4 Kisah Nabi Hud Singkat dan Lengkap Dari Lahir Sampai Wafat

Kisah Nabi Hud
image by: republika.co.id

Warta News – Kisah Nabi Hud aiaihissalam tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita mengingat kisah Nabi dan Rasul yang mulia ini memang diceritakan beberapa kali di dalam Al Quran.

Nama Nabi Hud aiaihissalam disebutkan di dalam Al Quran sebanyak tujuh kali. Al Quran sendiri memiliki satu surat khusus yang diberi nama dengan Nabi yang mulia ini, yaitu surah Hud.

Silsilah Keluarga dan Keturunan Nabi Hud

Periode sejarah Nabi Hud aiaihissalam bisa dikatakan masih cukup dekat dengan periode sejarah Nabi Nuh aiaihissalam serta Nabi Adam aiaihissalam.

Nabi Hud aiaihissalam diutus di tempat yang bernama Al – Ahqaf yang berlokasi di antara Oman dan Yaman. Sementara itu beliau dimakamkan di daerah sebelah timur dari Hadhramaut Yaman.

Nabi Hud aiaihissalam merupakan keturunan kedelapan dari Nabi Nuh aiaihissalam dengan nama lengkap Nabi Hud aiaihissalam bin Abdullah bin Rabah bin al Khulud bin ‘Ad bin Uks bin Iram atau Aram bin Sam bin Nuh aiaihissalam.

Beliau lahir pada tahun 2450 SM dan wafat pada tahun 2320 SM. Beliau hidup di muka bumi selama 130 tahun untuk berdakwah kepada kaumnya, yakni Kaum ‘Ad.

Berikut adalah garis keluarga lengkap Nabi Hud aiaihissalam hingga ke Nabi Adam aiaihissalam.

1. Nabi Adam alaihissalam
2. Nabi Syits alaihissalam
3. Anusy
4. Qinan
5. Mihlail
6. Yarid
7. Nabi Idris alaihissalam
8. Matusyalih
9. Lamak
10. Nabi Nuh alaihissalam
11. Sam
12. Aram atau Iram
13. ‘Uks atau ‘Aush
14. ‘Ad
15. al – Khulud
16. Rabah
17. Abdullah
18. Nabi Hud alaihissalam

Anda bisa mendapatkan informasi lengkap terkait kisah Nabi Hud di beberapa ayat pada Al Quran. Pada surah Hud sendiri, kisah perjuangan dakwah Nabi Hud alaihissalam bisa dibaca pada ayat ke 50.

Kondisi Kaum ‘Ad Saat Nabi Hud alaihissalam Diutus

Kaum ‘Aad adalah kaum yang mendiami daerah berupa bukit – bukit pasir atau al – Ahqaf yang terletak di sekitar Negara Oman serta Yaman hari ini, atau lebih tepatnya bertempat tinggal di daerah gurun Rub’al Khali. Kaum ‘Aad atau kaum ‘Ad sendiri adalah salah satu dari suku atau kaum yang paling tua di muka bumi setelah suku Nabi Nuh alaihissalam.

Kaum ‘Ad dianugerahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan postur fisik yang gagah dan juga sangat kuat. Kelebihan berupa postur fisik yang kuat dan gagah ini bahkan membuat kaum ‘Ad mampu untuk memahat gunung yang belum ada satupun kaum yang mampu membangun sebuah kota dengan cara seperti itu baik di negeri lainnya di muka bumi.

Selain itu, postur tubuh mereka yang kuat dan tinggi juga membuat mereka memiliki kepercayaan diri tinggi apabila harus berperang melawan bangsa lainnya. Pasalnya, dengan postur tubuh yang besar akan membuat mereka memiliki serangan mematikan.

Terkait kelebihan kaum ‘Ad dalam kemampuannya memahat gunung ini diceritakan oleh Allah di dalam Al Quran surah Al Fajr ayat 7 sampai 8 berikut ini.

“(Yaitu) penduduk Iram (ibu kota tempat tinggal kaum ‘Aad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi–Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain,”

Ternyata kemampuan penduduk ‘Ad untuk memahat gunung dan membuat bangunan berukuran besar justru membuat mereka semakin membanggakan diri dan tidak bersyukur kepada Allah.

Kaum ‘Ad juga dianugerahi oleh Allah dengan banyaknya binatang ternak, harta hingga peradaban pertaniannya yang sangat subur dan unggul apalagi melimpahnya sumber air segar untuk mereka.

Terkait sikap kaum ‘Ad yang membanggakan diri mereka dan bersikap bermewah – mewahan ini digambarkan di dalam Al Quran surah Asy – Syuara ayat 128 hingga 129 berikut,

“Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main (bermewah-mewah) –Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud agar kamu kekal (di dunia)?”

Kisah Nabi Hud alaihissalam Berdakwah kepada Kaumnya

Sama seperti kaum Nabi Nuh alaihissalam, kaum ‘Ad juga tidak mengenal Allah sebagai satu – satunya Tuhan yang pantas untuk disembah. Pada akhirnya, kaum ‘Ad justru menciptakan berbagai macam patung berukuran besar yang kemudian mereka sembah sebagai tuhan. Tuhan – tuhan berhala buatan kaum ‘Ad yang paling terkenal yaitu Alhattar dan Shamud.

