4 Kisah Nabi Ismail Singkat dan lengkap

Kisah Nabi Ismail
image by: republika .co.id

Warta News – Kisah Nabi Ismail alaihissalam adalah kisah yang mengajarkan tentang kesabaran, ketakwaan, serta ketaatan dengan kedua orangtua.

Nabi Ismail bin Ibrahim alaihissalam adalah anak kandung Nabi Ibrahim alaihissalam yang dikenal sebagai bapaknya para nabi dan rasul. Nama Nabi Ismail alaihissalam disebutkan sebanyak 12 kali dalam Al Quran berikut keutamaan – keutamaannya.

Silsilah Keluarga dan Keturunan Nabi Ismail

Nabi Ismail alaihissalam dilahirkan oleh Ibunda Siti Hajar pada tahun 1911 SM. Pada saat beliau dilahirkan, ayahnya Nabi Ibrahim alaihissalam berusia 86 tahun.

Nabi Ismail alaihissalam wafat pada usia yang ke 137 tahun pada tahun 1774 SM. Beliau dilahirkan oleh Ibunda Siti Hajar di Mekah dan meninggal di daerah Mekah.

Nabi Ismail alaihissalam diutus di daerah tandus padang pasir Mekah untuk berdakwah kepada kaumnya. Kaum yang menjadi objek dakwah Nabi Ismail alaihissalam dikenal dengan nama Kabilah Yaman dan Amaliq.

Nabi Ismail memiliki keturunan sebanyak 12 orang anak. Nabi Ismail adalah kakak kandung beda ibu dari Nabi Ishaq alaihissalam yang merupakan putra dari Ibunda Siti Sarah.

Berikut ini adalah silsilah keluarga beliau hingga ke Nabi Adam alaihissalam.
1. Nabi Adam alaihissalam
2. Nabi Syits alaihissalam
3. Anusy
4. Qinan
5. Mihlail
6. Yarid
7. Nabi Idris alaihissalam
8. Matusyalih
9. Lamak
10. Nabi Nuh alaihissalam
11. Sam
12. Arfakhsyad
13. Syalih
14. Abir
15. Falij
16. Ra’u
17. Saruj
18. Nahur
19. Tarakh
20. Nabi Ibrahim alaihissalam
21. Nabi Ismail alaihissalam

Terkait Ibunda Nabi Ismail alaihissalam yakni Siti Hajar, maka latar belakangnya masih cukup simpang siur. Namun dari sekian banyak pendapat terkait Siti Hajar, salah satu yang paling terkenal adalah bahwa Siti Hajar merupakan budak yang dimiliki oleh Siti Sarah, istri Nabi Ibrahim alaihissalam.

Siti Sarah pertama kali mengungkapkan rencana menikahkan Siti Hajar dengan suaminya agar Nabi Ibrahim alaihissalam memiliki keturunan. Pasalnya, saat itu Nabi Ibrahim dan dirinya sudah cukup berumur apalagi Siti Sarah memiliki masalah pada rahimnya. Beberapa waktu setelah Siti Hajar dan Nabi Ibrahim alaihissalam menikah, akhirnya Siti Hajar mengandung Nabi Ismail alaihissalam.

Kisah Nabi Ismail: Saat Kelahiran

Setelah mengandung selama beberapa bulan, Siti Hajar pun akhirnya melahirkan Nabi Ismail alaihissalam. Nabi Ibrahim alaihissalam sangat senang akhirnya memiliki keturunan seorang anak laki – laki yang diharapkan dapat membantu urusannya dan menjadi anak yang saleh dan taat kepada Allah serta kedua orangtuanya.

Setelah beberapa waktu Nabi Ismail alaihissalam lahir, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan wahyu berupa perintah kepada Nabi Ibrahim supaya pergi dengan membawa anaknya Ismail serta Ibunda Siti Hajar ke Mekah. Keduanya pun akhirnya pergi menuju Mekah serta Nabi Ibrahim kemudian meninggalkan Siti Hajar serta Ismail di dekat area yang akan menjadi tempat dibangunnya Ka’bah.

Ketika Nabi Ibrahim alaihissalam akan meninggalkan Ismail serta istrinya, Siti Hajar kemudian mengejar serta memegang baju Nabi Ibrahim berkali – kali sembari bertanya, “Wahai Ibrahim, kamu mau pergi kemana? Apakah kamu (tega) meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusia dan tidak ada sesuatu apa pun ini?”

Namun, Nabi Ibrahim alaihissalam tidak kunjung menjawab serta tidak menoleh kepada Siti Hajar. Hingga Siti Hajar tersadar kemudian bertanya apakah ini perintah dari Allah dan dijawab benar oleh Nabi Ibrahim alaihissalam. Seketika itu, hati Siti Hajar pun menjadi tenang karena beliau yakin Allah tidak akan menelantarkannya dan anaknya.

