3 Kisah Nabi Harun Lengkap Dari Lahir Sampai Wafat

Kisah Nabi Harun
image by: suaramuhammadiyah.id

Warta News – Kisah Nabi Harun alaihissalam sangat erat kaitannya dengan kisah Nabi Musa alaihissalam. Pasalnya, Nabi Harun alaihissalam adalah saudara sekaligus pendamping setia bagi Nabi Musa alaihissalam saat Allah mengutusnya untuk berdakwah kepada Firaun dan kaumnya. Keduanya, baik Nabi Musa dan Nabi Harun adalah keturunan Imran.

Silsilah Keluarga dan Keturunan Nabi Harun

Nabi Harun alaihissalam adalah kakak dari Nabi Musa alaihissalam yang dilahirkan pada tahun 1531 SM dan hidup selama 123 tahun hingga tahun 1408 SM.

Nabi Harun alaihissalam diutus di Sinai di Mesir untuk berdakwah kepada kaum Bani Israil dan Firaun beserta pengikut-pengikutnya. Di dalam Al Quran, Nabi Harun alaihissalam disebut namanya hingga 20 kali.

1. Nabi Adam alaihissalam
2. Nabi Syits alaihissalam
3. Anusy
4. Qinan
5. Mihlail
6. Yarid
7. Nabi Idris alaihissalam
8. Matusyalih
9. Lamak
10. Nabi Nuh alaihissalam
11. Sam
12. Arfakhsyad
13. Syalih
14. Abir
15. Falij
16. Ra’u
17. Saruj
18. Nahur
19. Tarakh
20. Nabi Ibrahim alaihissalam
21. Nabi Ishaq alaihissalam
22. Nabi Ya’qub alaihissalam
23. Lawi
24. Azar
25. Qahats
26. Imran
27. Nabi Harun alaihissalam

Kisah Nabi Harun alaihissalam dimulai ketika saudaranya yakni Nabi Musa alaihissalam yang sebelumnya dirawat di dalam istana Firaun kemudian diangkat oleh Allah menjadi utusannya.

Nabi Harun alaihissalam hidup lebih lama 3 tahun dibandingkan Nabi Musa alaihissalam. Selama masa hidupnya, Nabi Harun alaihissalam terus menjadi pendamping yang setia untuk Nabi Musa alaihissalam dalam berdakwah.

Kisah Nabi Harun alaihissalam: Diangkat oleh Allah Menjadi Nabi

Sebelum Nabi Harun alaihissalam diangkat oleh Allah menjadi Nabi dan Rasul, saudaranya Nabi Musa alaihissalam telah lebih dahulu diangkat menjadi utusan Allah ketika Nabi Musa alaihissalam berada di lembah suci Thuwa.

Saat itu, Nabi Musa alaihissalam pergi naik ke bukit Thuwa karena melihat api dari kejauhan ketika ia sedang bersama dengan keluarganya untuk pergi kembali ke Mesir.

Api tersebut ternyata ada di sebuah pohon berwarna hijau yang dikenal dengan pohon Ausaj. Nabi Musa alaihissalam kemudian menerima wahyu langsung dari Allah di bukti Thuwa tersebut sebagaimana yang diceritakan di dalam Al Quran surah Ath – Thaaha ayat 11 sampai ayat 16.

“Wahai Musa.–sesungguhnya aku Inilah Tuhanmu, maka lepaskanlah kedua sandalmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci; Thuwa.– Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).–Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.–
Segungguhnya hari kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar setiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.–Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu menjadi binasa.”

Nabi Musa alaihissalam diceritakan dalam suatu riwayat memiliki masalah dengan lisannya sejak kecil. Oleh sebab itu ketika Allah memerintahkan Nabi Musa alaihissalam untuk berdakwah kepada kaumnya dan kepada Firaun yang mengaku sebagai Tuhan, ia pun meminta agar Allah mengangkat saudaranya yaitu Harun menjadi pendamping dan Rasul.

Allah pun mengabulkan permintaan Nabi Musa alaihissalam dan mengangkat saudaranya Harun menjadi Nabi dan Rasul Allah. Kisah Nabi Harun yang diangkat menjadi utusan Allah dijelaskan dalam Al Quran surah Ath – Thaaha ayat 25 sampai 35.

“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku–Dan mudahkanlah untukku urusanku,–Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,–Agar mereka mengerti perkataanku,–Dan Jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku,–(yaitu) Harun, saudaraku,–
Teguhkanlah dengannya kekuatanku,–Dan jadikankanlah dia sekutu dalam urusanku,–agar kami banyak bertasbih kepada Engkau,–dan banyak mengingat Engkau.–Sesungguhnya Engkau adalah Maha melihat (keadaan) kami.”

Tatkala Nabi Musa menyampaikan kabar tersebut kepada saudaranya, maka bahagialah Nabi Harun alaihissalam. Maka keduanya pun pergi ke istana Firaun untuk mendakwahkan Islam kepada Firaun. Nabi Harun alaihissalam bertugas sebagai penyampai atau penyambung lisan Nabi Musa alaihissalam karena ia dianggap lebih cakap dalam bertutur kata.