Kaum ‘Ad adalah kaum pertama yang melakukan kezaliman berupa menyekutukan Allah dengan menyembah patung setelah terjadinya bencana banjir besar pada masa Nabi Nuh alaihissalam. Ada banyak sekali perumpamaan serta teguran yang disampaikan oleh Allah kepada kaum pembangkang ini agar mereka mengingat apa yang sudah terjadi pada kaum sebelum mereka, yakni kaum Nuh.

Di dalam Al Quran surah Al A’raaf ayat 69 disampaikan agar kaum ‘Ad segera menyadari kekeliruan mereka dengan mengingat nikmat Allah kepada mereka serta belajar dari kaum terdahulu, yaitu kaum Nuh alaihissalam.

“Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) setelah lenyapnya kaum Nuh, dan Allah telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah agar kamu mendapat keberuntungan.”

Kisah Nabi Hud alaihissalam diwarnai oleh perjuangannya untuk menasehati dan mendakwahi kaumnya yang membangkang. Kaumnya juga senang mengerjakan berbagai aktivitas dosa dan kemaksiatan serta melakukan kerusakan di muka bumi.

Karena kegigihan dakwah yang dilakukan oleh Nabi Hud kepada kaum ‘Ad, kaum ini pun akhirnya bertanya – tanya terkait Nabi Hud alaihissalam yang sejatinya adalah orang asli dari kaum mereka sendiri.

Mereka bertanya, “Siapakah sebenarnya engkau wahai Hud sehingga mengatakan kata-kata seperti itu?”. Jawaban Nabi Hud alaihissalam atas pertanyaan mereka itu dijelaskan dalam surah Asy-Syuara 125-126.

“Sesungguhnya aku adalah rasul yang dapat dipercaya bagimu—Oleh karena itu, bertakwalah kamu kepada Allah dan taatilah aku.”
Namun, seperti kebanyakan perkataan kaum yang membangkang lagi sombong terhadap peringatan Nabi dan Rasul yang diutus di tengah – tengah mereka, kaum ‘Ad membantah perkataan Nabi Hud dengan sombong serta kasar. Mereka bahkan menuduh Nabi Hud alaihissalam sebagai seseorang yang kurang akalnya lagi berdusta.

Kaum ‘Ad tidak kunjung bertobat atas kesalahan mereka. Justru kaum ini kian hari kian keras pembangkangannya. Kisah Nabi Hud alaihissalam yang menjawab tuduhan kaumnya ini diceritakan di dalam Quran Surah Al – A’raaf ayat 66 sampai 68.

“Sesungguhnya Kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta.”

“Wahai kaumku! Tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam.– Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.”

Bahkan, kaum ‘Ad sampai menuduh Nabi Hud alaihissalam telah tertimpa oleh penyakit gila yang berasal dari sesembahan mereka. Hal ini dilukiskan di dalam Al Quran surah Huud ayat 53 sampai 54.

“Wahai Hud! Kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu–Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu…”

Kisah Nabi Hud alaihissalam: Dibinasakannya Kaum ‘Ad

Karena sudah mengerasnya hati kaum ‘Ad hingga menjadi seperti batu, Nabi Hud pun akhirnya mengatakan bahwa ia telah berlepas diri dari segala tindakan maksiat mereka.

Nabi Hud alaihissalam sudah menyampaikan semua wahyu yang diberikan dari Allah kepada kaumnya. Maka ketidakpedulian kaumnya terhadap seruan Nabi Hud bukanlah tanggung jawabnya lagi.

Allah pun kemudian menurun azab kepada kaum ‘Ad berupa hawa yang sangat panas hingga membuat tanaman mereka menjadi mati, sungai dan sumur yang berubah kering serta hujan yang tidak kunjung turun.

Kemudian Allah mengirimkan kepada mereka awan hitam yang besar hingga kaum ‘Ad yang membangkang pun keluar dari rumahnya bergembira karena mengira awan hujan akan datang.

Nabi Hud pun menjawab seruan kegembiraan kaumnya dengan peringatan, “Itu bukan awan rahmat, tetapi awan yang membawa angin samun yang akan menewaskan kamu semua, angin yang penuh dengan siksa yang sepedih-pedihnya.”

Dari awan itu keluar angin yang dahsyat hingga memporak – porandakan kaum ‘Ad serta apa yang ada di sekitarnya. Angin dahsyat ini berhembus hingga 7 malam dan 8 hari tanpa henti yang membinasakan kaum ‘Ad. Sementara Nabi Hud serta pengikutnya berada di dalam rumah dan tidak tertimpa oleh azab angin rebut tersebut.

Hampir sama dengan kisah – kisah Nabi serta Rasul lainnya, Nabi Hud mengalami penentangan yang luar biasa keras dari kaumnya sendiri atas dakwah yang beliau sampaikan.

Meski begitu, dari kisah Nabi Hud alaihissalam ini kita bisa mengambil pelajaran penting terkait kesabaran dan ketakwaan untuk terus berdakwah di jalan Allah meski mengalami penentangan hebat dari manusia.