Mengenai kisah Nabi Ismail yang ditinggalkan Nabi Ibrahim di dataran Mekah dikisahkan di dalam Al Quran surah Ibrahim ayat ke 37. Ayat ini berisi doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim alaihissalam tatkala berada di atas bukit dan menghadap ke arah Ka’bah.

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Siti Hajar yang kehabisan persediaan air dari geriba sementara ia dan anaknya dalam keadaan haus kemudian pergi berlari berkeliling antara bukti Shafa dan juga Marwa. Siti Hajar pergi antara kedua bukti ini untuk mencari apakah ada orang di daerah tersebut yang bisa ia mintai bantuan. Namun, Siti Hajar tak juga melihat atau menemukan seseorang yang ada di sekitar tempat tersebut.

Setelah Siti Hajar berkeliling hingga tujuh kali antara bukti Shafa dan Marwa, ia kemudian mendengar suara malaikat Jibril yang ditugaskan oleh Allah untuk mengais air menggunakan sayapnya. Hingga kemudian terpancarlah air dari dekat kaki Nabi Ismail alaihissalam yang menendang-nendang ke tanah.

Setelah selama beberapa waktu menjalani hidup berdua di lembah tersebut, suatu hari lewatlah rombongan orang dari keluarga Jurhum atau suku Jurhum yang singgah di bawah kota Mekah. Ia mendatangi air zam – zam yang di dekatnya ada Siti Hajar serta Nab Ismail. Sejak saat itu lebih banyak orang yang datang ke tempat tersebut dan mendiami daerah itu.

Nabi Ismail yang tumbuh dewasa belajar bahasa Arab dari suku Jurhum. Nabi Ismail alaihissalam mendapat pendidikan akhlak yang sangat baik dari ibunya, Siti Hajar. Ketika Nabi Ismail sudah beranjak remaja, Nabi Ibrahim pun pergi mengunjungi mereka.

Kisah Nabi Ismail Disembelih Singkat

Ketika berbicara mengenai kisah Nabi Ismail alaihissalam, maka kisah penyembelihannya adalah kisah yang paling fenomenal dan paling banyak dibicarakan. Apalagi kaum muslimin sendiri memperingati hari raya Idul Adha yang jatuh tepat pada tanggal dan bulan dimana Nabi Ismail alaihissalam akan disembelih oleh ayahnya, Nabi Ibrahim alaihissalam.

Ketika Nabi Ibrahim alaihissalam kemudian berkumpul lagi dengan anaknya Nabi Ismail alaihissalam. beliau kemudian mendapat mimpi bahwa ia menyembelih putranya sendiri yakni Nabi Ismail alaihissalam.

Mimpi tersebut berulang hingga tiga kali sampai ia meyakini bahwa mimpi tersebut memang dari Allah. Nabi Ibrahim pun kemudian mendiskusikan hal tersebut dengan anaknya yang tercatat dalam Al Quran.

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ismail menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash Shaaffaat: 102)

Tatkala keduanya telah pasrah dengan perintah tersebut dan Nabi Ibrahim sudah membaringkan Nabi Ismail di atas pelipisnya, Allah pun menurunkan wahyunya atas kejadian tersebut.

“Wahai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. Ash Shaafffat: 104-106)

Nabi Ismail kemudian diganti dengan kambing berukuran besar untuk disembelih. Nabi Ibrahim pun menyembelih kambing tersebut dan kejadian ini menjadi asal mula sunnah berkurban.

Hikmah Kisah Nabi Ismail

Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari kisah Nabi Ismail alaihissalam baik itu dari ayahnya, ibunya atau dari sosok Nabi Ismail alaihissalam sendiri.

Ketika Siti Hajar ditinggalkan Nabi Ibrahim alaihissalam di lembah yang gersang dan tidak berpenghuni, ia seketika menjadi tegar dan yakin bahwa Allah akan menjaga mereka karena ini merupakan perintah dari Allah.

Hal yang sama pun ditunjukkan oleh Nabi Ismail alaihissalam ketika akan disembelih. Betapa ikhlasnya Nabi Ismail menuruti perintah tersebut tatkala ia meyakini bahwa ini adalah perintah dari Allah. Sebuah sikap yang tentunya harus dimiliki oleh setiap muslim, yakni menerima ketetapan Allah dan yakin bahwa itu adalah yang terbaik.

Nabi Ibrahim alaihissalam mengajarkan kita sikap untuk taat melaksanakan perintah Allah meskipun itu bertentangan dengan hati nuraninya sebagai seorang ayah yang menyayangi buah hatinya. Hal ini dikarenakan ketaatan kepada Allah adalah nomor satu dan yakinlah bahwa ketetapan Allah adalah yang terbaik.

Pelajaran mengenai ketaatan, kesabaran dan bertawakal kepada Allah semata adalah nilai yang bisa kita petik dari kisah Nabi Ismail alaihissalam.

Selalu tanamkan dalam diri sebuah keyakinan bahwa apa yang Allah tetapkan adalah yang paling baik untuk kita. Pasalnya, kita tidak mengetahui apa yang terbaik sementara Allah adalah yang paling mengetahui.