduduk mulai menjadikan berhala tersebut sebagai sembahan.

Ajakan Nabi Nuh tertulis dalam QS Al-A’raaf ayat 59. Penggalan artinya yaitu “Wahai kaumku, menyembahlah hanya kepada Allah.

Tidak ada yang berhak disembah selain Dia. Kalau kamu tidak menyembah Allah, sesungguhnya aku takut kamu ditimpa azab.” Kisah Nabi Nuh ditentang oleh kaumnya termuat dalam QS Hud ayat 27.

Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa Nabi Nuh dianggap sebagai pendusta. Penduduk juga mencela para pengikut Nabi Nuh dengan sebutan sekelompok orang yang hina.

Walaupun begitu, Nabi Nuh tetap bersabar dan mengajak mereka kembali masuk Islam. Beliau berdakwah baik di muka umum maupun dari rumah ke rumah.

Pada masa itu, orang yang menyatakan beriman hanya sekitar 80. Bahkan salah satu anak Nabi Nuh yang bernama Kan’an pun turut menyembah berhala.

Mereka yang menolak ajaran Nabi Nuh berasal dari kalangan yang mempunyai pengaruh kuat. Sehingga para kaum yang lemah pun lebih memilih untuk mengikuti mereka.

Kisah Nabi Nuh Membuat Kapal Besar

Kekafiran kaum Nabi Nuh semakin parah. Setiap hari beliau berdakwah tetapi mereka malah menutup kedua telinga karena risih mendengarkan ceramah.

Bahkan mereka menuduh Nabi Nuh telah sesat. Kisah Nabi Nuh dikatakan sesat bermula saat beberapa penduduk meminta kepada beliau untuk mengusir para golongan miskin yang beriman.

Mereka tidak sudi apabila setelah beriman akan berdampingan dengan mereka. Dalam QS Hud ayat 29 sampai 30, jawaban Nabi Nuh diabadikan.

Beliau berkata: “Wahai kaumku! Aku tidak meminta harta benda milik kamu sebagai upah, dan aku tidak akan mengusir orang yang beriman.”

Lalu, celaan kaum Nabi Nuh termuat dalam QS Al-A’raf ayat 60 yakni “Sesungguhnya kami melihat kamu ada dalam kesesatan yang sungguh nyata.”

Mendengar jawaban yang penuh amarah tersebut, Nabi Nuh tidak membalasnya dengan amarah pula. Beliau tetap melanjutkan tugas untuk menghindarkan mereka dari kemusyrikan.

Hingga suatu hari, kaum Nabi Nuh mengeluarkan tantangan. Mereka ingin Nabi Nuh menunjukkan azab yang katanya menjadi ancaman bagi kaum yang sesat.

Tetapi Nabi Nuh menjelaskan bahwa hanya Allah yang berhak menentukan kepada siapa azab ditimpakan dan kapan terjadinya. Setelah itu, Nabi Nuh pun berdoa kepada Allah yang tertuang dalam QS Nuh ayat 26 sampai 27:

“Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan satu orang pun di antara orang kafir tersebut untuk hidup di bumi.

Jika Engkau tetap membiarkan, sesungguhnya mereka hanya akan menyesatkan hamba-Mu yang lain dan menurunkan anak yang selalu berbuat maksiat dan tidak pandai bersyukur.”

Berdasar dari itulah, kisah Nabi Nuh membuat sebuah bahtera besar dimulai. Allah mewahyukan kepada beliau untuk membagi bagian dalam kapal menjadi 3 lantai dan membimbing bagaimana cara membuatnya.

Tidak ada penyebutan mengenai berapa lama kapal Nabi Nuh dibuat. Intinya, proses yang dibutuhkan sekitar bertahun-tahun lamanya.

Nabi Nuh dan kaum yang beriman semangat menyelesaikan kapal. Sedangkan kaum yang kafir terus menerus mengejek dan menertawakan.

Tidak ada seorang pun dari kalangan Nabi Nuh yang menanggapi olok-olokan tersebut. Akhirnya, pembuatan kapal besar pun selesai. Azab Allah kepada kaum kafir akan segera diturunkan sebagai jawaban dari tantangan mereka.

Kisah Nabi Nuh Selamat dari Air Bah

Suatu hari, salah seorang yang beriman menanyakan perihal kapan didatangkannya azab. Nabi Nuh yang tidak punya pengetahuan akan itu, akhirnya mendapat pesan dari malaikat. Pesan tersebut berisi bahwa air yang memancar dari dalam tanah adalah tandanya.

Saat tanda tersebut muncul, Nabi Nuh segera mengumpulkan seluruh kaum yang beriman untuk naik kapal. Dek bagian bawah ditempati oleh hewan ganas dan melata, dek bagian tengah diisi oleh manusia sedangkan dek teratas diisi oleh burung-burung.

Kapal Nabi Nuh pun terus bergerak di atas air bah yang semakin meninggi. Beliau bersedih karena sang istri lebih memilih tetap kafir sehingga terkena azab Allah.

Begitu pun anak beliau yang bernama Kan’an. Saat Nabi Nuh melihat Kan’an, beliau berteriak dari dalam kapal. Kisah Nabi Nuh membujuk anaknya untuk beriman diabadikan dalam surat Hud: 42 sampai 43.

Penggalan terjemahannya yaitu “Wahai anakku! Naiklah ke kapal ini bersama kami. Janganlah kamu memilih bersama golongan orang yang kafir.”

Kemudian Kan’an menjawab “Aku akan mencari tempat perlindungan ke gunung sehingga dapat terhindar dari air bah!” Lalu dengan sedih Nabi Nuh menjawab

“Tidak ada yang dapat memberikan perlindungan dalam siksaan ini kecuali Allah.” Setelah itu, Kan’an pun tertelan air bah sehingga membuat hati Nabi Nuh tersayat pedih.

Banjir besar yang melanda seluruh negeri berlangsung sekitar 40 hari. Semua orang yang menyekutukan Allah sudah dibinasakan atas kehendak-NYA.

Kemudian, Allah memerintahkan kepada bumi untuk kembali menyerap air bah tersebut hingga surut. Saat itulah, Allah berfirman:

“Wahai Nuh! Turunlah dari kapal dengan selamat, sejahtera dan keberkahan dari Kami atas diri kamu dan umat mukmin yang membersamai kamu.” (QS Hud ayat 48)

Nabi Nuh beserta kaum yang beriman pun turun seraya mengucap syukur kepada Allah. Diceritakan bahwa, masih ada tiga anak Nabi Nuh yang selamat dari azab Allah.

Kemudian, mereka menghasilkan keturunan seperti yang termuat dalam QS Ash-Shaaffaat ayat 77. Allah menunjuk anak cucu Nabi Nuh sebagai orang yang melanjutkan keturunan di muka bumi.

Pelajaran dari kisah Nabi Nuh adalah menjauhi semua perbuatan yang dapat menjadikan Allah murka.

Beberapa di antaranya seperti berbuat syirik, sombong, tidak mau menerima kebenaran dan merendahkan orang lain.

Sebagai seorang muslim, Anda juga harus mengimani bahwa Nabi dan Rasul Allah memiliki kedudukan yang lebih mulia.