Kisah Nabi Harun alaihissalam: Menghadapi Pembangkangan Kaumnya

Allah pun menyelamatkan kaum Bani Israil dari kekejaman Firaun sehingga mereka bisa menyebrangi Laut Merah dan berjalan menuju tanah yang telah dijanjikan Allah kepada mereka.

Sepanjang perjalanan kaum Bani Israil ini menuju tanah yang dijanjikan, telah terlihat adanya bibit – bibit pembangkangan yang dilakukan oleh segelintir orang di antara mereka.

Saat itu Nabi Harun alaihissalam tetap setia mendampingi Nabi Musa alaihissalam. Sementara itu, di depan rombongan mereka ada malaikat Jibril yang menunggangi kuda memandu mereka menuju tanah yang dijanjikan.

Ketika rombongan kaum Bani Israil singgah di sebuah desa dengan penduduk yang menyembah sebuah patung berbentuk anak sapi, segelintir kaum Bani Israil pun mulai meminta hal aneh kepada Musa.

Segelintir Bani Israil meminta kepada Nabi Musa alaihissalam agar dibuatkan patung sesembahan untuk mereka seperti yang dimiliki oleh penduduk desa tersebut. Nabi Musa alaihissalam yang mendengar permintaan aneh kaumnya ini pun merasa marah dan geram. Apalagi, kaumnya ini baru saja diselamatkan oleh Allah dari kejaran Firaun dan tentaranya dengan terbelahnya laut Merah.

Seolah merasa tidak cukup, kaumnya ini terus saja tidak bersyukur dan telah tampak bibit kesyirikan di antara mereka. Pembangkangan Bani Israil semakin menjadi-jadi ketika Nabi Musa menitipkan kaumnya kepada Nabi Harun alaihissalam untuk menerima wahyu kitab Taurat dari Allah di bukit Thur.

Pada awalnya, Nabi Musa alaihissalam berencana untuk pergi selama 10 malam namun ditambah menjadi 40 malam. Sebelum berangkat, Nabi Musa alaihissalam telah menyampaikan pesan kepada Nabi Harun alaihissalam untuk menggantikannya sebagai pemimpin kaum Bani Israil dan perbaikilah tingkah laku mereka jika ada yang menyimpang.

Kemudian agar Nabi Harun alaihissalam tidak mengikuti jalan orang yang zalim. Sepeninggal Nabi Musa, Samiri yang menjadi bagian dalam rombongan Nabi Musa alaihissalam mulai mengompori kaumnya untuk mengumpulkan perhiasan emas. Perhiasan emas yang dikumpulkan tersebut akan ia lebur dan buat menjadi patung anak sapi yang mereka inginkan untuk menjadi sesembahan.

Kisah Nabi Harun alaihissalam yang terus menasehati kaumnya dan mencegah mereka untuk melanjutkan niat jahat mereka ternyata tidak menghalangi mereka untuk menunaikan niatnya. Nasehat dan perintah Nabi Harun alaihissalam tidak mereka dengarkan sama sekali karena mereka melihat Nabi Harun alaihissalam lebih lemah dari mereka.

Sementara itu, Samiri semakin menjadi – jadi terus membuat patung anak sapi yang dia inginkan dan melemparkan pasir bekas jejak kuda malaikat Jibril yang ia ambil sebelumnya. Patung anak sapi yang dibuat oleh Samiri itu disebut – sebut bisa mengeluarkan suara sehingga membuat kaum Bani Israil terkesima dan menyembahnya.

Ketika Nabi Musa alaihissalam telah kembali, ia pun merasa sangat geram dan marah melihat kelakuan kaumnya. Awalnya Nabi Musa alaihissalam menumpahkan kemarahan kepada Nabi Harun alaihissalam yang dianggapnya membiarkan kaumnya berbuat demikian. Namun Nabi Harun alaihissalam menyampaikan bahwa kaumnya memandang ia lemah sehingga tidak peduli dengan perintahnya.

Bani Israil menyampaikan banyak sekali alasan terkait tingkah laku mereka. Mereka mengatakan bahwa mereka melakukan hal tersebut karena merasa berat harus membawa beban – beban emas itu di pundaknya. Samiri pun kemudian memberi mereka ide untuk membuat patung sesembahan anak sapi.

Nabi Musa alaihissalam kemudian mengusir Samiri dari rombongan kemudian melemparkan patung anak sapi tersebut ke dalam api sehingga melebur menjadi abu. Abu itu kemudian Nabi Musa buang ke laut dan rombongan pun kembali melanjutkan perjalanan.

Kisah Nabi Harun alaihissalam mengajarkan kepada kita kisah mengenai kesetiaan dan ketakwaan di jalan Allah. Nabi Harun alaihissalam menjadi seorang pendamping yang sangat setia bagi Nabi Musa alaihissalam di jalan dakwah. Keduanya saling melengkapi, Nabi Musa alaihissalam dengan kekuatannya sementara Nabi Harun alaihissalam dengan kemampuan lisannya yang sangat baik.